Oleh: Alwi Shahab
Sepak bola merupakan olahraga favorit bangsa Indonesia. Sayangnya, prestasi Indonesia makin terpuruk di laga internasional. Bahkan, melawan Laos yang sampai 1990-an sepak bolanya tidak dikenal, Indonesia keok 2-0. Demikian juga saat melawan Vietnam yang sampai 1970-an masih berperang dengan AS. Padahal, Indonesia pernah berpeluang besar lolos ke Piala Dunia, sebelum memilih mundur karena Israel.
Sayangnya, sepak bola Indonesia kini sudah tidak diperhitungkan, seperti medio 1950-an dan 1970-an. Keputusan Presiden (Kepres) No 263 Tahun 1963 yang mengharuskan Indonesia untuk menjadi 10 besar dalam bidang olahraga dalam 10 tahun mendatang membuat prestasi di bidang olahraga cukup terdongkrak. Bagi Bung Karno, kejayaan Indonesia dalam bidang olahraga akan mencuatkan nama negeri ini di dunia internasional.
Ada beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan pemerintah untuk mengembangkan hal ini, termasuk membuat 30 persen warga negara untuk secara aktif menjadi bagian-bagian dari kegiatan bidang ini. Pengintensifan program olahraga di sekolah dasar dan pembangunan, termasuk kelengkapan secara materiil. Olahraga, menurut Bung Karno, harus menunjang revolusi Indonesia yang menjadi mercusuar di dunia.
Masa keemasan sepak bola Indonesia bukan hanya menahan Uni Soviet 0-0 di Olimpiade Melbourne, Australia, pada 1956, nama Indonesia juga berkibar di Asia. Prestasi Indonesia di era Saelan, Ramang, Djamiat, Liong Houw, dan Kiat Sek pada 1958 menjelang kejuaraan sepak bola piala dunia di prakualifikasi, Indonesia berhasil menghajar Cina 2-0 di Jakarta.
Pada pertandingan ulang di Beijing, Indonesia kalah 3-4. Untuk menentukan juara, pertandingan ketiga diadakan di negara netral, Birma. Kedua kesebelasan bermain imbang 0-0 dan Indonesia dinyatakan sebagai juara.
Tapi, kemudian prestasi itu terhenti. Bukan karena kalah, tapi lagi-lagi soal politik.
Indonesia menolak bermain melawan Israel. Karena, FIFA menolak usul Indonesia agar pertandingan diselenggarakan di negara netral tanpa lagu kebangsaan, maka gagal lah Indonesia ke Piala Dunia.
Pada 1953 dalam Indonesia Far Eastern Tour di Manila, Indonesia menang 8-0 atas Football League. Di Hong Kong yang kala itu memiliki regu-regu sepak bola terkuat di Asia, Indonesia mencundangi Hong Kong 4-2 dan Hong Kong All Chinese 5-0.
Lalu, bagaimana dengan Thailand dan Vietnam yang selalu mencundangi Indonesia? Saat itu, awal 1950-an, baru dalam taraf pembinaan. Sedangkan, Arab Saudi dan Jepang belum mengenal sepak bola. Sementara kekuatan negara-negara Afrika yang pemain-pemainnya kini banyak berlaga di Liga Eropa, sampai 1960-an, negara-negara Afrika masih dijajah.
Sepak bola Indonesia mulai menurun ketika seorang bandar judi dari kota bernama Lo Bie Tek menyuap para pemain kita. Kini, disinyalir skor pertandingan Liga Indonesia bisa diatur karena adanya wasit-wasit yang menerima suap. Tentu saja, hal ini tidak bisa dibiarkan dan harus ada tindakan tegas terhadap mereka. Bagaimanapun sepak bola Indonesia harus bisa bangkit kembali.
Demikian juga, prestasi kita dalam bidang olahraga lainnya. Pada Asian Games XVI di Guangchow, RR Cina, November 2010, Indonesia berada di urutan 15 dengan koleksi 26 medali. Empat medali emas, sembilan medali perak, dan 13 medali perunggu.
Pada AG empat tahun sebelumnya (2006), kita terjun bebas hanya meraih dua emas, empat perak, dan 14 perunggu. Sedangkan AG 2014 yang digelar di di Incheon, Korea Selatan, kontingen Indonesia mengumpulkan 20 medali. Perinciannya, empat medali emas, lima medali perak, dan 11 medali perunggu.
Sementara, bulu tangkis yang pada 1950-an sampai 1980-an milik Indonesia, kini beralih ke RR Cina dan Korea. Padahal, bulu tangkis di Cina dimulai ketika pemain-pemain Indonesia lapis kedua hijrah ke negeri leluhurnya setelah terjadi PP 10/1959. Peristiwa rasialis yang menyebabkan ratusan ribu warga Cina hengkang ke RRC, termasuk para pemain bulu tangkis.
Ganefo pada Agustus 1962 Indonesia menyelenggarakan Asian Games II di Jakarta. Pekan olahraga ini dijadikan ajang bagi Bung Karno untuk memperlihatkan pandangan politiknya.
Meski didesak dan diancam oleh KOI (Komite Olimpiade Internasional), dia tetap tidak mengizinkan Israel dan Taiwan ikut serta. Selaku tuan rumah, Indonesia berada di urutan kedua setelah Jepang dengan 21 medali emas, 26 perak, dan 30 perunggu.
Ketika KOI memprotesnya, Bung Karno langsung menyatakan Indonesia keluar dari komite itu. Dia pun menyelenggarakan Ganefo (Games of the New Emerging Forces) yang oleh Bung Karno dinyatakan sebagai alat perjuangan politik di bidang olahraga dan menandingi OKI.
Ganefo dengan semboyan Onward! No Retreat (Maju Terus! Pantang Mundur), berlangsung 10 sampai 22 November 1963. Diikuti 2.200 atlet dari 48 negara Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa (Timur). Lima rekor dunia dipecahkan oleh atlet RRC dan Korea Utara.[] Sumber: republika.co.id






