BANDA ACEH – Pertemuan Ilmiah Internasional serta Gelar Budaya Aceh 2016 (International Conference and Cultural Event (ICCE) of Aceh 2016), dilaksanakan di Melbourne, Australia, 14 sampai 29 September 2016.

Setelah pembukaaan Pameran “Transmemorabilia: the World of Mahdi Abdulah” (14/9), pada hari ketiga (16/9), kegiatan ICCE of Aceh 2016 berlanjut dengan agenda Aceh Documentary Film Festival (ADFF): “Aceh and the Acehnese”, yang berlangsung persis di seberang lorong Galeri dari pameran karya lukis Mahdi Abdullah.

Sumber di Melbourne menyebutkan, ada 3 rangkaian film yang ditayangkan, terdiri dari: “Dalae” [Singing of the Prayers], “Inong Silat” [Silat Girl] serta “Pelangi di Tepian Samudra” [Rainbow on the Edge of the Ocean]. Ketiga film tersebut merupakan hasil kerja kreatif anak-anak muda Aceh yang terhimpun dalam Aceh Documentary Foundation, berikut 7 film lainnya yang juga akan ditayangkan sebagai bagian dari agenda ADFF, ICCE of Aceh 2016.

Pelaksanaan perdana agenda ADFF ini sedianya dimulai pukul 2 siang waktu Melbourne (pukul 11:00 WIB), namun ternyata sedikit molor. Salah seorang penonton yang kebetulan juga berasal dari Aceh sempat nyeletuk dalam komunikasi online-nya: “Molor lagi…. sepertinya sudah perlu dipertimbangkan ‘budaya molor’ untuk segera didaftarkan sebagai warisan kebudayaan tak benda khas negeri dan kebangsaan kita, Indonesia.” katanya cengingisan… “just kidding” sahutnya lagi… “hehe”, tutupnya.

Namun demikian, coordinator penyelenggaraan ICCE of Aceh 2016, Bang Ari, sangat mensyukuri kecermalangan Ms. Yacinta Kurniasih, yang kebetulan bertugas sebagai moderator diskusi “Aceh and the Acehnese”, sebagai tema kegiatan ADFF – ICCE of Aceh kali ini, yang sangat piawai memandu acara tersebut, dari sejak mula hingga berakhirnya acara. Ms. Yacinta Kurniasih adalah salah satu pembimbing pembelajaran Bahasa Indonesia untuk para mahasiswa Monash University, baik S1, S2, hingga S3, yang berasal dari berbagai sebaran negara.

Teknis pelaksanaan ADFF di mulai dengan pengantar singkat beliau tentang Aceh, ICCE of Aceh 2016, serta informasi keseluruhan agenda ADFF, yang kemudian dilanjutkan dengan pengantar singkat tentang ketiga film yang akan di tayangkan. Setelahnya, diskusipun dimulai dan berakhir persis pukul 4pm (waktu Melbourne), sesuai perencanaan semula.  

“Hampir seluruhnya saya rekam, dan saya kira sangat baik untuk memandu ciri pemutaran film dan diskusi tentang Aceh maupun keberagaman Indonesia lainnya, khususnya untuk sisa 4 kali penayangan ADFF berikutnya,” kata Ari bersemangat.

Diskusi untuk ketiga film itu sendiri hanya sedikit mengeksplorasi teknis atau proses produksi film yang ditayangkan. Namun demikian, kritik terkait English subtitle (khususnya untuk film Pelangi di Tepian Samudra) terbukti juga meresahkan beberapa penonton yang tidak berbahasa Indonesia untuk dapat utuh memahami alur film tersebut.

Di salah satu sesi tanya jawab, salah seorang penanya yang kebetulan Doktor bidang Antropologi di Melbourne, ternyata masih menyisakan kebingungan atas beberapa pilihan kata atau kalimat bahasa Inggris yang dipakai dalam beberapa potongan dialog atau istilah yang dipergunakan untuk menjelaskan symbol atau rangkaian adat setempat yang difilmkan.

Walau demikian, para discusants atau nara sumber, sangat menikmati sekaligus memuji, baik alur dan narasi film yang berjudul “Inong Silat”, garapan by Mifta Yuslukhalbi and Nadia Susera asal Pidie, yang buat sebahagian yang hadir juga 'merinding' menikmatinya. Film ini mengetengahkan sosok Sri Noviani (30 tahun), perempuan tangguh asal Pidies yang tekun dalam berlatih sekaligus mengajarkan kesenian beladiri Silat.

