FITNAH media begitu kejam sekali saat ini, apalagi kalau sudah gosipkan orang-orang baik, jujur dan shalih. Pasti di antara kita adalah orang-orang yang gemar membaca berita. Selain berita bola, senang pula membaca berita politik dan selebriti. Lebih-lebih yang senang dibaca adalah berita dari media mainstream tentang artis bercerai dan seputar rumah tangga artis yang rusak.
Jarang berita baik yang biasa diperoleh lewat koran atau gadget kita. Semua berita diperoleh seputar itu tadi. Sama halnya juga kalau ada pejabat yang korupsi, jadi kesenangan kita untuk mengikutinya hingga tuntas, hingga pejabat tersebut masuk dalam bui. Ada beberapa nasihat dalam menyikapi berita media.
Apalagi itu aib, lebih-lebih beritanya belum 100% benar, bisa jadi juga itu fitnah atau jebakan. Apalagi si pelaku mengaku bahwa ia tidak berbuat hal itu dan kita tahu dia adalah orang shalih yang jujur. Cobalah lihat bagaimana Allah perintahkan kita untuk mengecek berita terlebih dahulu. Jangan mudah-mudahan untuk menyebarnya sampai kita punya bukti yang kuat.
Allah Taala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6).
Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim berkata, “Allah Taala memerintahkan untuk melakukan kroscek terhadap berita dari orang fasik. Karena boleh jadi berita yang tersebar adalah berita dusta dan keliru.”
Karena kehormatan seorang muslim benar-benar harus kita jaga. Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah mengatakan pada khutbah beliau saat musim haji, “Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan sesama kalian itu terjaga sebagaimana kemuliaan hari ini, kemuliaan bulan ini dan kemuliaan negeri kalian ini.” (HR. Bukhari, no. 67 dan Muslim, no. 1679)
Coba lihat kerjaan para pencari berita saat ini. Jika ada artis atau pejabat yang terkena kasus, mereka tunggu seharian di depan rumah, berjejer menunggu berita apa yang bisa dibuat. Orang yang ingin diberitakan tidak ada di rumah, sudah jadi berita yang WAH. Belum jadi tersangka, sudah diisukan ini dan itu. Wallahul mustaan. Padahal dalam kitab suci kita telah diterangkan, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.” (QS. Al Hujurat: 12).
Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim karya Ibnu Katsir, tajassus -seperti kata Imam Al Auzai- adalah mencari-cari sesuatu. Ada juga istilah tahassus yang maksudnya adalah menguping untuk mencari-cari kejelekan suatu kaum di mana mereka tidak suka untuk didengar, atau menguping di depan pintu-pintu mereka. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.
Coba simak perkataan keras Nabi shallallahu alaihi wa sallam pada orang yang melakukan tajassus. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka) atau mereka berlepas diri dari hal itu, maka pada telinga yang menguping tadi akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 7042).
Dari Hafsh bin Ashim, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Cukup seseorang dikatakan dusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim, no. 5) Berarti dapat kita katakan, cukup seseorang dikatakan pendusta jika ia menshare setiap berita (yang tidak jelas) yang ia peroleh.[]Sumber:inilah




