BLANGKEJEREN – Komunitas Petani Kopi Kabupaten Gayo Lues menggelar silaturahmi dengan Bupati dan Wakil Bupati Gayo Lues di kebun kopi Mursidi, Desa Akang Siwah, Kecamatan Blangpegayon, Minggu, 14 September 2025.

Ketua Komunitas Petani Kopi Gayo Lues Kaiman, mengatakan Pemerintah Daerah harus merubah setrategi untuk membantu masyarakat yang mau menanam kopi, jangan sampai yang pernah gagal terulang kembali.

“Kami meminta kepada Bupati agar jangan memberikan bibit bantuan kepada petani, tetapi berilah benih dan polibex saja supaya masyarakat yang menyemai dikebun sendiri,” katanya.

Sedangkan yang dibutuhkan petani kopi yang sudah berbuah kata Kaiman adalah pembinaan agar hasil panen melimpah, bantuan mesin pemotong rumput, bantuan Semprot, dan bantuan pupuk.

Pengawas Komunitas Petani Kopi Gayo Lues H. Thalib, mengatakan komunitas ini dibentuk dengan tujuan petani kopi bisa saling bersilaturahmi, berbagi ilmu dan saling memberi informasi terkait harga jual kopi.

“Saat ini kurang lebih luas perkebunan kopi di Gayo Lues Tujuh Ribu Hektare, sebagian besarnya kopi Arabika, dan selebihnya Robusta,” katanya.

Untuk itu, H. Thalib menekankan kepada Bupati dan Wakil Bupati Gayo Lues agar membuat Peraturan Bupati (Pergub) terkait ritribusi kopi yang dibawa keluar daerah untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), dengan besaran Rp 250 per Kg kopi yang dibawa ke luar daerah.

Bupati Gayo Lues Suhaidi, S.Pd, M.SI., didampinggi Wakil Bupati H. Maliki, mengaku senang dengan keberadaan Komunitas Petani Kopi Gayo Lues, karena dengan adanya komunitas ini bisa memotifasi warga untuk berkebun kopi.

“Perlu kami sampaikan bahwa saat ini hasil produksi kopi di Gayo Lues masih sangat sedikit, dan masih perlu kita kembangkan agar produksi bisa terus meningkat,” katanya.

Pemerintah Daerah sendiri menjadikan kopi sebagai program unggulan, dengan target Tiga Ribu Hektar kebun bisa bertambah selama Tiga tahun kedepan.

“Untuk PAD dari kopi dan yang lainya sudah kami rembukan, karena dari awal kami menjabat, kami sudah membentuk tim peningkatan PAD,” ujarnya.

Bupati berharap jagan ada lagi lahan kosong di Gayo Lues, bagi warga yang tidak mau menanam, Pemda sepakat akan mendatangi pemiliknya dan melakukan gotong royong dikebun warga tersebut.

Selain itu, petani kopi juga meminta kepada Bupati agar meningkatakan jalan perkebunan, mengawasi atau mengumpulkan dana CSR kopi, dan mengawasi pupuk subsidi yang dijual diatas Harga Eceran Tertinggi (HET) dikios pengecer Gayo Lues, seperti pupuk Urea dan Phonska yang harga HETnya Rp 115 Ribu per Sak malah dijual pedangan Rp 150 ribu per Sak.[]