“Saya ingin mengubah wajah olahraga Indonesia bahwa olahraga itu bisa menjadi sebuah profesi yang terhormat dalam masyarakat Indonesia,” kata Hasani Abdulgani dalam sebuah wawancara dengan wartawan dari tabloid ternama di Indonesia, 2009 silam.

***

FINAL Piala Jenderal Sudirman akan digelar di Stadion Utama Gelora Bungkarno, Jakarta Pusat, besok malam (Minggu, 24 Januari 2016, malam). Turnamen sepakbola bergengsi itu mencapai sukses—kini tinggal menunggu pertandingan final—di bawah komando Hasani Abdulgani. Ya, Hasani adalah ketua panitia event kelas kakap itu. Sebelumnya, Hasani telah pula merengkuh hasil gemilang dari penyelenggaraan Piala Presiden, penghujung 2015. Dua turnamen top itu diselenggarakan PT Mahaka Sport and Entertaiment. Di perusahaan tersebut, Hasani menjabat chief executive officer (CEO) atau direktur utama.

Hasani, 53 tahun, merupakan putra Aceh. Ayahnya Abdulgani Husen dan ibunya Cut Aisyah Arun. Ia sudah berkalang tahun menekuni dunia olahraga. Bukan atlet, ia jurnalis/wartawan Tabloid Bola. Lantas, bagaimana ceritanya? 

“Sekitar tahun 1990-an, saya bertemu dengan seorang wartawan Tabloid Bola di New York. Ketika itu, saya bilang ke wartawan itu kalau saya juga suka menulis. Terus, wartawan itu bilang agar saya mengirimkan tulisan,” ujar Hasani dalam sebuah wawawancara dengan Edwin Yusman F, wartawan Tabloid Nova, dilansir tabloidnova.com, 26 Juni 2009, dan kemudian disiarkan kompas.com, 27 Juni 2009.

“Kemudian, ketika saya berlibur dengan keluarga di kawasan Philadelphia, saya ketahui Riddick Bowe sedang latihan tinju menjelang pertandingannya mempertahankan gelar juara dunia. Saya mulai mencari-cari informasi keberadaan Riddick Bowe,” kata putra bungsu dari 11 bersaudara ini.

Hasani kemudian menemukan tempat latihan petinju kelas dunia itu.  Dalam suasana hatinya teramat senang, ia lantas mencari cara untuk bisa mewawancarai Riddick Bowe. “Lupa deh sama liburan keluarga,” canda suami Cut Fatimah ini.

“Kebetulan salah satu anggota tim Riddick itu bernama Karim Muhammad. Saya kemudian menegur Karim dengan salam sesuai agama Islam. Saya katakan keinginan saya itu dan ternyata bisa dibantu untuk menemui Riddick Bowe. Saya pun dapat kesempatan wawancara selama lima menit,” ujar Hasani.

Baru menjadi jurnalis, Hasani langsung mendapat kesempatan mewawancarai atlet kelas dunia, hebat bukan? Hebatnya lagi, hasil wawancara itu dimuat di rubrik laporan utama Tabloid Bola. “Usai wawancara saya kabarkan kantor di Jakarta. Langsung kantor redaksi heboh, apalagi saya dapat wawancara itu hari Jumat, bertepatan dengan deadline redaksi dan esoknya yakni Sabtu, Riddick Bowe akan bertanding mempertahankan gelar juaranya. Saya seperti dapat durian runtuh! Bisa dibayangkan, tulisan perdana seorang koresponden lepas junior bisa jadi headlinekatanya.

Hasani kemudian fokus menulis olahraga basket hingga menjadi kolomnis tabloid ternama di Indonesia itu sejak 1994 dengan kontribusi tulisannya seputar ingar-bingar kompetisi NBA. Kata dia, menembus NBA awalnya susah, dirinya kerap mendapat penolakan wawancara. Namun, Hasani pantang menyerah sampai akhirnya diterima dengan baik, dan berteman dengan para pemain NBA. Ia bahkan mendapat akses sampai ke ruang ganti pemain. “Saya benar-benar bertemu dengan para pemain NBA face to face. Saya harus bisa memisahkan saya yang wartawan dengan penggemar mereka. Yang biasanya melihat mereka hanya lewat layar televisi. Ha-ha-ha.”

