Di Pameran Lukisan itu, Kayu-kayu Bernomor dari Hutan Gunung Tersangka yang Sakti
Oleh: Thayeb Loh Angen
Penyair dari Sumatra
Siang itu, aku melintasi Krueng Daroi yang bersejarah, menuju Taman Seni Dan Budaya Aceh yang berwibawa. Sesampai di halaman beranda hadapan Gedung Teater Tertutupnya, seperti biasa, di sana terdengar suara mesin kendaraan di jalan raya sebelah barat pagarnya.
Deru-deru itu menelan kicau burung miriek (manyar: Jawa, Ploceus: Latin) yang memperdengarkan senandung alam. Burung-burung kecil berwarna coklat muda itu sering terlihat hinggap di dedahanan pohon-pohon penghijauan di kota Banda Aceh, yang puitis.
Di hadapan beranda yang telah dipasang atap sementara dan dikelilingi papan bunga ucapan selamat, beberapa orang terlihat dengan kegiatannya masing-masing pada siang itu, Selasa, 11 Februari 2026/23 Syaban 1447 H..
Terlihat pelukis Zul MS tengah menggurat sebuah salinan lukisannya dengan cat berwarna coklat. Dia menambahkan gambar bebatang kayu di permukaan salinan lukisan berlatar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, yang bersejarah.
Zul MS adalah seorang pelukis yang berasal Pontianak dan memilih bermukim di Aceh. Dia sekarang menjadi salah seorang pelukis terkemuka dan senior di Aceh.
Dengan khidmat, laki-laki itu menghadap lukisannya, tidak menoleh ke kiri ke kanan. Dia hanya melihat dari tempat cat ke salinan lukisannya. Aku tidak mahu mengganggunya dengan menyapa sekarang. Aku membatin.

“Biarkan dia berkarya dulu. Ilham (inspirasi) untuk sebuah karya tidak mudah dikumpulkan. Biarkan dulu, dia akan lama di sana.”
Aku pun masuk ke ruang pameran gedung itu. Ada ratusan lukisan dalam berbagai ukuran terpampang di dindingnya. Dua orang gadis penjaga di meja dekat pintu memintaku menuliskan nama di buku tamu. Mereka tidak mengenalku.
Di dalam ruangan pameran dengan lima bagian sekat tersebut, kuperhatikan lukisan itu satu per satu. Hal seperti ini tidak kulakukan saat mengunjungi pameran lukisan sebelumnya di tempat lain. Kali ini sengaja ingin kuamati secara seksama.
Selain karya Zul MS berupa lukisan bertema budaya yang indah dan mengesankan, di sana terlihat karya beberapa pelukis lain. Ada karya Bunda Yusra yang melukiskan alam. Beberapa lukisannya memiliki makna tersendiri terhadap benda yang dilukiskan.
Selain karya dua pelukis ini, terlihat pula beberapa lukisan dari pelukis lain dari kalangan senior dan mahasiswa. Ada juga beberapa karya seni pahat, patung. Aku tidak menyebut lebih banyak tentang karya-karya tersebut karena tidak berjumpa dengan pelukisnya saat itu.
Dari lukisan-lukisan yang dipamerkan ini, terlihat sebagiannya masih berupa karya untuk berlatih, sebagian lagi karya yang sudah memiliki gaya tersendiri. Secara tajuk, sebagian lukisan tentang budaya asli Aceh, sebagian lagi mengambil dari budaya luar Aceh, seperti gambar perempuan berdarah, ninja, patung setan, dan sejenisnya. Itu percobaan yang berani, tetapi seniman seyogianya bertapak di bumi, ada budaya dalam karyanya.
Tentang Acara Ini
Acara ini bertajuk “Pameran Lukisan dan Galang Amal untuk Bencana, Aceh Berkarya dan Beramal”, dilaksanakan pada 10 – 12 Februari 2026, dimulai dari pagi sampai malam, di Taman Seni Dan Budaya Aceh, Jalan Teuku Umar, Banda Aceh.
Ketua Panitia, Iwan Setiawan, mengatakan, pameran tersebut menghadirkan karya lukis terbanyak daripada acara serupa yang pernah dibuat sebelumnya di wilayah ini. Ada 111 lukisan yang ditampilkan.
Para maestro lukis yang memiliki kedekatan dan kepedulian terhadap sesama umat, sebagai sesama saudara, hadir untuk sekadar menjadi penawar luka, untuk Aceh, menampilkan karya terbaiknya. Semoga cepat pulih dan bangkit.
Kata Iwan, pameran lukisän yang dikelola secara swadaya dengan kemandirian para pelukis sendiri ini adalah bentuk ruang ekspresi betapa kayanya Aceh.

