ADA perayaan khusus yang dibuat Kerajaan Thailand untuk anak-anak di negara itu. Namanya Hari Wandek (Hari Budak/Anak). Perayaan ini ditetapkan Kerajaan Thailand pada Sabtu minggu kedua pada bulan Januari. Salah seorang gadis Aceh, Al Mukarramah, yang saat ini menjadi pengajar Bahasa Melayu di Pattani di Thailand Selatan menceritakan tentang momen Hari Wandek.

“Pada hari tersebut, sekolah-sekolah Kerajaan (pemerintah/negeri) setingkat SD akan terlihat semarak, biasanya pihak sekolah selalu membagikan hadiah untuk semua siswanya. Namun ada hadiah-hadiah besar yang akan diberikan secara acak kepada beberapa siswa melalui penarikan nama yang tertulis dalam secarik kertas kecil,” ujar alumni FISIP Unsyiah ini saat berbincang dengan portalsatu.com melalui media sosial beberapa hari lalu.

Dara kelahiran Banda Aceh, 25 September 1992 ini mengatakan, anak-anak terlihat begitu antusias dan ada yang harap-harap cemas menanti namanya dipanggil. Melihat hadiah seperti bed cover (Toto), kipas angin dan sepeda membuat hati mereka riang membayangkan jika saja ia bisa memboyong pulang salah satunya.

Tidak hanya siswa yang terpanggil namanya saja, semua siswa juga akan mendapatkan hadiahnya masing-masing, karena para siswa ini sudah mengumpulkan uang sebesar 40 baht, kurang lebih Rp 15.000.

Al merupakan pengajar di Sekolah Dasar Tadika (sekolah berbasis agama untuk anak usia 5-12 tahun). Al mengajarkan anak-anak memahami Bahasa Melayu dan tulisan rumi, karena mayoritas maysarakat Thailand hanya mampu menulis dengan tulisan jawi dan tulisan siam (tulisan dengan huruf Thailand).

Berdasarkan latar belakang dari kegiatannya, Al mendapatkan kesempatan menajdi pengajar di Thailand Selatan, Pattani. Al Mukarramah juga merupakan pengajar di Turun Tangan Aceh, yaitu gagasan dari Indonesia Mengajar.

Tulisan jawi adalah tulisan yang dibentuk dari rangkaian huruf hijaiyah seperti tulisan dalam kitab-kitab, sedangkan tulisan rumi merupakan tulisan yang dirangkai berdasarkan huruf abjad seperti tulisan yang kita gunakan saat ini.

Pecinta kuliner ini juga menuturkan, untuk menghubungkan aktivitasnya dengan warga Thailand, Al berusaha untuk fokus pada kata-kata mereka. Beberapa kata-kata yang sering diucapkan, Al adopsi sebagai kosakata untuk pendekatan pada warga kampung itu sendiri.

“Terkadang ada juga bahasa mereka yang sama dengan Bahasa Aceh, jadi saya sering mengajak mereka untuk bertukar bahasa dan mengajari Bahasa Melayu agar mereka terbiasa dengan bahasa tengahnya,” ujar Al, anak dari pasangan Nasrun dan Nurmala.[] (ihn)