MENGUNJUNGI Misbah, kenangan saya mengendap ke puluhan tahun yang lalu (sekitar tahun 1997). Sebuah potret harapan ummat yang tumbuh dari mimpi para pendiri, asatidz dan warga setempat. Sebuah lembaga belajar dengan sebutan modern, yang merambat dari balik bukit paloh dan lumpur tanah liat, dari hanya 7 orang siswa hingga mencapai 1500-an alumni lebih (1993-2018), dari hanya menerima dua kelas, hingga sanggup menerima 14 kelas pertahun, ialah Misbahul-Ulum, pesantren modern di balik bukit Paloh, Lhokesumawe.
Bila saat itu saya datang untuk memulai pengabdian dan berupaya memberikan warna bagi perkembangan Misbah (sedapat mungkin) bersama rekan asatidz lainnya, kini kedatangan saya dalam rangka mempercayakan Misbah untuk menjadi bagian penting dalam pendidikan anak kedua saya. Ini akan menjadi awal yang berat, karena jarak tempat kami tinggal di Aceh Barat dengan lokasi Misbah di Lhokseumawe, juga menjadi pengalaman yang berat bagi si anak untuk berpisah setamat SD dengan jarak sejauh itu.
Maka berkelebatlah semua ingatan dan gambar tentang Misbah yang dulu, balai-balai kayu yang hampir lapuk, kamar guru yang sempit dengan triplek tua, beberapa kontainer bekas (dari Arun), tangga asrama dari kayu yang rawan roboh, hamparan tanah liat dan beberapa bangunan semi permanen, dan tentu saja beragam memoar interaksi dan aktivitas pendidikan di dalamnya yang telah terjadwal rapi. Aktivitas pendidikan inilah (rangkaian aktivitas edukatif yang tidak hanya di kelas), yang masih terus bergulir hingga kini dengan sedikit perubahan. Aktivitas edukatif ini telah menjadi sistem nilai tersendiri yang menjadi kunci pengembangan kepribadian para santri.
Bila tampak ketimpangan dan margin error dari capaian kegiatan tersebut, tidaklah mewakili dari apa yang telah dicapai oleh pendidikan Misbah secara umum. Margin error tersebut hanya menyisakan keikhlasan dan niat baik untuk perbaikan pendekatan program pembinaan yang selazimnya berlangsung terus-menerus. Sebab, apa yang diberikan Misbah telah menjelma menjadi bekal dasar para lulusannya untuk menapaki laju hidup yang global dan penuh tantangan modernitas (Baca: Memoar Bangga Jadi Santri, Hermansyah & Zamzami, Ed. Bandar Publising, 2018) Di antara lulusannya telah mencicipi udara pendidikan di beberapa negara luar, dari Mesir, India, Jerman, Cina, Jepang, Korea, Finlandia, Qatar, dan Hongkong. Demikian juga kiprah para alumni di berbagai sektor sosiologis di Aceh, dari lembaga akademik, lembaga swasta hingga lembaga pemerintahan. Semuanya telah membawa pijar cahaya LAMPU dari pesantren Misbahul-Ulum.
Dari episod Misbah 1993-2018 tersebut, telah membuktikan perjalannya yang tidak singkat, dan telah melahirkan beberapa angkatan (saya menyebutnya generasi setelah mereka dibina selama enam tahun), di mana setiap generasi memiliki karakter zamannya sendiri. Kata generasi juga mengindikasikan upaya utama pendidikan (Islam) dalam rangka mewariskan masa depan ummat dengan semua variabelnya ke pundak para alumninya.
Kualitas dan Tantangan
Kata cahaya merefleksikan salah satu makna dan fungsi kenabian, Sirajan Munira, misi Risalah Islam pun mutlak terwariskan bagi setiap generasi Misbah. Kata tersebut merangkum semua fungsi kebaikan yang diharapkan; pengetahuan, keterampilan dan akhlak mulia. Jadi kualiatas cahaya itu, arah yang jelas, memandu dan menenteramkan. Itulah generasi Misbah yang bercahaya dan mencahayai lingkungannya. Itulah kualitas metafor dari apa yang layak dicapai oleh setiap lulusaannya setelah ditempa bertahun-tahun.
Dari segi pengetahun, sistem pendidikan Misbah terintegrasi dengan ragam cabang ilmu, begitulah idealnya; dari ilmu Islam Murni, pengetahuan umum, sains dan keterampilan. Kualitas inilah yang pernah dicapai pada era keemasan Islam hingga akhir abad 12, di mana para ilmuwan mereka mengusai ragam ilmu yang non linear, yang dikuasai secara berjenjang dari penguasaan Quran, hadits, pengetahuan khusus, sains dan rekayasa/teknologi, beberapa dari mereka mengambil spesialisasi seperti Imam Bukhari, tetapi tetap mengedepankan Alquran sebagai ruh utama capaian akdemik mereka, demikian pula Ibnu Khaldun menguatkan agar kiranya Alquran menjadi yang paling penting dikuasai sebelum anak beranjak dewasa (SD-SMP). Kini Misbah telah menjadikan program Quran menjadi bagian dari sistem kurikuler mereka, suatu langkah tepat dan strategis.
Sedangkan dari segi keterampilan, pendidikan Misbah tidak hanya menyiapkan keterampilan teknik semata, tetapi juga keterampilan sosial yang menjadi bagian penting berorganisasi dan mengelola sumber daya manusia dari tahap yang rendah hingga yang tertinggi, dari ketua kamar, ketua organisasi, hingga menjadi guru (lewat praktik mengajar di akhir pendidikan).
Sebagai wadah pendidikan Islam dan penyiapan generasi, Misbahul-Ulum menyisakan tantangan, yang kiranya tantangan itu yang akan menjadikan Misbah lebih besar di tengah zaman yang melaju cepat dan penuh materialisme. Di antara tantangan paling berat adalah, bagaimana menghadirkan sosok guru/asatidz yang mukhlish, yang menjadikan santrinya majraa Ibnihi (bagai anaknya, demikan ungkap Imam Ghazali), dengan mengedepan bimbingan personal, keteladanan dan pembinaan yang intens, utama bagi kelas senior 5-6.
Di samping itu, sangat penting pula merancang suatu pola pembiasaan adab Islam yang lebih kental dan terkontrol, dari perilaku bangun tidur, makan-minum, sikap bicara, membuang sampah atau tidak merokok. Hingga nyata Misbah dapat menjadi cahaya dari perilaku keseharian para santri dan asatidz mereka.
Dalam menyikapi laju modernitas, Misbah diharapkan dapat mengembangkan rangkaian program belajar yang multimedia dan sejalan dengan pengembangan program berbasis penajaman spiritual lewat shalat dhuha, puasa sunah, tahajjud yang dirancang terorganisir untuk menghidupkan hati dan spiritualitas para santri.
Demikianlah, warga masyarakat dan dunia akan selalu menantikan taburan cahaya generasi Misbah yang muncul dari sela bukit Paloh. Dan harapan itu juga harapan saya pribadi selaku wali santri yang baru saja mempercayakan anaknya mengecap pendidikan di Misbah. Semoga![]
Taufik Sentana, Pernah Berkhidmat di Misbah Periode 1997-2003, sebagai pembina disiplin Bahasa, Pembina Bakat, Organisasi&Asrama, Wali Kelas dan Inisiator pertama santri ekselerasi (loncat Kelas) bagi santri berbakat. Kini Menetap di Meulaboh.





