SUBULUSSALAM – Gubernur Aceh, Haji Muzakir Manaf atau Mualem menyampaikan komitmennya untuk melanjutkan proyek multiyears pembangunan jalan Gelombang, Kota Subulussalam-Muara Situlen, Aceh Tenggara.

Hal itu disampaikan Mualem saat bersilaturahmi Bupati Aceh Tenggara H.M Salim Fakhry, S.E., M.M, dan para pejabat di sana, Rabu, 25 Juni 2025.

Silaturahmi tersebut turut diikuti Wali Kota Subulussalam Haji Rasyid Bancin atau HRB yang juga hadir pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-51 Kabupaten Aceh Tenggara.

HRB tiba di Kabupaten Aceh Tenggara sekaligus ikut menyambut Gubernur Aceh H.Muzakir Manaf (Mualem) bersama HM Salim Fakhry SE, MM di Bandar Udara Alas Leuser, Rabu, 25 Juni 2025.

Selanjutnya rombongan Gubernur Aceh dan HRB menuju lokasi perayaan HUT Aceh Tenggara yang dipusatkan di Stadion H Syahadat Pulonas Kutacane.

Selain Gubernur Aceh Muzakir Manaf, turut hadir sejumlah kepala dinas Aceh termasuk mantan Pj Bupati Aceh Tenggara dan tokoh penting provinsi hingga nasional.

Pada saat silaturahmi dengan forlopimda, pejabat Aceh Tenggara maupun sejumlah Kepala SKPA Provinsi Aceh hingga HRB, Mualem kembali menegaskan komitmennya melanjutkan pembangunan jalan tembus Subulussalam-Muara Situlen Aceh Tenggara.

Mualem mengaku hal itu juga pernah dia gaungkan saat berkunjung ke Kota Subulussalam pada tahun 2017 lalu.

Mualem menjelaskan tekad melanjutkan pembangunan Jalan Gelombang, Subulussalam tembus ke Muara Situlen Aceh Tenggara ini sebagai komitmen Mualem untuk mensejahterakan masyarakatnya.

“Insha Allah pak wali kota, saya akan melanjutkan program pembangunan jalan tembus Gelombang, Subulussalam menuju Muara Situlen, Aceh Tenggara,” kata Mualem d

Terhadap hal ini, Wali Kota Subulussalam Haji Rasyid Bancin sangat terharu karena apa yang menjadi komitmen Mualem juga program yang dicanangkan olehnya.

HRB juga memiliki program untuk mengawal kelanjutan pembangunan akses jalan Kota Subulussalam menuju Aceh Tenggara via Muara Situlen yang telah dimulai semasa Bupati Aceh Singkil Makmursyah Putra SH, MM.

Lantaran itu saat mendapat pernyataan dari orang nomor satu di Aceh, HRB sangat bahagia dan terharu.

Sebab, kata HRB salah satu PR nya yaitu persoalan kebutuhan mendesak masyarakat di sana terkait pembangunan jalan Subulussalam dari Gelombang, Sultan Daulat menuju Muara Situlen, Aceh Tenggara.

Pasalnya, selama ini untuk menuju Aceh Tenggara yang merupakan kabupaten tetangga Kota Subulussalam harus menempuh perjalanan hingga enam jam.

Sebab, satu-satunya jalur ke wilayah tersebut harus melalui Kabupaten Dairi, Sumatera Utara atau Tiga Lingga, Kabanjahe, Sumatera Utara.

Sementara apabila jalan Muara Situlen dibuka maka untuk menunu Kutacane hanya membutuhkan waktu paling lama dua jam perjalan darat.

”Masa sudah puluhan tahun mau ke kabupaten tetangga saja harus lewat provinsi lain,” imbuh Pimpinan Pondok Modern Daarur Rahmah Sepadan Kota Subulussalam.

Berdasarkan catatan Serambi sebenarnya ada sederet program pro rakyat yang digiring Wali Kota Subulussalam HRB yang akan diwujudkan.

Selama ini hal yang mengganjal terkait dengan jalan Gelombang-Muara Situlen masalah status jalan provinsi yang paling perlu adalah penganggaran tentang Izin Pinjam Pakai-nya.

Menurut informasi dari panjang ruas jalan tembus itu yang berada di wilayah Kota Subulussalam sekitar 27 kilometer berstatus Hutan Lindung atau Hutan Produksi.

Lalu di wilayah Kabupaten Aceh Tenggara dengan panjang sekitar sembilan kilometer berstatus Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

Nah, inilah yang perlu diurus Izin Pinjam Pakai kawasannya melalui dinas terkait yakni Dinas PUPR Aceh serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh.

Izin pinjam pakai kawasan hutan lindung dan hutan produksi ini, sejatinya dapat dilaksanakan agar jalan tembus Gelombang-Muara Situlen terlaksana secepatnya.

Untuk itu, HRB pun berharap pihak provinsi dapat menuntaskan masalah jalan Gelombang-Muara Situlen, Aceh Tenggara 2026 mendatang.

Ini karena program jalan Gelombang-Muara Situlen Aceh Tenggara telah dicanangkan sejak tahun 1990-an semasa Gubernur Aceh dijabat Ibrahim Hasan.

Catatan Serambinews.com, saat Ibrahim Hasan menjabat Gubernur Aceh dia mencetuskan sejumlah program antara lain dikenal jalan jaringan laba-laba.

Nah, dalam jalan jaringan laba-laba ini pula masuk program jalur Gelombang-Muara Situlen, Aceh Tenggara.

Namun dari sekian banyak program jalan yang dibuat dan berhasil dituntaskan kecuali jalur Gelombang-Muara Situlen Aceh Tenggara tak kunjung terealisasi.

Akhirnya, masuklah kepemimpinan Abdulah Puteh yang juga mencetuskan program bernama Jalan Ladia Galaska ( Lautan Hindia- Gayo- Alas- Selat Malaka).

Dalam program Ladia Galaska ini juga masuk jalur Gelombang-Muara Situlen. Namun lagi-lagi, hingga berakhirnya masa pemerintahan Abdullah Puteh jalur penghubung Kota Subulussalam dengan Aceh Tenggara itu belum terealisasi.

Padahal, semua akses antar kabupaten di Aceh telah tuntas ditembuskan seperti Nagan Raya-Gayo dan Abdya Gayo. Sekarang tersisa Kota Subulussalam Aceh Tenggara.

Untuk menuju Aceh Tenggara dan Gayo Lues, masyarakat Kota Subulussalam termasuk Aceh Singkil harus melintasi kabupaten di Sumatera Utara dengan jarak tempuh sangat jauh.

Sementara HRB mengatakan kehadirannya pada HUT Aceh Tenggara sebagai daerah tetangga yang masih saudara dan serumpun termasuk hubungan lain antara Subulussalam dengan daerah itu.

HRB juga berkesempatan bersilaturahmi dengan para kepala Dinas Provinsi Aceh yang hadir di sana untuk koordinasi sejumlah usulan program yang akan dilaksanakan pada 2025 dan 2026 mendatang.[] (ril)