ACEH UTARA — Kapolda Aceh Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah, mengatakan pihaknya sedang menyelidiki sumber kayu gelondongan yang menumpuk di pekarangan rumah warga, fasilitas umum, hingga menutupi sungai di sejumlah daerah terdampak banjir bandang dan longsor di Aceh pada akhir November 2025.

“Kami masih bekerja sama dengan kepolisian pusat (Mabes Polri) dalam rangka penyelidikan sumber kayunya dari mana,” kata Marzuki kepada wartawan usai mendampingi Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo meninjau dampak banjir di Aceh Utara, Sabtu, 27 Desember 2025.

Marzuki menjelaskan, tim Polri menyelidiki asal-usul batang pohon yang dihanyutkan arus banjir bandang di Aceh.

“Perlu diketahui bahwa ini merupakan musibah, mari secara bersama-sama membantu masyarakat terdampak banjir. Di mana ada kekurangannya tolong disampaikan. Bukan untuk ekspose, bukan untuk dicari kesalahan, bantu kami (Polri) apa yang kami lakukan. Mungkin semangat Anda (wartawan) berbeda, semangat kami tetap membantu penyelidikan,” ujar Marzuki.

Penanganan Pascabencana

Di samping itu, kata Marzuki, hari ini (Sabtu) kedatangan Wakapolri dalam rangka mengecek kesiapan bantuan alat-alat berat ekskavator dan menyalurkan logistik serta air bersih ke Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, untuk penanganan pascabencana di daerah tersebut.

“Yang jelas kita terus membantu masyarakat Aceh yang sedang menghadapi musibah. Alhamdulillah, satu bulan pascabencana ini mereka sudah mendapat banyak bantuan. Namun, sebagian wilayah aksesnya yang masih sulit jangkauannya, sehingga kita menurunkan alat-alat berat agar masyarakat bisa mengakses ke desanya,” ujar Marzuki.

Menurut Marzuki, khususnya di Aceh Utara masih ada beberapa lokasi yang masih terisolasi seperti di Kecamatan Langkahan dan Sawang. “Tetapi untuk bantuan logistik itu semua sudah tersalurkan kepada korban banjir tersebut”.

Diberitakan sebelumnya, masyarakat korban banjir bandang di Gampong Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, kesulitan untuk membersihkan rumah akibat banyak kayu gelondongan dan lumpur menimbun pekarangan. Kayu gelondongan juga menimbun sungai di pinggir meunasah (surau) gampong tersebut.

Bendahara Geudumbak, Ilyas, kepada wartawan, Ahad, 21 Desember 2025, mengatakan rumah-rumah warga gampong ini—yang tersisa—rusak parah dihantam kayu-kayu besar dihanyutkan banjir bandang dengan ketinggian air mencapai 5 meter pada 26 November 2025. Selain dipenuhi lumpur, sejumlah rumah juga tertimbun kayu yang belum dipindahkan.

“Kondisi rumah warga di sini bisa dikatakan 90 persen sudah tidak ada lagi, karena hanyut dibawa arus banjir. Ada sebagian masih tinggal sisa, tapi tidak layak untuk ditempati lagi, sehingga semua masyarakat saat ini mengungsi di sejumlah titik. Apalagi cukup banyak kayu-kayu besar menumpuk di halaman maupun di dalam rumah,” kata Ilyas.[](Irm)