SUBULUSSALAM – Petani kelapa sawit di Kota Subulussalam mengeluh lantaran anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) sejak tiga pekan terakhir. Dari Rp1.400 menjadi Rp1.050-Rp1.100 per kilogram di tingkat petani.

“Harga buah sawit turun drastis usai lebaran Idulfitri 1438 H. Jauh sekali anjloknya,” kata Mawardi, petani sawit di Subulussalam kepada portalsatu.com, Rabu, 19 Juli 2017.

Ia mengaku terkejut saat menjual TBS kepada agen pengumpul pascalebaran dengan harga yang sangat rendah antara Rp1.050 hingga Rp1.100 per kilogram. Sementara bulan puasa lalu harga TBS masih berkisar Rp1.400 per kilogram.

“Bagaimana nasib petani kalau harga buah sawit hanya Rp1.100 per kilogram, karena usaha ini sumber mata pencaharian selama ini,” kata Fakrizal, petani sawit lainnya menambahkan.

Anjloknya harga TBS pascalebaran di Subulussalam sangat memukul petani kelapa sawit di daerah ini. Apalagi, saat lebaran kemarin masyarakat banyak mengeluarkan biaya untuk kebutuhan puasa serta Idulfitri. 

Menurut petani, sejatinya hasil panen pascalebaran dapat digunakan untuk kebutuhan sekolah anak-anak mereka. Namun dengan harga yang anjlok membuat petani kembali kesulitan untuk menambah pendapatan ekonomi keluarga.

Padahal, sesuai keputusan tim penetap harga TBS Provinsi Aceh periode Juli 2017 sejatinya harga TBS paling rendah Rp1.121,50 per kilogram. Harga tersebut merupakan TBS kelapa sawit usia tiga tahun alias buah pasir/perdana.

Sementara untuk usia tanaman lima tahun hingga 10 tahun ke atas harga TBS di Aceh ditetapkan antara Rp1.251,35 hingga Rp1.500,32 per kilogram. Namun, harga yang ditetapkan itu kerap tidak dilaksanakan di lapangan sehingga petani kelapa sawit terus menjadi pihak dirugikan. 

Petani pun berharap harga TBS  kembali normal seperti sebelumnya mencapai titik aman yakni Rp1.500 per kilogram di tingkat petani. Mengingat kebutuhan semakin meningkat dengan suasana anak masuk sekolah dan kuliah.

“Kebutuhan meningkat, selain untuk kebutuhan sehari-hari, anak juga mau masuk sekolah,” ungkap Raidin, petani lainnya.[]