Kenapa dulu memilih menjadi pewarta basket? “Waktu menulis dulu, saya memilih. Kalau saya menulis sepakbola, saingan saya KD Lisut. Saya nggak akan kelihatan. Kalau saya menulis tinju, saya harus bersaing dengan Syamsul Anwar. Tenis juga begitu. Nah penulis basket tidak ada. Komentator basket banyak. Penulis biasa ada, tapi nggak terkenal. Jadi, kami bersaing sama-sama,” ujar Hasani dalam sebuah wawancara, dilansir areamagz.com, 9 November 2012. “Sampai akhirnya muncul anggapan saya sebagai pakar basket. Ha-ha-ha”.

***

Sebelum menjadi wartawan, Hasani bekerja di sebuah restoran di Amerika Serikat. “Saya ke Amerika sebenarnya akibat frustrasi setelah usaha saya ambruk di tahun 1986. Di Amerika, saya coba memulai kembali hidup saya. Untuk menyambung hidup, apa saja saya kerjakan, yang penting halal. Mulai dari tukang cuci piring sampai kemudian jadi wartawan itu,” kata Hasani, dilansir tabloidnova.com, 26 Juni 2009.

Hasani melewati hari-hari awal tinggal di Amerika dengan menangisi nasibnya di malam hari. “Sampai kemudian saya tersadar dan mengubah jalan hidup saya. Satu yang saya pelajari adalah, untuk dihormati, kita harus bisa menghormati orang,” ujarnya.

“Ceritanya, pada suatu malam saat saya bekerja sebagai tukang cuci piring, saya dipanggil manager restoran itu untuk bergabung dengannya dan rekan-rekan lain. Dia berkata agar saya tidak perlu canggung dan merasa rendah diri. ‘Hasani, jam 10.00 pagi sampai jam 10.00 malam saya manager dan kamu tukang cuci piring. Tapi sekarang kontraknya sudah selesai, kita sama. Artinya ketika bekerja kita punya tanggung jawab masing-masing. Tapi di luar kerja, pangkat hilang’. Kalimat itu yang sampai saat ini masih saya ingat dan saya terapkan dalam mengelola usaha ini,” kata Hasani.

Hasani pernah pula bekerja sebagai resepsionis di Konjen Indonesia di New York. Dua bulan bekerja di tempat itu, ia kemudian naik pangkat sebagai staf administrasi untuk menggantikan orang yang sudah pensiun.

***

Tahun 2001,  Hasani bertemu dengan Erick Thohir (pengusaha asal Indonesia, sejak 15 Oktober 2013 resmi menjabat presiden klub Inter Milan, red) di Hotel Hilton, New York, Amerika Serikat. Setelah diskusi tiga hari, keduanya sepakat untuk membangun bisnis di bidang sports, music, dan movie di Tanah Air.

“Kami bangun perusahaan bernama Mahaka. Di antara dua bidang yang lain, kami lebih fokus pada bidang olahraga. Padahal, usaha di bidang olahraga ini di Indonesia masih menjadi sesuatu yang baru. Jalannya pun masih gelap gulita,” ujar Hasani, dilansir tabloidnova.com, 26 Juni 2009. “Benar-benar butuh perjuangan untuk membangun usaha ini. Saat itu, orang mengenal olahraga sebatas untuk keluar keringat. Belum dijadikan sumber penghasilan”.

Menurut Hasani, potensi pasar olahraga nasional ketika itu belum tergarap optimal. “Market sudah ada, medianya yang belum banyak,” ujar sarjana komunikasi lulusan City College, AS, ini, dilansir swa.co.id, 13 Februari 2012.  “Saya sendiri gak tahu kenapa Erick memilih saya,” ujar mantan kontributor Tabloid Bola di New York, AS, ini.

