OLEH: THAYEB LOH ANGEN
Penyair dari Sumatra, Aceh.

Para aktivis dari kalangan bersenjata (GAM) dan intelektual yang kini tersebar di berbagai partai politik dan profesi, hendaknya segera membuat konsensus politik untuk Aceh. Cukuplah sekian kalian berpura-pura bodoh.

Manusia memiliki pertimbangan-pertimbangan di dalam berbagai perihal, mulai dari yang kecil sampai ke yang besar. Dari perihal tentang perseorangan sampai yang terkait orang banyak.

Perihal-perihal itulah yang kemudian ditulis di dalam buku, dibicarakan di kedai kopi, di rumah, di masjid, di organisasi pendidikan, dan sebagainya.

Perihal yang menyangkut keseimbangan sebuah negara kemudian dijadikan undang-undang. Perihal-perihal serupa pun dijadikan bahan perjanjian antar orang, organisasi, dan negara.

Segala sesuatu perlu disepakati dengan berbagai pertimbangan, pada saat keadaan biasa-biasa saja.

Seluruh perihal pertimbangan itu tidak berguna sama sekali tatkala terjadi bencana alam, seperti bencana gempa di Turkiye. Semua itu tidak ada artinya ketika terjadi bencana alam seperti bencana tsunami di Aceh.

Pertimbangan politik menjadi rujukan utama, dalam keadaan biasa-biasa saja dan terkendali sebelumnya. Perihal itu menjadi tidak berarti sama sekali ketika dihantam bencana buatan manusia seperti bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang.

Ada beberapa bencana alam dan bencana buatan manusia yang mengubah arah sejarah dunia. Pengubahan sikap politik akan mengubah peradaban.

Di antara peristiwa tersebut, ada yang secara langsung mengubah sejarah Aceh. Ada juga yang tengah terjadi sekarang, berakibat secara tidak langsung untuk Aceh. Peristiwa bencana tersebut, di antaranya adalah:

  1. Bencana Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004

Bencana yang terjadi dalam beberapa menit ini telah mengubah sejarah di Aceh.

Pada saat itu tengah terjadi perang gerilya secara besar-besaran antara pasukan keamanan Negara Indonesia dengan pasukan gerilyawan GAM (Gerakan Aceh Merdeka).

Itu perang yang menjenuhkan kedua belah pihak. Setelah peperangan dengan berbagai status dari 1998 sampai tahun 2003, peperangan itu diteruskan dengan status darurat militer, diteruskan dengan darurat sipil.

Itu perang yang membosankan, menguras tenaga dan pikiran, menguras  harta rakyat dan uang negara.

Bencana tsunami itu menyebabkan ditandanganinya kespahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) di Helsinki, Finlandia, pada 15 Agustus 2005 (MoU Helsinki).

Di sini, kita tidak akan mereka-reka bahwa perdamaian itu terjadi karena ada skenario dari negara adidaya setelah gas di Aceh Utara habis dikuras, atau hal lainnya. Tidak.

Dalam hal ini, kita memegang satu prinsip dasar, yaitu, “Apa yang terbukti itulah yang sebenarnya terjadi. Tidak ada bukti, tidak ada kenyataan.” Oleh karena itu, teori konspirasi, tidak dijadikan rujukan analisis di sini. Kita mengikuti logika berpikir menurut data yang ada.

Perang itu telah lama tidak mampu dilanjutkan. Jenuh, lelah, takut, hilang harapan, telah mendera pasukan kedua belah pihak. Namun, perang itu tidak juga diakhiri.

Perang dilancarkan di medan pertempuran, tetapi keputusan memulai perang atau meneruskannya selalu berada di atas meja para politisi, bukan di medan pertempuran para tentara.

Pada saat terjadi bencana tsunami, terbukalah peluang untuk kedua belah pihak yang bertikai supaya duduk kembali di meja perundingan. Sesuatu yang telah diupayakan sejak tahun-tahun awal peperangan.

Bencana yang meluluhlantakkan beberapa pesisir Aceh itu telah mengubah cara pandang orang-orang perang tentang peperangan saat itu.

Mereka berpikir, kita berperang sudah sekian lama, hanya beberapa ribu orang yang meninggal dunia, tetapi bencana tsunami, air laut itu telah membunuh lebih dari seratus ribu orang, hanya dalam sekali hempas.

Keangkuhan kita hilang tatkala bumi yang kita pijak bergetar.

  1. Bom Atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki Jepang

Dua buah bom atom dijatuhkan oleh tentara Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, pada 6 dan 9 Agustus 1945. Salah satu peristiwa sabotase terbesar sepanjang sejarah ini telah mengubah wajah dunia sampai sekarang.

Amerika Serikat sebagai peserta perang yang negerinya jauh dari medan peperangan serta ikut terlibat belakangan pun menjadi pemenang perang Dunia II secara telak. Baik di timur maupun di barat, Amerika Serikat menang secara bersamaan.

Di Barat, Amerika Serikat bersama sekutunya memenangkan perang melawan pasukan adidaya Negara Jerman yang dikuasai oleh Partai NAZI pimpinan Adolf Hitler yang tengah merebut seluruh wilayah Eropa.

Di timur tenggara, Amerika Serikat memenangkan perang melawan Jepang yang telah merebut sebagian wilayah Asia timur tenggara dan tengah merebut wilayah Tiongkok dan Rusia.

