SUBULUSSALAM – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kota Subulussalam tak kunjung membaik sejak beberapa bulan terakhir. Kondisi ini menyebabkan perekonomian masyarakat, khususnya di kalangan petani sawit terlihat lesu.

Harga TBS masih bertahan pada angka Rp1.180 per kilogram di tingkat petani dari sebelumnya Rp1.280 per kilogram pada Februari lalu. Sementara pada Januari 2018 masih bertahan Rp1.500 per kilogram.

“Harga sawit masih murah, ini sudah berlangsung sejak beberapa bulan belakangan ini,” kata petani sawit, Fakri, warga Gampong Penanggalan, Kota Subulussalam, Jumat, 1 Juni 2018.

Turunnya harga TBS diawali Februari lalu dan sampai saat ini tidak kunjung membaik. Meski sempat naik pada angka Rp1.200-Rp1.300 per kilogram, kembali turun bahkan sampai Rp1.100 per kilogram di tingkat petani.

Kondisi ini menyebabkan perekonomian petani  terlihat lesu dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini berdampak luas pada kondisi perekonomian Kota Subulussalam secara umum, karena mayoritas masyarakat di sana memiliki kebun sawit sebagai komoditas unggulan.

“Karena  mayoritas usaha masyarakat bertani kebun sawit. Ketika TBS turun, otomatis berdampak pada kondisi perekonomian juga menurun,” ujar Sapriadi petani sawit lainnya.

Hal ini menyebabkan kebun petani banyak tidak terawat, sehingga produksi buah turun dari sebelumnya. Sementara hasil panen selama ini hanya cukup untuk kebutuhan dapur.

“Perawatan kebun tidak maksimal, harga pupuk mahal, harga TBS sangat murah,” keluh sejumlah petani sawit.

Para petani berharap TBS segera naik mencapai titik aman antara Rp1.500-Rp1.700 per kilogram di tingkat petani, apalagi sebentar lagi menyambut lebaran Idul Fitri 1439 H.

“Kebutuhan meningkat sejak memasuki bulan Ramadan, semoga saja TBS naik dalam beberapa hari ke depan, uangnya bisa digunakan untuk kebutuhan menyambut lebaran,” ungkap Sapriadi.[]