Kembali ke Indonesia, Hasani pun dipercaya menakhodai perusahaan yang dibentuk itu. Sejak awal Mahaka Sport Entertaiment (MSE) diposisikan sebagai perusahaan sport management, yang terdiri dari Divisi Manajemen (bisnis turnamen, program televisi dan pembinaan klub seperti Satria Muda) dan Divisi Promotor.

Berbekal pengetahuan di bidang olahraga dan pengalaman di perusahaan investasi, Hasani memulai kiprah MSE dengan menyelenggarakan beberapa turnamen pada 2002.

Turnamen pertama digelar MSE adalah kompetisi bola basket wanita, Kobanita. Sayang, Kobanita berhenti di tengah jalan karena minimnya sponsor dan jumlah penonton. Alhasil, pendapatan perusahaan menurun drastis dan hampir gulung tikar.

“Hingga tahun kedua MSE masih dinyatakan belum sehat. Kami tidak bisa menyuntik dana operasional terus-menerus. Keputusannya saat itu, jika tahun ketiga masih merugi, Erick akan menutup MSE,” ujar Hasani.

Pada 2003, Hasani ternyata mampu membalikkan keadaan. Saat itu, Star Mild—salah satu merek rokok—memintanya dibuatkan sebuah turnamen basket nasional. Tanpa pikir panjang, Hasani menyanggupinya. Ia pun merancang turnamen dengan ide-ide segarnya. Hasilnya adalah Star MildCrushbone Basketball, yakni kompetisi basket 3-on-3 yang ditargetkan untuk kalangan mahasiswa.

Crushbone berhasil digelar di belasan kota dengan kontrak selama tiga tahun. “Padahal, Erick sempat pesimistis,” ujarnya. “Dari Crushbone inilah kepercayaan diri saya muncul”. Erick pun mengurungkan niatnya menutup MSE. Apalagi, sesudah melihat pertumbuhan bisnis MSE: setelah tahun keempat naik rata-rata 30 persen.

“Masyarakat mulai bisa mengapresiasi olahraga, itu juga setelah kami coba menggabungkan olahraga dengan musik sebagai entertainment alias sportainment. Sportainment pertama kami adalah Crush Bone. Yaitu bermain basket three on three dalam kerangkeng besi di tahun 2004,” kata dia, dilansir tabloidnova.com, 26 Juni 2009.

Tahun 2009, MSE melebarkan sayap bisnisnya dengan menjadi promotor musik. Alasannya, saat itu ada stagnasi di dunia olahraga. Musisi yang didatangkan MSE antara lain Avril Lavigne, Slash dan Pussycat Dolls. Untuk membawa para musisi tersebut, MSE merogoh kocek US$ 200 ribu-US$ 500 ribu per artis.

Laga LA Galaxy versus Tim Nasional Indonesia juga memberi pemasukan untuk perusahaan. Untuk mendatangkan klub asal Negeri Abang Sam tersebut, MSE menggelontorkan US$ 2 juta. “Meski tidak untung-untung amat, nama kami jadi lebih besar dan dipercaya hingga belahan dunia,” ujar Hasani, dilansir swa.co.id, 13 Februari 2012.

Hasani mengaku proses mendatangkan klub-klub besar bukanlah perkara mudah. “Siapa yang menawar paling tinggi, maka dialah yang dapat,” kata ayah dua anak ini.

Karena mahal biayanya agar tetap bisa mendatangkan keuntungan, MSE menggelar program Meet and Greet dan Coaching Clinic. “LA Galaxy sangat puas dengan service kami. Kata direkturnya, pelayanan kami yang terbaik dari beberapa negara,” ujar Hasani bangga.

Menjawab wartawan Tabloid Nova soal harapan terbesarnya dalam karier, Hasani yang juga pernah sales representative Manchester United (MU) di Indonesia, mengatakan, “Saya ingin mengubah wajah olahraga Indonesia bahwa olahraga itu bisa menjadi sebuah profesi yang terhormat dalam masyarakat Indonesia”.

