BANDA ACEH – Pemerintah Aceh bersama seluruh unsur Forkopimda terus mensosialisasikan penerapan protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19. Selain itu, pelaksanaan vaksinasi massal untuk mengejar capaian kekebalan kelompok atau herd immunity.
Gubernur selaku Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Aceh, Nova Iriansyah, mengatakan semakin banyak yang divaksin, maka kemungkinan penyebaran Covid-19 akan semakin kecil. Namun, ketersediaan vaksin berbanding terbalik dengan upaya percepatan vaksinasi oleh Pemerintah Aceh. Butuh waktu relatif panjang.
Oleh karena itu, Gubernur Aceh Nova Iriansyah mengimbau semua pihak untuk tidak jenuh dan terus berkolaborasi dan memperkuat koordinasi dalam setiap upaya pencegahan penyebaran Covid-19.
Penegasan tersebut disampaikan Nova Iriansyah saat memimpin Rapat Koordinasi Satgas Penanganan Covid-19 Aceh, di Markas Kodam Iskandar Muda, Jumat, 2 Juli 2021.
“Sejak awal pandemic hingga saat ini, berbagai langkah dan upaya telah kita lakukan bersama. Tanpa koordinasi dan kolaborasi tentu upaya penanganan yang kita lakukan selama ini tidak akan menuai hasil yang maksimal. Penanganan Covid-19 masih membutuhkan waktu. Oleh karena itu, harus terus kita lakukan secara kolaboratif dan tanpa jeda,” ujar Nova.
Untuk diketahui, penambahan pasien positif Covid-19 di Aceh hingga 1 Juli 2021 mencapai 19.333 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.845 orang masih menjalani perawatan, baik di rumah sakit rujukan di seluruh Aceh maupun isolasi mandiri di rumah. Dan, 810 orang telah meninggal dunia.
Sejak 15 januari lalu, program Vaksinasi Massal di mulai di Aceh. Gubernur Aceh menjadi orang pertama yang menerima suntikan vaksin covid-19 di Aceh, diikuti unsur pimpinan Forkopimda Aceh dan sejumlah Kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh.
Sebagai garda terdepan penanganan Covid-19, para tenaga kesehatan (nakes) menjadi fokus utama vaksinasi. Hingga saat ini dari total 56.470 nakes sudah 50.869 nakes atau 90,2 persen telah menerima suntikan pertama. Dan 44.428 nakes atau sebesar 78,7 persen telah menerima suntikan vaksin tahap kedua.
Petugas pelayanan publik juga menjadi sasaran vaksinasi. Selain sebagai upaya melindungi masyarakat yang akan menerima pelayanan, vaksinasi kepada para petugas publik juga menjadi sarana edukasi dan sosialisasi yang efektif kepada masyarakat.
“Sebagaimana diketahui, berbagai cerita bohong atau hoax telah menimbulkan keresahan dan keengganan masyarakat untuk mengikuti program vaksinasi. Namun dengan keteladanan dari para petugas pelayanan publik, saat ini antusiasme masyarakat untuk ikut vaksinasi sangat tinggi”.
Saat ini, dari total 478.489 petugas publik yang tersebar di seluruh Aceh, sebanyak 338.554 orang atau sebesar 70,8 persen telah menerima suntikan vaksin tahap pertama dan 83.747 atau sebesar 17.5 persen telah menerima suntikan vaksin tahap kedua.
Saat ini, Pemerintah Aceh juga sedang menggiatkan vaksinasi bagi para lansia. Lansia adalah kelompok rentan. Saat ini dari total 435.651 lansia di seluruh Aceh, sebanyak 12.541 orang atau sebesar 2,9 persen yang menerima suntikan vaksin tahap pertama dan 2.610 orang atau sebesar 0,6 persen yang menerima suntikan vaksinasi tahap kedua..
Dalam rapat tersebut, Gubernur juga mengungkapkan hingga Senin (1/7), sebanyak 401.964 orang Aceh telah menerima suntikan vaksinasi Covid-19.
Rakor yang berlangsung dengan menerapkan standar protokol kesehatan yang ketat tersebut diikuti Pangdam Iskandar Muda, Wakapolda Aceh, Kajati Aceh serta para Ketua Bidang pada Satgas Penanganan Covid-19 Aceh.
Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Aceh Muhammad Iswanto menjelaskan Rakor di Makodam Iskandar Muda lanjutan dari Rakor Satgas Penanganan Covid-19 Aceh sebelumnya.[](*)





