JAKARTA – Sejumlah anak muda Aceh yang bekerja di industri Migas membentuk sebuah wadah bernama Profesional Migas Aceh (PMA). Lembaga tersebut bertujuan untuk saling terhubung dan berbagi informasi.

Dalam siaran pers yang dikirim kepada portalsatu.com, Rabu, 13 April 2016 malam, hingga saat ini keanggotaan PMA sudah mencapai 81 orang. Mereka tersebar di berbagai tempat, baik nasional maupun internasional.

Forum ini kemudian diisi dengan berbagai diskusi secara on air maupun off air (kopi darat), mengenai potensi dan tantangan pengembangan migas Aceh ke depannya di berbagai kesempatan waktu senggang dari setiap anggotanya. Dari forum informal ini juga tercetus keinginan untuk membentuk organisasi atau asosiasi formal, yang dapat menjadi sarana bagi setiap anggotanya memberikan kontribusi pemikiran dan tenaga untuk industri migas, khususnya di Aceh.
 
Forum PMA secara resmi dideklarasikan di Fakultas Kopi, Senayan Jakarta pada Selasa, 12 April 2016 malam. Forum sepakat memilih Ibnu Hafizh sebagai Presidium PMA untuk periode pertama ini.
 
Acara tersebut turut dihadiri Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), Marzuki Daham. Hadir juga Azhari Idris dari SKK MIGAS atas undangan PMA. 
 
“BPMA memiliki tugas yang sangat berat, tugas ini akan terasa ringan apabila mendapat dukungan dari semua pihak termasuk dari PMA. Tantangannya saat ini adalah bagaimana menciptakan kondisi yang secara prosedural aman dan nyaman bagi investor untuk melakukan kegiatan eksplorasi guna menemukan cadangan migas baru di Aceh. Apakah masih ada yang mau mencari minyak di Aceh? Pertanyaaan inilah yang akan menjadi PR besar BPMA,” kata Marzuki Daham.
 
Dia mengatakan sektor migas ibarat seorang nelayan yang mencari ikan di laut. Selama nelayan tersebut mau untuk melaut, maka kemungkinan untuk mendapatkan ikan itu masih ada. Tetapi jika tidak ada lagi yang melaut maka jangan harap ada stok ikan yang bisa dinikmati bersama. 

Menurutnya wadah untuk pengelolaan Migas yang benar, yang telah direstui oleh Pemerintah melalui PP No.23 tahun 2015, menjadi titik balik positif yang harus dikawal secara bersama, baik para pelaku migas maupun masyarakat umum di Aceh.
 
“Intinya kegiatan eksplorasi (pencarian) yang dilakukan sekarang ini adalah merupakan cadangan migas yang akan kita wariskan untuk generasi 30-40 tahun kedepan,” katanya.
 
Sementara itu, Ibnu Hafidz mengatakan PMA akan membentuk struktur organisasi dan program-program yang dapat sejalan dengan kebijakan pemerintah. Salah satunya untuk mengembangkan kemampuan sektor Migas Aceh.
 
“Alhamdulillah Aceh tidaklah kekurangan SDM dari berbagai disiplin ilmu untuk menunjang kegiatan sektor migas, inilah momentum yang bagus untuk kita untuk saling bersinergi membangun Aceh dari belahan dunia manapun,” kata Ibnu Hafizh selaku Ketua PMA terpilih.
 
Dia turut mengundang semua pihak, seperti akademisi/universitas, jurnalis, mahasiswa, elemen pemerintahan di Aceh, NGO, dan seluruh elemen rakyat untuk melupakan segala perbedaan. 

“Marilah kita dukung BPMA ini sekuat tenaga untuk Aceh yang lebih baik. Namun juga jika suatu saat BPMA ini melakukan penyimpangan, PMA lah yang harus menjadi garda terdepan mengkritisi kinerja BPMA,” ujar Ibnu Hafizh. [](bna)