***

Hasani bersama Mahaka/MSE bukan hanya sukses menggelar turnamen Piala Presiden (2015) dan Piala Jenderal Sudirman (2015-2016). Sebelumnya, ia berhasil mendatangkan ikon modis di dunia sepak bola David Beckham dan timnya, LA Galaxy ke Indonesia pada November 2011.

Hasani melalui bendera MSE pernah pula menggelar beberapa turnamen besar dengan nilai kontrak Rp4-5 miliar per tahun, yakni Danone Nation Club, Djarum LA Streetball, dan Pop Mie Basketball.

“Di Indonesia bisa dibilang kami tidak punya lawan,” kata Hasani, dilansir swa.co.id, 13 Februari 2012. “Lawan kami adalah Pro Team Malaysia, Total Sport Hongkong, hingga ESPN dan Star Sport,” ujarnya.

Menjawab pertanyaan wartawan, apakah ada skill khusus yang miliki dalam mengelola MSE, Hasani mengatakan, alasan ia pulang saya ke Indonesia sederhana saja. Kata dia, di Indonesia banyak orang pintar, yang kurang orang jujur.

“Soal skill beda-beda tipis. Soal pengalaman saya punya pengalaman bekerja di berbagai perusahaan waktu di luar—Amerika Serikat. Waktu saya presentasi kepada klien saya jujur. Itu saja kelebihannya. Kejujuran itu yang saya pertahankan sampai sekarang, tanpa mengurangi kualitas. Kami terbuka dengan klien. Dan, nggak berhenti belajar tentunya. Harus berani berinovasi meski pasti ada risiko. Waktu saya memulai ini semua, orang meremehkan saya, tapi begitu sekarang berjalan semua ikutan,” kata Hasani, dilansir areamagz.com, 9 November 2012.

Soal bagaimana Mahaka Sport/MSE menawarkan event ke masyarakat, Hasani mengatakan, trademark usahanya adalah “melahirkan yang baru”. Kata dia, MSE lebih tertantang mengerjakan suatu hal yang baru. “Bila berhasil kami bangga. Ada juga program-program yang kita buat ternyata tidak disambut masyarakat. Dan, berkat konsistensi dan keberhasilan menggelar program-program yang menarik itulah, sampai akhirnya Mahaka selalu diidentikkan dengan basket”.

Begitu juga dengan streetball, dari yang nggak dikenal, kini menjadi top of mind di masyarakat. Kalau mendengar kata streetball ya, L.A. Lights. Ha-ha-ha.  Kita harus terus berinovasi. Selera market kami berkembang. Makanya kami harus selalu berinovasi untuk bisa selalu memenuhi selera market,” ujar Hasani.

Hasani menambahkan, sejujurnya ia masih punya cita-cita tentang industri olahraga di Indonesia. “Karena menurut saya, industri ini lebih besar dari hasil bumi kita, apalagi dengan jumlah penduduk kita yang besar. Hasilnya mungkin tidak kita nikmati sekarang, tapi paling tidak kita sudah membuka jalan menuju ke sana. Barangkali baru berjalan ketika kita sudah tak ada”.

Ada pula pertanyaan “ringan” dari wartawan; Apa makanan kesenangan Hasani? “Saya nggak terlalu suka makan sebenarnya, tapi kalau sudah disodori masakan Aceh, itu saya hobi. Asal nggak pakai ganja, ya. He-he-he”.

Dikutip dari swa.co.id, Erick Thohir menyebut Hasani adalah sosok yang bisa dipercaya, pekerja keras, serta mau terjun ke lapangan dan berbaur dengan karyawan. “Tak sulit bagi kami untuk menyatukan ide dan konsep. Kami sama-sama klik,” ujarnya.

***

Mengandalkan kejujuran tanpa mengurangi kualitas, terbuka, tak berhenti belajar, dan berani berinovasi meski harus menghadapi risiko “jatuh bangun” hingga berjaya di industri olahraga Tanah Air. Itulah darah Aceh bernama Hasani Abdulgani. Bagaimana dengan Anda?[] (idg)