BANDA ACEH – Bau khas durian menusuk hidung saat saya bersama keluarga melintasi kawasan Keudah menuju “Kota Tua” Peunayong, Banda Aceh, Minggu, 9 Juli 2017 malam. Sudah dua hari terakhir aroma buah dengan kulit berduri ini “merayu” pengguna jalan, di sudut-sudut kota Banda Aceh. 

“Ini durian asal Lamno,” ujar salah satu pedagang kepada saya, sembari menggoda agar isi kantong saya keluar.

Lelaki paruh baya itu kemudian menunjukkan satu buah durian seraya menusuk pisau dapur yang berujung runcing ke pangkal buah.

“Nyo kon boh drien Lhong, boh drien Lhong tabeu,” kata pria itu lagi yang ternyata sudah membuka durian tadi.

Aroma khas “King of Fruit” itu pun kembali mengganas di hidung saya. Saya kemudian mencoba mencicipi Durio zibethinus asal Lamno–dulu adalah wilayah Kerajaan Daya–ini langsung di tempat, tepatnya di bilangan jalan di samping eks-LP Keudah, Banda Aceh. Para pedagang durian ini diduga “bersekutu” dengan penjual kue pulot panggang. Hal ini terbukti ketika kami melahap durian, sepiring pulot panggang “melenggang” datang ke meja kami.

Alhasil, dua buah durian plus sepuluh pulot panggang habis kami santap dalam sekejap mata. Pedagang yang saya duga asal Lamno ini menjual durian-durian tersebut seharga Rp25 ribu per satuannya. Sementara satu pulot panggang dibanderol seribu rupiah.

“Totalnya Rp70 ribu. Dua durian Rp50 ribu, air botol mineral dua buah Rp10 ribu, dan sepuluh pulot panggang Rp10 ribu,” kata pedagang tersebut.

“Rupa jih bak dron di duk raseuki lon malam nyo,” kata pedagang itu lagi sembari tersenyum puas, meninggalkan saya yang memandang isi dompet pecahan Rp100 ribu berpindah tangan.[]