SIGLI – Aceh bumoe aulia, sebuah ungkapan yang sering terdengar. Menandakan Aceh ini banyak para ulama dan waliyullah yang pernah hidup di bumi indatu ini.

Keberadaan mereka terkadang tidak meninggalkan jejak dan bukti tertulis. Hanya batu nisan saja yang tersisa. Saat penulis menelusuri di wilayah tanah kelahiran sendiri di Gampông Lamkawe, Kembang Tanjung, Pidie, berdasarkan pengamatan salah seorang pemerhati sejarah yang tergabung dalam Mapesa, masih terdapat nisan-nisan dari periode abad 16 hingga awal abad 18 Masehi.

“Lamkawe sejak 5 abad silam bahkan lebih awal lagi telah didiami oleh tokoh-tokoh zaman Kesultanan Aceh Darussalam,” kata Mizuar Mahdi Al-Asyi sang penggiat sejarah Mapesa itu.

Berdasarkan pengamatan, nisan tersebut yang telah ada berkisar abad ke-16 M dan 17 M. Ini menandakan di Gampông Lamkawe telah berdiri pusat pendidikan agama berupa dayah sejak empat abad lebih. Setidaknya ini menjadi batu loncatan untuk menghidupkan kembali mercusuar yang sempat bersinar di Gampông Lamkawe, Pidie.[]