BLANGKEJEREN – Petani di Kabupaten Gayo Lues terus memanfaatkan lahan kosong untuk menanam kopi Arabika. Maklum, harga kopi Gayo saat ini paling tinggi sepanjang sejarah.

Kabid Perkebunan Dinas Pertanian Gayo Lues, Ridwan, Jum’lat, 30 September 2022, mengatakan saat ini banyak warga Gayo Lues yang sudah sadar pentingnya menanam tanaman tua, karena bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah.

“Terutama tanaman kopi Gayo, ketika masyarakat mulai panen, maka tidak akan pernah berhenti panen setiap dua minggu sekali. Tentu keadaan ini sangat membantu ekonomi masyarakat kita,” kata Ridwan melalui telepon WhatsApp.

Ridwan menyebut harga kopi Gayo hari ini mencapai Rp51 ribu per bambu. Hampir setiap pekan, harga itu terus naik lantaran tingginya permintaan dari luar daerah dan luar negeri.

“Ada beberapa penyebab yang membuat harga kopi Gayo terus naik. Di antaranya, kopi Brazil dikabarkan gagal panen tahun ini, sehingga kebutuhan dunia akan kopi bergantung dengan hasil kopi dari Indonesia. Selain itu, kopi Gayo sudah memiliki nama di dunia dengan cita rasanya, jadi sangat tinggi permintaan. Faktor berikutnya, buah kopi tahun ini lebih sedikit dari sebelum pandemi Covid-19 dulu, sehingga ketika barang sedikit permintaan banyak, harga akan terus naik,” jelasnya.

Saat pandemi Covid-19, kata Ridwan, harga gabah kopi hanya dibeli agen penampung Rp17 ribu per bambu. Anjloknya harga itu membuat petani kurang merawat dan memupuk tanaman kopi, sehingga berakibat turunnya hasil produksi.

“Saat harga mulai membaik, petani berlomba-lomba untuk menanam, merawat dan memupuk. Jadi prediksi kita, tahun depan buah kopi akan stabil di Gayo Lues, dan terus meningkat,” ujarnya.

Saat ini, kata Ridwan, investor asing juga mulai melirik kopi Arabika Gayo Lues untuk menjalin kerja sama dengan agen penampung. Hal itu diketahui pihaknya lantaran ada agen penampung yang meminta data luas lahan dan hasil produksi per tahun dari Bidang Perkebunan untuk dikirim ke investor tersebut.

“Kalau soal kualitas kopi, investor asing sudah tahu bagaimana rasa kopi dari Gayo Lues, sekarang tinggal hasil produksi lagi, apakah kita sanggup memenuhi kebutuhan mereka per tahun atau tidak. Menurut data kami, jumlah petani kopi di Gayo Lues terus meningkat setiap tahunnya, dan hasil produksi juga terus naik,” katanya.[](Anuar Syahadat)