“Dengan segala keberagaman warna-warni Aceh dan keunikan tanamannya, dihantarkan oleh Dr Ahmad Garli SpDVE FINSDV FAADV, seorang maestro lukis sekaligus dokter senior Aceh. Lalu disahuti Bunda Yusra (Yusra Mayawati, S.Pd, M.Ed), seorang aktivis pendidikan serta pemilik Yayasan Pendidikan Bayyinah,” kata Iwan Setiawan.
Kata Iwan, pameran juga diisi keberanian seorang pelukis wanita muda, Nur Bayyinah Fathin, yang hadir di antara para pelukis senior untuk mewakili generasi gen Z. Dengan karyanya yang unik, Bayyinah Fathin memberikan alternatif dengan warna untuk industri kreatif dari jalur seni rupa.
Kata Iwan, pelukis senior Zul MS, yang sudah pernah mengisi pameran lukisan di kancah nasional dan internasional ikut menampilkan beberapa karyanya. Pameran diperkuat oleh Ismawan, S.Sn., M.SnS.Sn., dengan satu karya patung dan lukisan. Ismawan adalah seorang dosen senior seni rupa di Universitas Syiah Kuala (USK).
Itulah keunikan pameran kali ini, kata Setiawan, selain dengan jumlah karya terbanyak dengan berbagai warna, adanya satu rasa yang dieratkan oleh penggagas, dan dikuratori oleh dirinya sebagai ketua panitia secara mandiri.
Kata Iwan, acara yang digagas secara swadaya ini juga menggelar workshop lukis secara gratis bagi siapa yang ingin belajar. Workshop yang menghadirkan pembimbing profesional itu diadakan selama tiga hari berturut-turut.
Di dalamnya dibedah berbagai hal, mulai dari pembuatan frame, merestorasi lukisan, sampai diajarkan bagaimana cara mengelola atau menyelenggarakan pameran karya seni rupa.
“Ini adalah acara amal, kita mengumpulkan bantuan untuk korban bencana banjir raya pada akhir 2025,” kata Iwan Setiawan yang juga pemilik komunitas musikalisasi puisi Kosma.