Kita tidak ingin memperpanjang uraian tentang perang Dunia II yang kita semua telah tahu. Intinya, Amerika Serikat sebagai negara peserta perang yang datang belakangan dan negerinya jauh dari medan pertempuran, memenangkan perang secara telak.

Begitu perang Dunia II usai, sebagai pemenang perang dari datang dari seberang benua, negeri-negeri Amerika Serikat tidak terkena dampak perang. Pemenang pun mengambil ribuan ilmuwan NAZI serta hasil penelitiannya ke Amerika Serikat menjadikannya sebagai negara adidaya dalam bayangan Uni Soviet sebagai penyeimbang.

Perang Dunia II telah membuat Republik Indonesia terbentuk, Jepang menjadi penguasa tunggal di Asia Tenggara. Termasuk di wilayah Hindia Belanda setelah pasukan kaisar Jepang mengusir Belanda.

Jepang juga menguasai Aceh secara penuh. Kekalahannya dengan Amerika Serikat dan sekutunya membuat Jepang melepaskan semua tanah taklukannya, termasuk Aceh. Kita semua tahu apa yang terjadi di Aceh setelah itu.

Seluruh Asia Tenggara yang tadinya di bawah Jepang pun menjadi wilayah kekuasaan Amerika Serikat, secara tidak langsung.

Setelah Uni Soviet runtuh, Amerika Serikat menjadi negara adidaya (superpower) tunggal, yang belakangan baru ada bayang-bayang jauh Tiongkok (Cina) dan Rusia).

Dua buah bom telah menghentikan perang, mengubah sejarah dan wajah dunia. Tidak ada yang menyoalkan itu.

  1. Gempa di Turkiye

Telah terjadi gempa bumi magnitude 7,7 di Gaziantep, Turki, dan sebagian Syam (Suriah), Senin, 6 Februari, 2023. Gempa tersebut telah mengorban jiwa puluhan ribu orang dan menghancurkan kota-kota sampai rata dengan tanah.

Itu salah satu bencana terbesar bagi Negara Turkiye, yang mengundang simpati dunia secara serentak. Baik dari negara sahabat maupun dari negara yang sebelumnya berseteru dalam kepentingan geopolitik kawasan Eropa. Semua membantu. Kemanusiaan masih memenangkan hati dan pikiran manusia.

Yeni Turkiye

Dalam agenda politik Negara Turkiye, yang sebelumnya terdengar, bahwa tahun 2023 adalah Yeni Turkiye (Turkiye Baru). Sudah seratus tahun keruntuhan Turkiye Usmaniyah yang berpemerintahan Islam dan didirikannya Negara Republik Turkiye yang berpemerintahan sekuler.

Itu program yang telah disiapkan sekian lama, sejak pemerintahan awal Recep Tayyip Erdogan.

Telah tejadi beberapa peristiwa yang sebelumnya dianggap akan membuat Yeni Turkiye tidak berhasil. Ada unjuk rasa yang dimulai di Taman Gezi, Istanbul dan diinginkan meluas, tetapi terhenti. Ada pula kudeta 15 Juli 2016 yang digagalkan oleh rakyat. Ada juga perang dengan sekelompok pemberontak Kurdi, dan sebagainya, perihal-perihal yang menguras tenaga dan pikiran pemerintah Turki.

Kini, telah terjadi bencana besar, gempa bumi yang dahsyat. Dalam sepekan korban bertambah sampai puluhan ribu orang. Itu akan menguras tenaga dan pikiran pemerintah Turkiye. Pemulihan mental rakyat dan pembangunan kota kembali akan belangsung lama. Setidaknya, tidak akan selesai dalam seratus hari.

Besar kemungkinan, sepanjang tahun 2023, pemerintahan Turki yang dipimpin oleh salah satu orang terkuat di dunia abad XXI ini, Recep Tayyip Erdogan, akan mengarahkan seluruh sumber daya yang ada untuk memulihkan bagian negerinya yang dihantam gempa bumi pada awal tahun ini.

Menguatkan dan merayakan Yeni Turkiye pun ada kemungkinan akan diabaikan, setidaknya tidak akan semeriah yang direncanakan. Tidak mungkin berpesta di tengah kemalangan.

Gempa bumi ini, telah mengganggu harapan Yeni Turkiye, sebuah harapan akan kembali gemilangnya Negara Turki di dunia. Turkiye harus berhenti sejenak untuk memulihkan diri sendiri dan membuat rencana baru.

Bagaimana dengan Aceh?

GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan RI (Republik Indonesia) telah membuat konsensus baru dengan menandatangani MoU Helsinki.

Yang menjadi masalah besar sekarang bagi Aceh adalah, pihak Aceh, yang dipimpin oleh para aktivis tidak membuat konsensus di dalam Aceh sehingga pembangunan sosial politik, budaya, ekonomi masyarakat Aceh tidak memiliki arah.

Program visi misi gubernur terpilih—bukan penjabat gubernur—bukanlah konsensus politik. Para aktivis dari kalangan bersenjata (GAM) dan intelektual yang kini tersebar di berbagai partai politik dan profesi, hendaknya segera membuat konsensus politik untuk Aceh. Cukuplah sekian kalian berpura-pura bodoh.[]