__”Ada yang menyebut, kegagalan hanyalah jalan memutar. Ia kadang menjadi hukuman dari kelalaian atau kesalahan kita sendiri, tergantung pada prinsip nilai yang kita yakini, lalu darinya kita berbenah dan memperbaiki”___
Oleh Taufik Sentana*
Mungkin saja dunia akan tertawa dengan kegagalan kita. Orang orang di sekitar kita juga mencibir, merendahkan dan menjadikan kita contoh yang buruk. Padahal gagal bisa saja sebagai tahapan yang “mesti” dialui.
Tak ada yang bersih dari gagal, dalam bidang apapun, kegagalan selalu menyertai. Sebagian kita terpuruk dan hancur karena gagal, sebagian lagi melecut diri untuk lebih berbenah, mengubah arah dan memperluas perspekrif.
Ada yang menyebut, kegagalan hanyalah jalan memutar. Ia kadang menjadi hukuman dari kelalaian atau kesalahan kita sendiri, tergantung dari prinsip nilai yang kita yakini.
Dalam ukuran normatif, kegagalan tak menjadi aib bila ia datang dari proses usaha dan jalan menempuh pencapaian.
Kegagalan yang dapat dipahami akan membuka jalan baru dan solusi lain. Beberapa kegagalan memang ada yang layak dihindari karena berimbas pada orang banyak dan berjangka panjang, seperti gagal dalam perkawinan. Tapi inipun bukan berarti kehancuran, masih besar peluang perbaikannya.
Disebutkan pula, kegagalan di bawah usia empat puluh tahun adalah kewajaran,belajarlah memahami dan menemukan sudut pandang. Adapun kegagalan setelah usia ini, mesti berhati hati, dengan tetap fokus pada visi perbaikan dan pertumbuhan diri serta memperbaiki sisi sisi yang diperlukan. Bila ini terlewatkan, mungkin dibutuhkan usaha yang lebih besar untuk bangkit dan bergerak mencapai tujuan.[]
*Pegiat pengembangan SDM




