BANDA ACEH – Peringatan 490 Tahun (1526-2016) Hubungan Aceh Mughal serta Doa dan Samadiah untuk korban Gempa Bumi Pidie Jaya, Bireuen, dan Syuhada Perang Rohingya yang dilaksanakan Tim Peusaba dipimpin oleh Teungku Waled Rusli Ketua NU Banda Aceh, di Kuta Gunongan, Banda Aceh, Sabtu 10 Desember 2016.

Dalam sambutannya, Ketua Panitia, Teuku Farhan, mengatakan, sejarah sangat penting bagi generasi Muda Aceh. Farhan yang merupakan aktivis IT (Informasi Teknologi) positif, mengatakan, pada masa ia masih SMP dan SMA, sejarah Aceh sedikit sekali diajarkan.

Setelah pembukaan, acara diisi pembacaan Hikayat Aceh-Mughal-Turki oleh Muammar Al Farisi, mengisahkan tentang sejarah Aceh sejak Sultan Ali Mughayat Syah (1507-1530) yang bersaudara dengan Sultan Babur (1526-1530) pendiri Mughal.

Dalam hikayat itu dikisahkan, hubungan tersebut terus terpelihara dengan baik hingga Sultan Iskandar Muda dan Syah Jahan.

Dibaca juga Hikayat Sakitnya Sultan Ahmed Turki yang mencari obat salitut turab, yakni minyak tanah, dan salitutt kafur, yakni minyak kafur, untuk sakit sijuk seum (demam). Setelah mendapat obat dari Aceh, Sultan Ahmed 1 pun sembuh.

Sultan Ahmed yang terkenal itu mendirikan Mesjid Biru, Syah Jahan mendirikan Taj Mahal. Dan dihikayatkan, Gunongan menara berpermata didirikan oleh Sultan Iskandar Muda untuk istri tercinta Putri Pahang.

Setelah pembacaan hikayat, acara dilengkapi dengan penuturan sejarah Aceh oleh Abu Raman Kaoy, Wakil Ketua MAA Aceh, dan tausiyah oleh Abu Hasan Basri, Sekjen Forsimas.

Di dalam siaran pers, seorang panitia, Mawardi Usman, menyebutkan, peserta antusias mengikuti acara Peringatan 490 Tahun Aceh-Mughal tersebut.[]