SINABANG – Penyebab pasti anjloknya harga cengkeh si Simeulue hingga kini belum diketahui, sudah tiga tahun penjualan cengkeh di negeri ate fulawan tersebut sepi, tak lagi semarak tahun-tahun sebelumnya.

Haji Hamdi (61) salah seorang agen cengkeh di Sinabang mengungkapkan, sejak harga cengkeh tidak stabil, ia mulai beralih ke komoditas lain seperti pinang coklat dan palawija.

Haji Hamdi merincikan, harga cengkeh tahun 2020 ini ditampung dari petani mulai dari Rp 55.000 higga Rp 60.000 perkilo, turun dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp75.000. Malah pernah harga cengkeh Simeulue harganya mencapai Rp160.000 per kilogram.

Turunnya harga cengkeh juga dikeluhkan salah seorang petani, Amrian (36). Pria asal desa Ganting, Kecamatan Simeulue Timur ini mengatakan, selain harga turun, panen cengkeh tahun ini juga berkurang. “Bisanya dalam satu batang cengkeh yang dipanen hanya dapat 17 sampai 18 bambu, kurang lebih jika sudah kering dijemur 8 sampai 10 kilo,” jelasnya.

Sementara di Kecamatan Teluk Dalam, perbatang bisa mencapai 15 bambu. Meski demikian petani tidak memanennya karena anjloknya harga, selain itu butuh waktu sampai 5 hari untuk bisa dikeringkan itupun jika cuaca panas. “Jika cuaca tidak mendukung cengkeh akan kurang bagus sehingga nilai jualnya turun,” jelasya. [MAG MJC: Asranuddin]