BerandaNewsFrans Delian; Laskar Digital Berperan Dalam Menangkal Hoax

Frans Delian; Laskar Digital Berperan Dalam Menangkal Hoax

Populer

BANDA ACEH – Kepala Biro Humas Pemerintah Aceh Frans Delian mengatakan, blogger dan laskar digital Aceh memiliki peran dalam mengimbangi berbagai pemberitaan negatif mengenai Aceh. Para aktivis media sosial ini menurutnya, mampu menyajikan informasi dengan perspektif berbeda, sehingga bisa menjadi informasi pembanding bagi orang-orang yang mencari tahu tentang Aceh.

Hal itu disampaikan Frans dalam acara Kopdar #MedsosPositif yang dibuat @iloveaceh dan Genpi Aceh dalam rangka milad ke-7 komunitas @iloveaceh di Keude Kupi Aceh (KKA) Banda Aceh Sabtu petang, 4 Maret 2017.

Frans mencontohkan, salah satu isu yang sering menjadi sorotan adalah yang berkaitan dengan penerapan syariat Islam di Aceh. Dalam hal ini misalnya pelaksanaan hukum cambuk yang oleh sejumlah pihak dinilai bertentangan dengan HAM. Kondisi ini katanya membuat Aceh mendapatkan imbas politik yang berkaitan dengan isu SARA.

“Kalau sudah ada informasi mengenai hukum cambuk, Kedutaan Indonesia di luar negeri para duta besarnya selalu mendapatkan pertanyaan mengenai hal ini, baik resmi ataupun tidak,” kata Frans.

Agar informasi yang tersebar tidak menjadi kabar bohong (hoax) pihaknya di Pemerintah Aceh sedapat mungkin melakukan upaya pencegahan. Misalnya dengan melakukan sosialisasi rutin terkait syariat Islam di Jakarta. Namun kata tida, tetap saja ada media-media yang sengaja mengangkat isu ini dengan tidak berimbang dan cenderung merugikan Aceh.

“Dalam hal ini blogger kita sangat berperan. Banyak orang luar akhirnya mendapatkan informasi lain dari blogger mengenai kondisi Aceh. Mereka sadar akhirnya apa yang mereka baca di media mainstream tidak selamanya benar,” katanya.

Terkait kondisi ini, pengelola komunitas @iloveaceh sekaligus Wakil Koordinator Genpi Aceh Aulia Fitri sebelumnya mengatakan, kehadiran laskar digital ini diharapkan bisa membantu kerja pemerintah khususnya di bidang promosi industri pariwisata Aceh.

Topik kali ini menurutnya memang sengaja mengangkat isu mengenai sosial media, karena banyak berita-berita bohong atau hoax umumnya menyebar di media sosial. Aulia menjabarkan, berdasarkan survey yang dibuat Masyarakat Telematika Indonesia, sebesar 90,30 persen responden berpendapat bahwa kabar hoax memang sengaja dibuat. Survey ini dibuat pada pertengahan Februari lalu dengan melibatkan seribuan responden, dengan durasi waktu 48 jam.

Selanjutnya, hasil survey Mastel mengenai Wabah HOAX Nasional ini, sebesar 61,60 persen responden menyebut hoax sebagai berita yang menghasut, dan 59 persen sebagai berita yang tidak akurat.

“Bentuk hoax yang paling sering diterima dalam bentuk tulisan sebesar 62,10 persen, gambar 37,50 persen dan video 0,40 persen. Sementara media penyebaran terbesar hoax itu adalah melalui media sosial, diikuti aplikasi chatting baru kemudian melalui situs atau web,” katanya.

Untuk isu, politik memimpin jenis hoax paling besar diterima masyarakat, kedua isu SARA, disusul isu kesehatan dan sejumlah isu lainnya.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya