Selasa, Juli 23, 2024

Dinkes Gayo Lues Keluhkan...

BLANGKEJEREN - Dinas Kesehatan Kabupaten Gayo Lues mengeluhkan proses pencairan keuangan tahun 2024...

H. Jata Ungkap Jadi...

BLANGKEJEREN – H. Jata mengaku dirinya ditunjuk Menteri Dalam Negeri (Mendagri) menjadi Pj....

Bandar Publishing Luncurkan Buku...

BANDA ACEH - Penerbit Bandar Publishing Banda Aceh meluncurkan sekaligus dua karya Dr....

Rombongan Thailand Selatan Kunjungi...

BANDA ACEH – Delegasi dari berbagai lembaga di Thailand Selatan mengunjungi Kantor Partai...
Beranda Kolektor Muda...

[FOTO] Kolektor Muda Aceh Masykur Syafruddin Bicara Sejarah di Singapura

SINGAPURA – Kolektor manuskrip dan artefak Aceh, Masykur Syafruddin, yang merupakan mahasiswa Prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, mengikuti acara Haritage and Humanities, Warisan dan Kebaikan, yang diselenggarakan oleh National Institute of Educations NIE, di Nanyang Technological Uuniversity Singapura dengan UIN Ar-Raniry, pada 24 Juni – 1 Juli 2018.

Pada laman jejaring facebook.com akun Luengputu Manuskrip Aceh miliknya, Masykur mengatakan, kunjungannya tersebut bertujuan untuk memperkenalkan tentang sejarah dan kebudayaan Islam Aceh dari periode Sumatra (Samudra Pasai) di bawah dinasti Shalihiyah serta tinggalan heritage berupa mata uang dan batu nisan, Kesultanan Aceh Darussalam.

“Saya memperkenalkan tinggalan heritage berupa mata uang dan batu nisan Kesultanan Aceh Darussalam semasa Sultan Ali Mughayat Syah hingga periode Sultan Mansur Syah, juga memperkenalkan kegiatan kerja atau usaha Pengurus Mapesa dan Pedir Museum dalam menyelamatkan khazanah Islam di Aceh,” kata Masykur, yang juga sebagai anggota Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa), sekaligus Direktur Pedir Museum.

Selama di sana Masykur juga tak lupa membagi-bagikan booklet Pedir Museum tentang khazanah Islam dari Aceh dalam koleksi Pedir Museum.

Dalam kunjungannya ke Singapura, ia selama di sana juga sempat berkunjung ke Museum Nasioal Singapore, perpustakaan nasional, dan lain-lain.

“Alhamdulillah pagi ini adalah sesi berbagi dan mendapat kesempatan untuk menunjukkan tentang sejarah budaya Islam Aceh,” kata Masykur ketika di ALC (Bahasa Asia dan Budaya) Room (Asian Language and Culture) NIE

 Masykur mengatakan menyelamatkan khazanah Islam Aceh juga adalah tanggung jawab semua masyarakat Aceh.

 “Aceh harus bangkit dari ketertinggalan dan kelalaian dalam masalah kebudayaan dan heritage,” pesan Masykur.[]

Baca juga: