Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata haru biru? Saya menduga, Anda akan mengartikan kata itu dengan suatu kejadian yang membuat sedih dan menyayat hati. Media massa, baik lokal maupun nasional, daring atau cetak, secara berjamaan mengartikan haru biru dengan konsep yang sama seperti disebutkan di atas.
Sebut saja misalnya bintang.com. Media ini pernah menulis berita yang bertajuk Haru Biru, Netizen Kenang 12 Tahun Tsunami Aceh. Substansi berita di media tersebut adalah luapan kesedihan orang Aceh akibat tsunami yang menimpa mereka.
Detik.com juga menggunakan kata haru biru dengan maksud yang sama seperti pada tajuk beritanya Haru Biru, Curhat Istri Polisi Pemutilasi Bayinya kepada Keluarga.
Mungkin kita terpaku dengan kata haru yang artinya berdekatan dengan sedih itu meski tidak tepat benar, dan biru yang juga berkonotasi sedih. Kemudian, kita menggunakannya untuk melukiskan suatu peristiwa tanpa kerusuhan.
Lantas, benarkah haru biru berarti suatu kejadian yang membuat sedih dan menyayat hati? Untuk menjawab hal ini, kita perlu merujuk kembali kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi IV.
Dalam kamus itu disebutkan bahwa haru biru berarti kerusuhan; keributan; kekacauan; huru-hara. Tidak ditemukan pada kata tersebut kata haru biru yang berarti kesedihan atau suatu kejadian yang membuat sedih dan menyayat hati. Kata ini dapat digunakan bila diimbuhkan imbuhan me-, me-kan, atau ter- sehingga menjadi mengharu biru mengacau atau membuat rusuh; mengharubirukan mengacaukan, menimbulkan kerusuhan, mengacaubalaukan; terharu biru terkacaukan.
Maka, kalimat Pikirannya terharu biru oleh peristiwa yang baru dialaminya, berarti pikirannya terkacaukan oleh peristiwa yang baru dialaminya. Begitu juga untuk kedua tajuk berita di atas. Haru biru untuk kedua tajuk berita di atas tidak tepat digunakan jika yang dimaksud haru biru adalah kesedihan sebab haru biru sesungguhnya bermakna kekacauan, keributan, kerusuhan.
Nah, cek lagi penggunaan haru biru dalam artikel Anda. Sudah tepatkah Anda memakainya?[]

