BLANGKEJEREN – Petani di Kabupaten Gayo Lues menagis melihat kondisi sawah yang berubah jadi tumpukan kayu dan lumpur, padahal, areal persawahan itu baru ditanam warga sebulan yang lalu.
“Kejadianya begitu cepat, tetapi meninggalkan bekas yang dalam. Kami tidak tahu apakah sawah ini masih bisa ditanami padi atau tidak,” kata Saleh salah seorang petani di Desa Badak, Selasa, 16 Desember 2025.
Jika dikerjakan manuaL menggunakan cangkul untuk membersihkan lumpur dan tumpukan kayu, petani di Desa Badak dipastikan butuh waktu berbulan-bulan agar sawah yang menjadi tumpuan warga bisa kembali ditanami.
“Banyak juga yang hanyut areal persawahan warga, dan banyak juga tertimbun pasir dan kayu gelondongan ini,” ujarnya.
Selain sawah di Desa Badak, ribuan hektare sawah di Agusen, Desa Palok, Desa Rerebe Dabun Gelang, di Kecamatan Rikit, di Kecamatan Pantan Cuaca, di Kecamatam Tripe Jaya dan di Kecamatam Pining ikut hanyut dan tertimbun lumpur.
“Butuh waktu lama agar sawah ini bisa menghasilkan lagi, padahal hanya ini tumpuan keluarga kami. Mudah-mudahan pemerintah melihat kondisi sawah dan kondisi kebutuhan kami paska banjir,” ujarnya.
Banjir dan longsor yang terjadi di Kabupaten Gayo Lues bukan saja merusak ribuan hektare sawah warga, ribuan rumah ikut hanyut dan rusak parah, puluhan jembatan hanyut, dan ratusan titik jalan lintas nasional, jalan provinsi dan kabupaten ikut tertimbun longsor.[]



