Dia meminta saya memanggilnya Ipan. Lebih setahun sudah saya jadi pelanggan di barber shop kecil. Ipanlah yang selalu memangkas saya.

Kami amat akrab. Kedua kakinya cacat. Dia perantau dari Nias. Beristri dengan satu anak. Suatu ketika begini dialog kami:

Ipan: Bapak tidak berminat punya usaha   barber?

Saya: Tidak berminat

Ipan:  Saya pengin pak bila ada pemodal. Ada beberapa tempat yang cocok sudah saya survei.

Saya: Sudah berapa orang kamu tawari peluang ini?

Ipan: Baru ke bapak saya bicara. Ke orang lain saya tidak berani. Takut ditolak, pak. Kalau sama bapak kan sudah biasa tukar pikiran.

Saya: Jika cuma ke saya dan saya tolak berarti tertutup sudah peluangmu?

Ipan: Iya, pak.

Saya: Terus kalau kamu sampaikan pada pelangganmu yang lain apakah kamu yakin pasti semua akan menolak?

Ipan: Belum pasti sih, pak. Tapi saya tidak berani, pak.

Saya: Kenapa tidak berani? Kamu cacat kok berani merantau ke Medan tanpa modal apapun. Toh sekarang kamu punya kehidupan.

Ipan: Iya juga sih, pak. Artinya, saya tidak perlu takut.

Saya: Peluang itu jika kamu tawarkan kepada banyak orang masih bisa jadi peluang. Tapi bila kamu simpan pasti peluang itu mati.

Ipan: Iya, pak, akan saya coba sampai ada yang tertarik. Toh tidak ada yang dirugikan pak dengan tawaran saya. Biar peluang itu terus hidup.

Saya: Sama seperti kamu berangkat dari kampung dulu. Jika sampai di Medan kamu mikir tidak dapat peluang, apalagi kamu cacat, pasti kamu sudah mati dan tidak sampai di titik sekarang.

Kesimpulan: Ketakutan, kesungkanan dan mengalah adalah cara terbaik untuk menjadimu manusia gagal.

Jika berani hidup mengapa takut mencari, merebut dan memperjuangkan sebuah atau lebih kesuksesan.[]