BerandaEkonomiGiok Aceh, dari UMKM Berbasis Wira Usaha Menuju Hilirisasi Berbasis Industri

Giok Aceh, dari UMKM Berbasis Wira Usaha Menuju Hilirisasi Berbasis Industri

Populer

Giok Aceh dari UMKM, Berbasis Wira Usaha Menuju Hilirisasi Berbasis Industri

Oleh H. Sariat Arifia
Perhimpunan Pengumpul, Pengrajin dan Pengusaha Giok Aceh Indonesia (P3GAI)

Pembangunan daerah dikatakan berhasil dengan baik manakala di antaranya terjadinya pengurangan pengangguran, menurunnya tingkat kemiskinan dan tentunya juga berkembangnya Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). UMKM merupakan salah satu bentuk kewirausahaan yang bisa memberi dampak positif kepada pembangunan daerah.

Salah satu kegiatan tradisional, dan bahkan pernah marak di beberapa waktu lalu adalah kegiatan para pengrajin batu akik yang pada tahun 2014-2016 lalu sempat booming. Semua Masyarakat mendadak bergegap gempita dalam mencari batu batuan alam di Aceh karena booming tersebut.

Provinsi Aceh, memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat lengkap dalam kerajinan batu akik. Bahan baku material sangat melimpah dari batu akik, batu quartz, Idocrase, sepertine (dikenal dengan merk dagang black jade) opal bahkan sampai kepada batu paling prestise yaitu batu nephrite jade atau dikenal dengan nama giok Aceh.

Istilah dan trade mark, nama batu giok Aceh sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan para penikmat batu perhiasan di seluruh wilayah Indonesia, dinamakan batu giok Aceh karena memang berasal dari Aceh walaupun diambil dari dua wilayah yang berbeda di Aceh yakni dari Wilayah Nagan Raya dan dari Aceh Tengah.

Kedua wilayah ini memiliki karakteristik batu giok yang berbeda, walau sama-sama batu giok. Nagan Raya karena tempatnya telah terbuka maka eksposur kuantitas dan juga aneka ragam giok Aceh lebih bervariasi daripada Takengon. Di Aceh Tengah sendiri masih banyak wilayah-wilayah di dalam hutan, sangat jauh sehingga eksposurnya masih kurang.

Secara general, dari segi pengolahan perhiasan, giok Aceh dari Nagan Raya ada memiliki warna kluster hijau yang sangat baik berkualitas perhiasan sementara  dari Takengon berkarakter kekerasan yang luar biasa di atas rata-rata dunia.

Selama sepuluh tahun terakhir ada banyak aneka persoalan di lapangan yang dihadapi oleh para pengrajin batu giok Aceh dan semua datang silih berganti. Pasca covid 19, tantangan paling utama adalah daya beli masyarakat yang semakin menurun akibat kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) hingga tingginya kenaikan harga pangan. Namun, di tengah ketidakpastian ini, walau jumlah wirausahawan batu giok Aceh menurun drastis, tetapi masih ada juga yang tetap semangat berusaha. Mereka tetap melakukan usahanya walau basis kerjanya masih kegiatan pengrajin.

Secara definisi, pada saat inilah  para pengrajin batu yang tetap berusaha ini mereka sebenarnya telah menjadi  wirasauhawan. Wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan, berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti (Kasmir, 2007).

Ada banyak tantangan, tapi mereka tidak mundur, tidak pasti, tapi berani. Salah satu cara untuk bertahan adalah tetap berhimpun dalam perhimpunan. Perhimpunan atau basis komunitas di era multi media sekarang, merupakan salah satu cara untuk berbagi informasi.

P3GAI, perhimpunan pengumpul, pengrajin dan pengusaha batu giok Aceh merupakan sarana untuk itu. Berada di wadah organisasi, tidak sama dengan kegiatan berjualan sendiri, kegiatan utama organisasi tentunya lebih kepada bertukar informasi, situasi, menambah jaringan sampai peningkatan jaringan kerja.