Dengan pengetahuan dan keterampilannya yang luar biasa, Sri tidak hanya perlahan merubah pandangan masyarkat Aceh sebelumnya yang memandang Silat adalah harus laki laki – tabu dipelajari oleh wanita, namun juga sekaligus menginspirasi karakter tangguh perempuan Aceh yang terbukti nyata sejak perjuangan Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dhien, Po Cut Meurah, Cut Nur Asikin, dan seterusnya, dalam kesejarahan dinamika peradaban di Aceh.

“It is interesting to explore, if the current generations of Acehnese are unware, or intentionally dismiss this important aspect of their history”, demikian kutipan paparan dari Dr. Dewi Anggreini, salah satu discussant yang dihadirkan dalam penayangan perdana ADFF ini.

Dan Sri, dalam masanya kini, membuktikannya melalui berbagai prestasi cemerlang dalam kejuaraan-kjuaraan Silat, baik di Aceh maupun di even-even kejuaraan Silat tingkat Nasional. 

Demikianlah, diskusi memang hingga membahas kontekstual film yang ditayangkan, sesuai dengan tema ADFF-ICCE of Aceh kali ini: 'Aceh and the Acehnese.' (korespondensi elektronik jurnalis Portal satu dengan Bang Ari, Koordinator Penyelenggaraan ICCE of Aceh 2016)

Bahkan, diskusi kemarin menjadi 'hidup' dengan 'keterbukaan aktif' rekan-rekan mahasiswa serta keluarga asal Aceh yang sementara ini berdomisili di Melbourne. Nanda ‘Nando' Rizky Syahputra misalnya, mahasiswa Kajian Bisnis di Monash University, yang bahkan sempat ‘konser mendadak’, mendemonstrasikan potongan syair berbahasa Aceh yang dijelaskan sebagai bagian dari kekhasan tradisi berkesenian “Dalae” (singing of the prayers), film pertama yang ditayangkan di antara ketiga film untuk tayangan perdana ADFF-ICCE of Aceh 2016 ini.

Konser dadakan tersebut spontanitas terjadi seketika salah seorang penonton yang memintanya setelah akhirnya diketahui bahwa Nanda sebelumnya pernah menjadi pelaku tradisi ber- Dalae.

Serupa yang divisualisasikan oleh Arziqi Mahlil and Munzir, sutradara film ini, adalah salah satu kegiatan seni sekaligus ritual dalam keseharian masyarakat berbahasa ibu, Aceh, sebagai suku terbesar di antara suku-suku lainnya di Aceh (seperti: Aneuk Jamee, Jamu, Haloban, Gayo, Alas, Tamieng, Singkel, Simeulue, termasuk suku-suku diaspora Aceh lainnya yang juga melebur (seperti: Jawa, Batak, Bugis, Makasar, Ambon, dan seterusnya).

Serupa kesedihan yang muncul dalam film Pelangi di Tepian Samudra, semoga generasi Aceh kedepan setidaknya masih bias mengenali, syukur juga trampil sekaligus menguasai beragam tradisi berkesenian yang memberi karakter kebudayaan khas dalam keistimewaan peradaban di Aceh; demikian sambung Bang Ari. 

“Profesor Barbara Hatley, selaku discussant kedua yang hadir dalam penayangan perdana ADFF-ICCE of Aceh 2016 kemarin juga mempertegas, betapa yang dilakukan Aceh Documentary Fondation telah membawa gairah baru untuk membangkitkan kembali kecermerlangan Aceh sebagai bangsa terbuka, yang bangga mewarisi tradisi leluhurnya, baik melalui proses kerja kreatif film dokumenter maupun eksplorasi-eksplorasi tema yang tak terbatas ruang dan waktu, di seluruh pesisir dan pedalaman Aceh, desa dan perkotaan.

Hal tersebut disampaikan Barbara atas informasi Bang Ari yang sempat menceritakan bagaiman bergairahnya kawanan Aceh Documentary Fondation di Banda Aceh.

