Pembahasan kali ini dalam kajian “Asmaul Husna” ke-27 bernama “Al-Bashir“. Secara etimologi atau bahasa “Al-Bashir” bermakna Allah Yang Maha Melihat Segala yang besar dan halus, yang dekat dan jauh. 

Dalam kajian bahasa Arab kata “Al-Bashir” berasal dari kata ba-sha-ra, yang arti harfiahnya adalah “melihat”. Namun  dalam pengertian yang lebih luas, bashara bisa berarti ilmu atau kejelasan.

Nabi Yusuf, sebagaimana dikutip dalam Alquran, senantiasa melakukan dakwah kepada para terpidana dan petugas di lingkungan penjara dengan mengatakan, “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada Allah dengan bukti yang sangat jelas dan nyata (bashirah)” (QS. Yusuf: 108).

Di antara ayat lain yang mengupas zikir Al-Asma`ul Husna ini, firman Allah berbunyi, “Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan” (Al-Baqarah [2]: 96).

Ini juga ditegaskan pada ayat lain berbunyi, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat(An-Nisaa’ [4]: 58)

Realisasi zikir ini dalam keseharian dimana kita harus mampu berperilaku yang mencerminkan keyakinan bahwa Allah Maha Melihat, maka hendaknya kita berusaha semaksimal mungkin untuk dapat melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam ini sebagai bahan renungan akan kebesaran Allah SWT. Kita diajarkan untuk pandai dan cermat dalam memandang berbagai persoalan di sekeliling kita. Namun jangan lupa, kita juga harus selalu introspeksi diri untuk melihat kelebihan dan kekurangan kita sendiri agar hidup menjadi lebih terarah. Sungguh hal ini sangat indah untuk diamalkan.

Menelesuri dalam kajian tarekat Naqsyabandiah lewat zikir jenjang suluk, implementasi ini bisa dilakukan dengan pendekatan muraqabah, baik muraqabah mutlak, muraqabah af'al hingga muraqabah ma'iyah. Inti dari maqam zikir itu menghadirkan hati kita bahwa 24 jam Allah SWT selalu memperhatikan  kita sebagai makhluknya,  tentunya kita akan merasakan malu manakala melakukan dosa dan maksiat. Walaupun manusia tidak melihat, tetapi Allah SWT mengetahui dan melihat apa yang kita lakukan. Apabila ini kita hadirkan dalam jiwa kita tentunya maksiat dan dosa dapat diminimalkan.

Kelebihan Zikir Al-Bashir

Zikir ini sangat banyak kelebihannya, di antaranya:  

Pertama, seseorang membaca “Ya Bashir” 100 kali setelah shalat Jumat, Insya Allah akan diberikan kekuatan pada pandangan dan “nur” pada wajah orang tersebut.

Kedua, seseorang yang mewiridkan zikir “Ya Bashir”  sebanyak 100 kali sebelum shalat Jumat, Insya Allah akan menjadikan kita terang hati dan pikiran akan bertambah cerdas.

Ketiga, seseorang yang membaca “Ya Bashir” 100 kali berulang-ulang antara shalat fardhu dan yang utama setelah shalat Jumat, niscaya Allah akan menjadikan orang itu mulia dalam pandangan orang ramai.

Keempat, seseorang yang membaca “Ya Bashir”  100 kali sebelum shalat Jumat, Insya Allah hatinya akan terbuka dan selalu diberikan taufik dan hidayah dari Allah.[]