Apa yang Anda lakukan ketika berbicara dengan seseorang, lalu terjadi perbedaan pendapat yang memicu konflik? Mungkin Anda akan menghentikan percakapan itu, lantas pergi begitu saja lantaran marah atau kesal.
Bahasa Aceh punya kosakata khusus untuk menyebutkan kejadian itu, yaitu geureutôk punggông.
Bila dilihat kata per kata, geuretôk berarti mengibas, sedangkan punggông berarti pantat. Maka, kalau digabungkan, maknanya adalah mengibas-ngibaskan pantat.
Namun, dalam konteks seperti yang disebutkan di atas, geureutôk punggông bukan berarti mengibas-ngibaskan pantat. Maknanya lebih kepada kiasan, boleh dikatakan ungkapan. Bahasa Indonesia tidak punya padanan untuk menerjemahkan geureutôk punggông sehingga diterjemahkan secara bebas menjadi pergi atau lari.
Agar lebih jelas, cermati kalimat ini: Daripada lôn deungo jih teumeunak, kugeureutôk punggông laju. (Daripada mendengar dia memaki, lebih baik saya pergi saja).
Meski geureutôk punggông dapat diterjemahkan secara bebas dengan kata pergi, ungkapan itu berbeda dengan pergi dalam bahasa Indonesia. Geureutôk punggông lebih mengarah kepada ungkapan atau idiom karena gabungan geureutôk dan punggông menghasilkan makna baru. Berbeda dengan pergi yang hanya merupakan kata, bukan idiom.
Dilihat dari segi makna, geureutôk punggông lebih mengarah kepada perbuatan pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun.
Contoh pemakaian geureutôk punggông yang lain, Lheuh kajôk surat nyoe bak jih, kageureutôk punggông laju keudéh (Sesudah kamu berikan surat ini padanya, kamu langsung pergi saja); Aneuk miet pih deungo haba ureung rayek. Jak geureutôk punggông ju keudéh (Untuk apa anak kecil mendengar percakapan orang dewasa, pergi sana!)
Geureutôk punggông, dalam penggunaannya harus memperhatikan usia atau kepada siapa dituju. Bila berbicara dengan orang tua, ungkapan ini tidak boleh dipakai sebab terkesan tidak sopan. Pemakaiannya hanya boleh untuk usia yang sama, kepada yang lebih muda, atau karena sudah akrab meski adanya perbedaan usia.
Dalam praktiknya, kepada orang tua, ungkapan itu juga dapat dipakai oleh yang lebih muda. Hanya saja tidak secara tatap muka. Alasannya tentu saja untuk menghormati yang tua.[]