Pengolahan batu alam, terutama seperti batu giok, tentunya perlu kerja terpadu, apabila Pemerintah Daerah bahkan tingkat nasional ingin memberdayakan para pengusaha kecil ini seoptimal mungkin. Yang paling penting, secara makro bagaimana kegiatan UMKM berbasis masyarakat kecil ini bisa dihimpun menjadi berskala industri yang terintegrasi.

Dalam industri apapun, untuk bisa hidup yang pertama dibutuhkan adalah payung hukum atau kebijakan hukum. UMKM yang tertuang dalam Keppres RI No. 19 Tahun 1998 sebagai kegiatan ekonomi rakyat pada skala kecil yang perlu dilindungi dan dicegah dari persaingan yang tidak sehat.

Persaingan tidak sehat ini sebenarnya banyak terjadi, dari lemahnya perlindungan hukum terhadap produk. Contohnya adalah penggunaan istilah batu Giok. Ada banyak produk plastik bekas limbah di beri cat warna hijau lalu di jual dengan harga sangat murah di platform belanja online. Hal ini memberi persepsi yang kuat kepada konsumen, Ketika ditawarkan giok Aceh asli, maka mereka merasa ini “mahal” lalu dibandingkan dengan produk limbah, tetapi diberi nama batu giok tadi. Atau ada juga misal di Jakarta, secara masif menjual batu dengan nama “Black Jade Aceh”, padahal sudah jelas barang itu sama sekali bukan dari Aceh.

Upaya-upaya untuk melindungi  produk brand giok Aceh, dan upaya memartabatkan para pelaku bisnis giok Aceh, akhirnya menyimpulkan bahwa penting sekali memberi payung hukum berupa  seriftifikasi Indikasi Geografi bagi produk pengrajin giok Aceh, tetapi walau sudah sampai tingkat pusat, upaya memartabatkan dan mengatasi masalah ini justru terhambat akibat oleh orang orang yang punya kepentingan diri pribadi dan sama sekali tidak mengerti pentingnya upaya ini.

Dalam diskusi terakhir di antara anggota P3GAI,  salah satu tantangan lain adalah masuknya orang orang Cina ke Nagan Raya secara langsung. Orang orang Cina yang dulu banyak berada di Medan, sekarang sudah sampai beoperasi di Nagan Raya.

Fenomena ini tentu menjadi fenomena untung sesaat. Bagi pelaku industri yang mengerti tentang kasus kasus di tempat lain, seperti di Bacan, Maluku. Kemudian di Baturaja, orang lokal lama kelamaan tidak punya akses ketika orang asing sudah sampai di gunung. Era era ini sebenarnya kembali ke era penjajahan, sampai sumber sumbernya hanya menunggu waktu untuk dikuasai dan banyak orang penduduk lokal tidak punya akses.

Dalam bahasa yang sekarang kerap dipakai, istilahnya hilirisasi menjadi kunci sebuah pengembangan sebuah daerah. Aceh yang sudah kaya dengan sumber daya alam dan daerah padat modal, maka sekarang  tentunya perlu lebih intensif lagi membangun industri berbasis padat karya, di antaranya meningkatkan  UMKM batu giok Aceh menjadi berkelas industri.

Di Cina sendiri, pelaku UMKM dari batu giok bisa mencapai 70.000 orang dan banyak kota-kota yang satu kota menjadi kota industri perhiasan skala dunia. Di Tengah-tengah upaya hilirisasi, sementara kita justru bergerak ke arah belakang yaitu hanya semata mengandalkan menjual batu dalam bentuk bahan mentah.

Upaya memberikan kemakmuran kepada masyarakat kecil, pelaku pelaku UMKM yang riil selama ini telah bergelut di dunia perbatuan, khususnya giok Aceh tentu  skalanya akan teramplifikasi ketika kebijakan hilirisasi atau industrialisasi ini terwujud, dan tentunya payung  hukum dan komitmen serius dari pemerintah  di tunggu tunggu dan di harapkan oleh UMKM ini. Namun walau berjalan tertatih, lambat bagi para wirausahawan sejati, pecinta giok Aceh, berjuang itu adalah kenikmatan bukan hanya karena semata uang, tapi kecintaan yang mendalam dan juga martabat yang melekat.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya