JAKARTA — Plt. Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah MT mengatakan, Tarian Ratoh Jaroe merupakan salah satu seni tari dari Tanah Aceh yang sudah cukup mendunia. Pada pembukaan Asian Games di Jakarta tahun lalu, Tari Ratoh Jaroe ini sempat dipertontonkan dan mampu mengundang decak kagum banyak orang karena gerakan yang ditampilkan para penarinya sangat kompak, indah, rapi, cepat dan tertata dengan baik.

”Memang ada yang sempat menganggap bahwa tarian yang ditampilkan pada pembuka ASIAN GAMES 2018 itu merupakan Tari Saman. Hal ini bisa dimaklumi, sebab gerak Tari Ratoh Jaroe agak mirip dengan Tari Saman, tari yang telah ditetapkan UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia. Keduanya sama-sama memadukan gerak harmonis antara badan dan tangan yang dimainkan sambil duduk. Saman adalah seni tari Aceh, tepatnya dari Tanah Gayo,” ujar Plt. Gubernur, diwakili Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Jamaluddin, saat membuka grand final Festival Tarian Ratoh Jaroe Piala Gubernur Aceh, di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata RI, Sabtu, 26 Oktober 2019, malam.

Dia menjelaskan, jika kita simak lebih dalam, ada beberapa perbedaan antara kedua tari itu, terutama dari sisi penarinya, syair dan musik pengiring. Jika Tari Saman hanya dimainkan penari laki-laki dalam jumlah ganjil, Tari Ratoh Jaroe dimainkan penari perempuan dalam jumlah genap. Kalau Tari Saman sama sekali tidak menggunakan alat musik, Tari Ratoh Jaroe diiringi musik rapa’i. Syair-syair pada Tari Ratoh Jaroe banyak mengandung pesan moral dan agama. “Dilihat dari tampilan juga ada beberapa perbedaan. Tari Ratoh Jaroe bisa menampilkan aneka pakaian penari untuk menambah keindahan gerak. Sedangkan tari Saman konsisten pada keindahan gerak yang maskulin, dengan seragam tari yang sama,” ujarnya.

Sementara, Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA), Almuniza Kamal, S.STP., M.Si., mengatakan, pagelaran Festival Tari Ratoh Jaroe telah dilaksanakan sejak 2007. Perjalanan Tarian Ratoh Jaroe tersebut telah masuk pada tahun ke-12. Festival Ratoh Jaroe tahun 2019 ini, katanya, punya tantangan tersendiri bagi pemerintah Aceh, khususnya Badan Pengubung Pemerintah Aceh (BPPA) di Jakarta sebagai pelaksana kegiatan. Festival tari ini telah meluas ke beberapa daerah lain seperti Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.  Sebelumnya, Tarian Ratoh tersebut hanya berkembang di seputar Jabodetabek.

“Audisi Tari Ratoh Jaroe yang dilaksanakan Badan Penghubung Pemerintah Aceh tahun ini melibatkan ribuan peserta. Tercatat, ada 1.560 peserta yang berhasil didata oleh panitia dengan perhitungan satu grup terdapat 13 hingga 20 peserta. Namun, tidak semua peserta tersebut lolos pada tahap audisi awal hingga terpilih untuk ikut pada acara puncak malam ini,” ujar Almuniza.

Dimulai sejak bulan Maret 2019, Festival Ratoh Jaroe diselenggarakan di SMP Nizamia Andalusia Middel School, Jakarta diikuti oleh 31 grup. Kesemua peserta adalah siswi tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dari 31 Grup tersebut, terpilih 10 Penyaji terbaik antara lain: SMPN 161 Jakarta, SMPN 12 Jakarta, SMPN 19 Jakarta, SMP Al Azhar 9 Kemang Pratama, SMPAl Azhar 8 Kemang Pratama, SMP Al Azhar Islam BSD, SMPN 1 Bekasi, SMP Global Prima Islamic School, MTs. Jamiat Kheir, dan SMP Al Azhar 3 Bintaro. “Pada Bulan Mei, pagelaran Audisi Festival Ratoh Jaroe kembali digelar dan diselenggarakan di Atrium Fashion Mall Kota Kasablanka, Jakarta, Minggu, 19 Mei 2019,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, terdapat 24 grup yang ikut andil baik berasal dari Sekolah Menengah Atas dan Universitas. Namun, dewab juri hanya bisa memilih 10 grup yang mendapatkan label Penyaji Terbaik, yakni: SMAN 6 Tangerang Selatan, SMAN 11 Tangerang Selatan, SMAN 1 Kota Tangerang, SMAN 86 Jakarta, SMAN 90 Jakarta, SMAN 29 Jakarta, SMAN 3 Kota Tangerang, SMAN 2 Kota Tangerang, SMAN 12 Tangerang Selatan, dan SMAN 54 Jakarta.

Setelah Audisi Jakarta selesai, lanjutnya, panitia Festival Ratoh Jaroe kembali menghentak Jawa Tengah, Semarang, 25 Agustus 2019. Di Wilayah ini, peserta tidak saja berasal dari Semarang, tapi ada juga yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Audisi tersebut diselenggarakan di Taman Indonesia Kaya, Semarang dan diikuti oleh 10 grup tari. “Dewan juri memilih tiga penyaji terbaik yakni: SMAN 4 Semarang, Universitas Diponegoro 17 Semarang, dan SMA Nasima Semarang,” ujar dia.

Audisi Festival Ratoh Jaroe masih bergulir. Kali itu, acara diplomasi kebudayaan tersebut kembali diadakan pada tangal 5 Oktober 2019 di Bekasi, Jawa Barat. Pada audisi tersebut, 13  SMAN tercatat mendaftarkan diri. Namun, lagi-lagi dewan juri hanya memilih grup yang telah memenuhi syarat untuk lolos audisi dengan kriteria penampilan sebagai berikut, kekompakan, kreativitas, penampilan, dan tata rias/busana.

Adapun grup yang memenuhi kriteria tersebut dan lolos ke tahap final adalah, SMA Al Azhar 4 Kemang Pratama Bekasi, SMAN 1 Bekasi, dan SMAN 8 Bekasi. Kesemua grup yang telah terpilih ini, kembali bersaing memperebutkan Piala Bergilir Gubernur Aceh tahun 2019 di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata RI, 26 Oktober 2019.[](adv)