Tidak saja memproduksi film documenter, kawanan Aceh Documentary Fondation, juga menginsipirasi (kembali), bahkan masyarakt dunia, melalui tema-tema yang memperkenalkan Aceh (kembali) secara layak, sebagai Negeri yang Bermartabat, ‘Bumi Iskandar Muda,’’Serambi Mekah’, ‘Tanah Rencong’ –  Keuneubah Endatu Moyang.

Hingga tulisan ini diterbitkan, bersama segelintir relawan yang membantunya untuk penyelenggaraan ICCE of Aceh 2016 ini, Bang Ari dkk, sedang dalam masa persiapan akhir untuk semacam kegiatan festival bertajuk: “Gampong Aceh, Aceh: the Color of Indonesian Diversity”.

Kegiatan ini mengagendakan pelaksanaan worksop seni bagi 60 pelajar-mahasiswa dan warga di Melbourne, baik yang berwarga negara Indonesia maupun non Indonesia, Domonstrasi Kuliner Aceh, 2 sesi Narrative Stage, atau bincang santai untuk tema: i) Understandings of 'Traditional' and 'Modern' Art (apakah harus dibedakan dan bagaimana membedakannya, serta kemungkinannya untuk dapat terlihat menyatu); dan ii) The Relationship between Islam and the Arts, yang berkaitan dengan kehiduan sosial, politik dan kebudayaan di Aceh dan Indonesia umumnya, terutama atas dan untuk pertumbuhan seni atau karya budaya terkini yang kekinian.

Tema besar “Gampong Aceh, Aceh: the Color of Indonesian Diversity” ini sdianya akan digemakan melalyui Sastra Pertunjukan yang menampilkan penyair sekaligus aktifis perempuan untuk Aceh Zubaidah Johar, si ‘Meurah Gayo ‘ Fikar W Eda, dengan latar musikal musisi ‘Rangkaian Bunga Kopi’ yang mengikutsertakan Jassin Burhan (Celist), Yopi Andri (Biola Nandong Simeulue) serta Yoyok Harness (Sitar). Dari Aceh, Jakarta, Yogyakarta dan Bali, mereka akan berkolaborasi dengan penyair Indonesia-Australia yang tergabung dalam Jembatan Poetry Association, mewakili negara bahagian Victoria, Australia. 

Agenda selanjutnya adalah Pertemuan Ilmiah Internasional, bertema Exploring Aceh’s Culture to Foster Sustainable Development” selama tiga hari berturut-turut, mulai 26 s/d 28 September, yang akan dirangkai dengan Pameran Benda Budaya “Keunebah Endatu”, mulai sore hari pertama Pertemuan Ilmiah Internasional hingga berakhirnya nanti Desember 2016.

InsyaAllah, keseluruhan rangkaian ICCE of Aceh 2016 akan diakhiri dengan seni pertunjukan “Piyasan Aceh”, Rejoicing in the Arts of Aceh. Pertunjukan ini dipersembahkan oleh penggiat tradisi berkesenian yang tersebar dari beragam bidang profesi dan disiplin pengetahuan, menjangkau sebaran keberagaman masyarakat etnik di Aceh, yang terhimpun dalam jejaring pewaris budaya – Pusat Kajian dan Pengembangan Seni, Universitas Syiah Kuala [Center for the Arts of Syiah Kuala University].

Catatan:

Ari Pahlawi (Bang Ari) atau yang juga ‘gede rasa’ bila disapa ‘Teungku Ari’ ini, adalah alumni program studi Musikologi dari Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta. Program Magisternya beliau selesaikan di University of Hawai’i at Manoa untuk bidang Kajian Kebudayaaan Asia.

Saat ini belaiu sudah memasuki masa tahap akhir penyelesaian Program Doktornya di Monash University dengan konsentrasi keilmuan Etnomusikologi untuk kajian The Identity and the Dilemmas of the Malay Music-Culture of the Urang Pulo Islanders of the Banyak Archipelago, Sumatra: An Ethnographic, Socio-Historical and Music-Analytical Study.

ICCE of Aceh 2016 adalah kerja sukarela yang melibatkan banyak fihak, baik perseorangan maupun lembaga yang tersebar di Aceh, Jakarta, dan Melbourne. Kekhasan publikasi untuk kegiatan ICCE of Aceh 2016 terutama terlihat oleh design khas karya Pratitou Arafat, sarjana perencanaan tata kota yang juga alumnus Master of Landscape and Architecture dari the University of Melbourne, Australia.[]