Oleh Taufik Sentana
(Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan(al-birr), akan tetapi sesungguhnya kebajikan (al-birr)itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta…) Alquran.
Rangkaian ibadah haji akan sampai pada puncaknya saat wukuf di padang arafah. Padang luas yang mengisyaratkan konsolidasi ummat, pertemuan akbar dalam jamuan akbar yang penuh kebersamaan, perjuangan dan ketaatan. Bila bekal berhaji adalah takwa, sebagaimana ayat “khairazzadittaqwa”, maka kepulangan orang-orang berhaji (hujjaj) adalah kepulangan dengan membawa buah takwa.
Buah takwa yang terbaik ialah Ihsan, sebagaimana mashur dalam hadis Jibril”, yaitu sikap ketaatan paripurna, lengkap dan utuh. Sepadan dengan sebutan haji sebagai penyempurna keislaman. Walau tentu, menjadi muslim saja tidaklah cukup, bila iman belum menancap di sanubari, bila tapak-tilas jejak rasul utama (Ibrahim AS dan Muhammad SAW) tak memberi bekas ketuhanan dalam aspek perilaku sosial
Rangkaian Simbol.
Banyak kaum intelek skolastik muslim yang sangat tuntas membahas ritual haji sebagai drama attraktif spiritualis, yang menampilkan interaksi simbol-simbol gerak, disamping bahasa. Misal, pakaian ihram sebagai lambang penolakan superioritas, sa'i sebagai perjuangan, hewan qurban yang disembelih sebagai lambang melawan nafsu kebinatangan.
Ritual haji juga menampilkan simbol kehidupan jejak spiritual Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Nabi Muhammad. Puncaknya, kepulangan sang haji disimbolkan sebagai sungai-sungai yang mengairi bumi.
Para guru dan asatiz kita juga sering menyampaikan bahwa semua rangkaian ibadah haji memiliki ibrah yang sejatinya melekat di kedalaman batin para penempuhnya (mereka yang berhaji, mengunjungi ka'bah dalam niat untuk ibadah). Bila ibadah haji hanya sebagai bangunan ritual semata, maka takkan banyak yang bisa diharapkan dari kehadiran kembali para hujjaj di tanah air. Yang tampak hanyalah bayangan karnaval religi dalam menuntaskan peran personal.
Tidak Terjebak dalam Keasyikan Personal.
Bila ibadah haji berhenti hanya sebagai simbol ritmik kolosal, dan terjebak dalam keasyikan individual, maka adakah manfaat kepulangan para hujjaj bagi perbaikan masyarakat kita?. Padahal ibadah haji diyakini sebagai bahasa simbolik ilahi dalam memberi energi baru kemanusiaan kita (baca kuantum haji.taufiksentana @portalsatu).
Adapun gelar haji yang tersematkan kemudian, pada mulanya hanyalah penanda pihak Belanda dalam mengantisipasi gerakan kaum berhaji dalam menyikapi penjajahan mereka di tanah air (1906, gelar haji mulai digunakan).
Dengan sebutan “haji”, semakin mudah pihak Belanda menemukan sumber ancaman yang paling mungkin. Apalagi, saat itu keberhajian seseorang mengindikasikan kedalaman ilmu agama Islam dan kekuatan sosial-ekonominya.
Hatta lewat gelar haji dan belajar di tanah suci pula kaum muslim di Aceh terkelabui oleh misionaris Belanda.
Maka melalui tulisan singkat ini hendaknya kita dapat kembali memaknai perjalanan haji sebagai ibadah yang aktif (sebagaimana ritus yang ada di dalamnya, semisal tawaf, melempar jumrah ), agar kita tidak terjebak dalam simbol belaka dan kehilangan substansinya. Demikian pula dengan sebutan Buk Hajjah atau Pak Haji bagi mereka yang kembali dari dari tanah suci.
Taufik Sentana.
Guru di MTs Harapan Bangsa dan Anggota Tim Mutu di Yayasan Almaghribi, Meulaboh. Staf Ikatan Da'i Indonesia.





