Kiranya gairah diadaptasi dari bahasa Arab, “ghirrah”. Bisa bermakna semangat, dorongan kuat atau kecenderungan minat yang dalam akan satu hal. Berdasarkan makna ini, antusiasme yang sering dinukil dalam motivasi populer sepertinya sepadan. Konon diyakini bahwa gairah dan antusiasme menjadi faktor penentu keberhasilan dalam bidang apapun, seperti marketing, presentasi, pengajaran, hubungan dan bahkan hubungan ke diri sendiri atau cara pandang ke dalam diri.
Orang yang beriman memahami bahwa gairah tumbuh karena ketataan, atau dipupuk dengan kebaikan, kebenaran dan harapan tinggi.
Hilangnya gairah pada satuan waktu kita dimungkinkan karena adanya tekanan keburukan atau realisasi capaian yang tak sesuai, maka diperlukan memandang diri dan mempresepsi lingkup hidup kita dengan bingkai yang lebar agar kita dapat terus mengeksplor segala potensi yang baik dan tepat bagi pertumbuhan kita.
Langkah umum untuk menyalakan kembali gairah dan antusiasme dalam aktivitas kita bisa diawali dengan mengenali penyebabnya. Bila tak dimulai dari sini, kita bisa saja memulainya dari memperbanyak kebaikan, mengerjakan hal baru atau aktivitas lama yang positif. Dalam poin ini, kadang perlu sedikit pemaksaan diri, agar kita tidak terlena dalam kelemahan.
Setelah itu kita bisa tetap fokus pada hal hal yang bisa kita kembangkan dan kendalikan dari kuadran/aspek hidup kita. Bagaimanapun kita mesti meyakini bahwa capaian materiil yang sering jadi ukuran awam hanyalah kesementaraan. Maka selalu diperlukan sandaran bagi setiap orientasi kita, Dialah Rabb Yang Maha Tinggi, Dialah Sumber gairah kita.[]
Taufik Sentana
Ikatan Dai Indonesia. Aceh Barat
Bergiat di Pengembangan SDM.


