KAMIS 2 Maret 2017 adalah hari bersejarah bagi dunia penyelamatan artefak batu nisan Aceh di Banda Aceh.
Museum Aceh bekerjasama dengan Mapesa memindahkan batu nisan besar milik Amidul Mulk –julukan ini setara dengan perdana Menteri– yang wafat 996 H/1588 M. Batu nisan tersebut tidak lagi pada tempatnya karena di kompleks tersebut dibangun kantor PU Kota Banda Aceh.
Sepasang batu nisan besar yang beratnya diperkitakan satu ton itu, adalah sisa yang belum diselamatkan oleh Mapesa karena keterbatasan kemampuan. Sementara puluhan batang nisan yang berukuran kecil telah diselamatkan ke sekretariat Mapesa di Gampong Bitai, Meuraksa, Banda Aceh, tahun 2013 lalu.
Pemindahan nisan besar Amidul Mulk itu ke Museum Aceh dalam rangka persiapan Pameran Batu nisan Aceh pada awal Mei 2017 selama enam hari di Museum Aceh, dilaksanakan oleh Museum Aceh bekerjasama dengan Mapesa.
Kemarin, sebelum mengambil sepasang batu dengan dua kali angkut itu, Museum Aceh mengambil sebatang batu nisan yang telah diselamatkan ke kantor PDAM Montala Keutapang.
Awalnya, dua hari lalu, petugas teknik di sana, Teuku Nur Azmi, menemukan nisan itu di rumah penduduk sekitar Lhoknga, kemudian, ia membawanya ke kantornya, lima tahun lalu. Keberadaan nisan ini kemudian diketahui Tim Pameran (Batu Nisan) Museum Aceh.
Almuniza, pengurus Museum Aceh lalu meminta timnya untuk mengambil nisan itu. Selain nisan itu, Ketua Mapesa, Mizuar Mahdi, juga meminta Tim Pameran untuk menyelamatkan batu nisan besar Amidul Mulk yang di Pango.
Kesemua nisan tersebut kini sudah berada di lokasi Museum Aceh untuk pameran mendatang.[]