Kita kembali ke lukisan.
Aku mengamati lukisan di ruangan itu satu per satu. Di satu ruangannya yang agak tertutup, tetapi sinar matahari dapat masuk melewati dinding kaca beningnya di sebelah barat daya, masih terasa bau cat.
Setelah merasa cukup melihat-lihat lukisan, aku keluar dan berdiri di dekat Zul MS yang masih melukis. Setelah menyadari aku datang, dia pun menoleh dan menyapa.
“Saya telah ke Gayo Lues. Kayu-kayu besar yang terpotong rapi itulah yang menghantam rumah, jalan, jembatan,” kata Zul MS seraya terus menggurat cat coklat ke salinan lukisannya, membentuk potongan kayu besar memenuhi permukaan salinan lukisan. Setelah itu, dia berhenti sejenak dan berbicara dengan bersemangat.
Gaya pelukis kita ini memang harus bersatu langsung dengan sumber lukisannya dulu baru melukiskan sehingga lukisannya terasa hidup dan bercerita.
Dia telah meilihat langsung salah satu tempat yang paling parah dihantam bencana banjir, di pegunungan Gayo Lues. Kayu-kayu besar itu terlihat sebagai hasil dipotong oleh manusia dengan mesin canggih, diduga dilakukan oleh orang yang kaya dan berkuasa.
Yang mengherankan, walaupun kayu-kayu itu menjadi tersangka utama penyebab bencana banjir raya yang membunuh lebih seribu orang dan merusak harta benda senilai triliunan Rupiah, tetapi tidak ada yang menuntutnya dan itu pun tidak menjadi berita utama di media-media.
Lebih lagi, bencana yang diduga akibat perusakan hutan secara sengaja dan dilakukan terus menerus, ditandai dengan ribuan batang potongan kayu besar, itu tidak ditetapkan sebagai bencana nasional.
Ini mengingatkan kita akan kata Meggy Z,
“Sungguh teganya dirimu. Teganya teganya teganya teganya, …” dalam lagunya yang berjudul “Senyum Membawa Luka”.
Kalau dalam kasus kita ini, “kayu membawa luka (bencana)”. Kayu-kayu bernomor dari hutan gunung itu menjadi tersangka yang sakti. Tidak ada yang berani menuntut penebangnya. Itu menjadi rahasia umum, yaitu sesuatu yang setiap orang mengetahuinya, tetapi tetap menjadi rahasia.
Sampai tulisan ini disiarkan, aku belum mendengar ada satu pihak aktivis lingkungan pun yang menggugat perusahaan penebang kayu hutan Aceh ke pengadilan, baik pengadilan negeri ataupun pengadilan syariah.
Pelukis hanya dapat menggugat dengan lukisannya, penyair hanya dapat menggugat dengan syairnya. Namun, lukisan dan syair (puisi) adalah karya seni yang tidak dapat menjadi bukti ataupun bahan gugatan ke pengadilan di negeri ini.
Bunda Yusra dan Zul MS terlihat menggugat itu melalui lukisan mereka. Dari beberapa lukisannya, sepetinya Zul MS memilih aliran realisme dan impresionisme untuk karyanya. Sementara Ahmad Darli dan Bunda Yusra beraliran realisme dan romantik.
Setelah beberapa saat aku dan Zul MS berbicara, seorang perempuan muncul dan menyaksikan Zul MS melukis.
“Kayu bernomor,” katanya.
Kemudian baru kutahu itu ialah Bunda Yusra yang lukisannya termasuk yang telah kuperhatikan dengan seksama di dalam ruang pameran tadi. Salah satu lukisannya sesuai tajuk pameran ini, tentang bencana banjir raya akhir 2025 lalu.
Semua lukisan yang dipamerkan itu menarik untuk dilihat dan diresapi makna dan keindahannya. Para pelukis telah bekerja keras untuk melahirkan karya terbaik mereka.
Di antara seratus sebelas lukisan tersebut, selain karya Zul MS, kutanggapi dua lukisan saja di sini.
Pertama, lukisan boh kuyuen (jeruk nipis) yang dilukis Bunda Yusra. Itu buah yang berasa masam, tetapi di lukisan, itu menjadi buah masam yang terlihat indah.
Lukisan boh kuyuen itu mengingatkanku pada masa kecil dahulu. Aku pernah memakan boh kuyuen dan juga meminum air perasannya bersama gula. Itu terasa asam. Rasa asam boh kuyuen dan manis gula tetap terpisah walaupun telah dicampur.
Lukisan ini menyampaikan kepada kita bahwa keindahan itu adalah sudut pandang. Semua yang diciptakan oleh Allah itu berguna untuk manusia, semuanya perlu disyukuri. Bahkan buah masam pun akan terlihat manis di dalam lukisan. Itulah seni.
Kedua, lukisan bunga mawar merah muda berlatar hitam yang dilukiskan oleh Ahmad Garli. Dia melukiskan bunga mawar beraroma wangi dan terlihat indah sebagaimana adanya bunga.
Ahmad Garli menampilkan kuntum kelopak mawar mekar dengan putik benihnya di tengah, untuk mempertahankan kesan keindahan yang penuh misteri. Jika dia menyertakan bagian lain, dikhawatirkan akan mengalihkan kesan. Misalnya, jika Garli memasukkan duri di batang, bisa saja lukisan itu akan menampilkan kesan sebagai tangkai duri yang berbunga.

Lukisan ini menandung keindahan yang penuh misteri. Kita tahu bahwa mawar merah muda adalah tentang keindahan, tetapi keindahan itu hanya bahagian yang tampak di depan. Sementara di sekelilingnya dan di belakangnya itu kelam, gelap gulita.
Mengunjungi pameran lukisan seperti ini dapat membangkitkan jiwa seni bagi para seniman dan membangkitkan rasa peduli bagi siapapun yang bersedia memahaminya.
Maka, berterima kasihlah kepada para pelukis, yang dengan jiwa seninya yang halus telah menghadirkan gambar yang indah kepada kita. Keindahan yang diambil di antara segala rahmat Allah Taala dalam berbagai bentuk, baik itu kita nilai sebagai sebuah anugerah yang indah ataupun bencana yang mengerikan. Wallahu aklam.
Banda Aceh, 11 Februari 2026/23 Syaban 1447 H.
Thayeb loh Angen
Penyair dari Sumatra.[]









Terimakasih Bg atas kunjungan ke ruang pamer’ kami, serta Support nya, tanpa berkolaborasi sulit bagi kami untuk bergerak dan BANGKIT..serta ber_Peduli dg sesama lewat karya
Trimakasih sudah berkunjung dan menulis dengan seksama indahnya. Semoga senirupa di Aceh terus berkembang dan hangat di kalangan masyarakat, dan semoga kita bisa berkontribusi ikut memulihkan keadaan saudara-saudara kita yang sedang berduka bencana. Aamiin