Oleh: Taufik Sentana*
Kebahagiaan hanya diukur lewat
pengertian dan penghayatan kita
terhadap apa yang kita yakini.
Keyakinan itu bisa berupa prinsip dan nilai nilai hidup, norma dan konsep konsep. Bila semakin tinggi nilai baik dari keyakinan kita, tinggi pula
kebahagiaan yang akan capai. Bahkan bahagia itu akan melampaui bahagia dunia yang semu.
Nyatalah bagi kita bahwa, harga kebahagiaan hanya ditempuh dalam
semangat pengabdian dan pengorbanan.
Pada mulanya, ia seakan melepas semua kesenangan dan kepentingan
normal yang lazim dinikmati kebanyakan orang.
Tapi harga kebahagian melampaui semua penilaian dan pengukuran orang orang. Variabel pengertian, penghayatan dan prinsip prinsip yang diyakini hanya jendela kecil untuk mengenal harga kebahagiaan tadi.
Demikian mungkin catatan kecil kita
untuk sang guru “besar”, Zaki (alm): Menembus hutan, perseteruan antarsuku, kekurangan pangan, kesulitan transportasi dan harga yang melambung. Serta keluarga di kampung yang juga dalam kekurangan.
Guru Zaki merelakan waktu dan kehidupan terbaiknya tertunaikan dalam upaya menghadirkan masa depan anak anak terpencil di Nabire.
Saat semua kita terkesima dengan kebahagiaan metropolis, tersihir iklan iklan gaya hidup dan menyangka kita telah sukses dan bahagia.
Selamat Jalan, Tgk Zaki
Semoga Allah Meridhaimu.[]
*Praktisi Pendidikan Islam.




