BLANGKEJEREN – Menanam kopi jenis arabika atau kopi gayo di Kabupaten Gayo Lues kian menjanjikan ditengah merosotnya prekonomian warga, bayangkan saja, harga gabah kopi terus mengalami naik setiap Minggunya.
Salah seorang petani kopi di Blangkejeren, Win Cak, Senin, 15 September 2025, mengatakan pada Bulan Mai tahun 2025 yang lalu, harga jual gabah kopi yang dibeli agen penampung Rp 50 ribu per bambu, kemudian pada Bulan Juni naik menjadi Rp 52 ribu per bambu.
“Pada bulan Juli dan Agustus naik lagi menjadi Rp 53 ribu per bambu. Dan di Minggu pertama bulan September tahun 2025, harga gabah kopi naik menjadi Rp 55 ribu per bambu,” katanya.
Di Minggu kedua bulan September tahun 2025, harga gabah kopi naik signifikan, harga yang dibeli toke sebelumnya Rp 55 ribu naik lagi Rp 3 Ribu.
“Kemarin kami jual gabah kopi ke salah satu toke di Porang Rp 58 Ribu per bambu, itu yang kualitas super atau bersih, sedangkan yang kualitas rendah atau gabah kopinya tidak bersih itu harganya di bawah Rp 58 ribu,” katanya.
Melonjaknya harga gabah kopi di Kabupaten Gayo Lues karena banyaknya permintaan dari luar daerah dan dari Luar Negeri, sehingga banyak agen-agen penampung rela membeli gabah kopi dengan harga yang mahal untuk memenuhi pesanan.
“Selain itu cita rasa kopi asal Gayo Lues ini sangat enak dan sangat digemari warga luar, karena kebanyakan kopi asal Gayo Lues masih alami,” ujarnya.
Buah kopi Arabika di Kabupaten Gayo Lues tahun 2025 ini juga diperkirakan lebih sedikit dari tahun sebelumnya, hal itu disebabkan faktor cuaca Kemarau yang terjadi pada Bulan Juli dan bulan Agustus tahun 2025.
“Mudah-mudahan harga terus membaik, sehingga petani di Kabupaten Gayo Lues semakin sejahtera,” katanya.[]





