Minggu, Juni 23, 2024

Jelang Pilkada Subulussalam, Fajri...

SUBULUSSALAM - Komunikasi elit partai politik jelang Pilkada Subulussalam mulai terlihat intens. Terbaru,...

Jemaah Haji Aceh Dipulangkan...

BANDA ACEH – Jemaah Haji Debarkasi Aceh (BTJ) akan dipulangkan dari Arab Saudi...

Kapolsek Baru Bongkar Sabu...

LHOKSEUMAWE - Kapolsek Dewantara Ipda Fadhulillah bersama anggotanya berhasil menangkap pemuda berinisial MM...

Pilkada Subulussalam: Resmi Daftar...

SUBULUSSALAM - Bakal Calon Wali Kota Subulussalam, Fajri Munthe menyerahkan berkas pendaftaran sebagai...
BerandaNewsGeRAK Sorot Dua...

GeRAK Sorot Dua Proyek Diduga Terbengkalai di Aceh Barat

ACEH BARAT – Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh Barat menyoroti pembangunan peningkatan jaringan irigasi Gampong Alue Diam, dan rekonstruksi jembatan gantung Cot Punti Kecamatan Woyla Timur, Aceh Barat.

Pasalnya, kedua proyek disebut menelan dana APBK mencapai Rp4,9 miliar itu diduga terbengkalai. “Saat ini tidak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” kata Koordinator GeRAK Aceh Barat, Edy Syahputra, kepada portalsatu.com, Jumat, 28 September 2018.

Edy menyebutkan, berdasarkan penelusuran pihaknya, dari data dokumen pelelangan tahun 2016, diketahui pembangunan jaringan irigasi Alue Diam menggunakan dana Rp2,2 miliar. Sedangkan pembangunan rekonstruksi jembatan Gantung Cot Punti Rp2,7 miliar bersumber dari APBK 2017.

Menurut Edy, indikasi kedua proyek tersebut terbengkalai, pertama, tidak berfungsinya pintu air sehingga sawah tidak teraliri air sebagimana mestinya. Selain itu, dinding beton bangunan irigasi juga terkesan tidak tuntas pengerjaanya.

Edy menilai, terbengkalainya proyek irigasi di Alue Diam tersebut menyebabkan seratusan hektare lahan sawah produktif di Kecamatan Woyla Timur kekeringan. Sebelumnya direncanakan proyek irigasi Alue Diam mengaliri ratusan haktare sawah milik petani di Gampong Cot Punti, Aleu Empeuk, dan Pasi Jenang. Sayangnya, kata Edy, proyek irigasi Alue Diam itu tidak berlanjut sejak dibangun 2016 lalu.

Sementara itu, lanjut Edy, setelah dibangun kondisi jembatan gantung Cot Punti malah mengancam keselamatan warga. Kondisi ini dipicu tidak sempurnanya pembangunan abutment atau bangunan bawah di kedua ujung pilar jembatan tersebut.

“Hasil pantauan kami, tumpukan karung disusun di bagian abutment, menjadi alas yang digunakan warga agar dapat naik ke jembatan yang menghubungkan Gampong Cot Punti dan Gampong Panton di Kecamatan Woyla,” kata Edy.

Menurut Edy, sudah dua sepeda motor  yang jatuh saat melintas di jembatan tersebut, akibat tanjakan menuju ke atas jembatan terlalu tinggi. 

Edy menambahkan, saat ini pihaknya menemukan  adanya pengalokasian anggaran untuk proyek irigasi Alue Diam di tahun 2018. Hasil penelurusan dokumen di tahun 2018 ini, proyek yang sempat terhenti tersebut kembali dianggarkan dengan pagu Rp300 juta bersumber dari APBK di bawah satuan kerja Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Barat.

“Tentu kita menyambut baik atas kelanjutan pembangunan irigasi yang mangkrak (terbengkalai) tersebut, agar irigasi tersebut dapat dimaksimalkan atau dipergunakan kembali oleh warga di tiga desa tersebut. Namun, kita ingin kejelasan soal proyek mangkrak yang di awal pembangunannya sudah menghabiskan dana miliaran itu,” tegasnya.

Hingga berita ini dikirim ke redaksi, wartawan portalsatu.com belum berhasil memperoleh penjelasan pihak Dinas PUPR dan rekanan terkait dua proyek tersebut.[]

Baca juga: