Pada awal surat Albaqarah, sangat kontekstual sekali gambaran dari Allah tentang karakter umum manusia. Terutama saat ia dihadapkan pada pilihan kebenaran berdasarkan risalah samawi yang murni (Islam).
Sebagaimana manusia lazimnya, Allah telah memberi bekal berupa akal, berita kenabian dan kemampuan inderawi (fitrah) agar dapat menemukan cahaya pentunjuk Allah.
Diantara golongan yang dimaksud adalah yang memiliki indikasi kebiasaan berikut:
Pertama, mereka yang secara zahir menyatakan diri beriman pada Allah dan hari akhir, padahal di hati mereka tidak ada keimanan sama sekali. Bahkan bisa jadi, imannya hanya pada rasionalitas akal dan kebenaran yang relatif. Ia mungkin mengaku muslim, tapi secara batin ia tak membela kepentingan agamanya, usaha untuk memajukan agama dan kultur masyarakat hanyalah candu, mabuk dan latah. Untuk itu Allah menyebut hati mereka sebagai hati yang sakit dan sakitnya akan terus bertambah seiring dekatnya dengan azab.
Kedua, golongan ini sering mengganggap dirinya pembela kebenaran, pembela hak umum, aktivis reformis yang memperbaiki masyarakat. Padahal mereka adalah perusak yang utama. Kenapa bisa, karena mereka tidak beriman dengan segenap hati, seperti poin di atas.
Ketiga, mereka memiliki komunitas yang dengannya mereka bersinergi. Memiliki media pengaruh, sumber dana dan mobilitas. Mereka bahkan bersanding dengan kekuasaan untuk kemungkaran dan kemudharatan. Namun, di hadapan kaum yang beriman (pada Allah dan RasulNya), mereka menganggap diri dengan keimanan yang sama, padahal nyatanya mereka hanya mengolok-olok dan merendahkan.
Ketiga indikasi di atas dinyatakan sebagai upaya upaya mereka untuk menukar cahaya dengan gelap. Menukar petunjuk dengan kesesatan. Mereka diumpamakan bagai dalam lingkup cahaya, lalu cahaya itu hilang dan Allahpun membiarkan mereka tetap dalam gelap.
Semoga kita terhindar dari sifat sifat di atas.Aamiin….[]
Taufik Sentana
Ikatan Dai Indonesia.Kab. Aceh Barat



