Catatan kecil ini sebagai bukti bahwa kombatan (yang bergerilya dalam perang) bisa meredam dan menghapus dendamnya lewat hujan kata-kata, lewat narasi dan prosa.

Saya pilih kata kombatan karena agaknya si penyair yang akan kita ulas sedikit puisinya ini merupakan “pelaku” GAM  dua dekade lalu. Yang kemudian memilih garis pena dengan menerbitkan Novel Tenteura Atom (tahun?), disitu disebut catatan mantan Kombatan, dikenal kemudian nama akrabnya Thayeb Loh Angen.

Dalam puisi naratif (Rembulan dan Kecantikan) yang ia tulis dan publis di portalsatu.com/, tergambar dengan jelas pandangan hidup dan filsafat kecantikan yang ia yakini: //Jika cahaya menjadi lambang kecantikan, maka sesungguhnya mataharilah lambang kecantikan yang sejati// Tulisnya di paragraf ketiga.

Disini Tayeb membangun diksi cahaya yang tergantung pada sinar Matahari. Yang bertujuan untuk mengantarkan pengertian baru tentang hakikat kecantikan. Di paragraf keempat ia melanjutkan:
//Rembulan hanya memberikan cahaya sedikit dalam malam, tetapi matahari menghapuskan malam dengan cahayanya.//

Tayef menghayati dan menyimpulkan fakta utama bahwa Matahari  berperan lebih banyak, siang bersinar dan malamnya  cahaya dititip pada renbulan. Artinya matahari selalu Bekerja dan memberi makna.Maka janganlah terpukau Hanya karena cahaya Rembulan. Mestilah sampai pengertian kita yang asali bahwa pujian kita pada makhluk  “menuntun” kita (lewat tafakkur/sains) ke Pemilik/Pencipta segala makhluk:

//Apabila cahaya dipuja-puja karena memberikan kecantikan, maka sesungguhnya pencipta cahayalah yang terpuji: 
Dialah Pemilik kecantikan (Allah SWT)//

Demikian serpihan filsafat kecantikan dari puisi “Rembulan dan Kecantikan” oleh Thayeb Loh Angen. Dan itu akan terus berlaku: Tanpa ada keraguan akan hal itu yang tampak  lewat alur sintaksis puisi yang ia tuliskan.[]

Penulis: Taufik Sentana.
Peminat Prosa dan Kajian Kreativitas dalam Puisi.