BANDA ACEH – Banyak generasi muda Aceh diperkirakan tak kenal Prof. Ali Hasjmy. Bilapun kenal cuma sebatas sebagai mantan Gubemur Aceh masa jabatan 1957 1964. Ali Hasjmy menjabat Gubermur pasca-pemberontakan Daud Beureueh.

“Ali Hasjmy bukan hanya seorang politisi atau birokrat, beliau juga penulis, penyair dan budayawan serta ulama,” ungkap dosen Sejarah dan Politik IAIN Langsa, Muhammad Alkaf kepada portalsatu.com, 18 Februari 2019.

Hasjmy pascapensiun aktif mengelola Pustaka Ali Hasjmy sambil terus menulis sampai akhir hayat. Ia juga tercatat salah satu tokoh pujangga baru Indonesia.

“Pustaka dengan 15 ribu koleksi buku beralamat Jalan Jenderal Sudirman, Geucue, Banda Aceh, kini memprihatinkan. 'Hidup segan mati tak mau'. Walau dibuka tiap pagi tapi tidak lagi menjadi epicentrum kebudayaan dan intelektual seperti di masa lalu. Kini sepi kunjungan dan kekayaan koleksi tidak menjadi ajang belajar bagi intelektual Aceh,” ungkap Alkaf yang juga kerabat Ali Hasjmy.

Walaupun di Aceh 'dilupakan', banyak anak didik Ali Hasjmy di luar Aceh masih terus mengingat tokoh perdamaian Aceh ini. “Salah satunya Prof. Siti Zainon Ismail, budayawan Malaysia, melalui Galeri Melora besok, Selasa, 19 Februari, akan mengadakan pra MoU Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dengan Pustaka Ali Hasjmy serta Badan Arsip dan Pustaka Aceh,” jelas Alkaf turut diundang menghadiri acara itu di Kuala Lumpur.

“MoU ini nanti menjadi titik awal revitalisasi karya-karya Ali Hasjmy. Sungguh bangsa lain lebih peduli khazanah budaya dan keilmuan kita,” ungkap pria yang mengklaim dirinya Hasyimian.

Alkaf berharap ke depan Pustaka Ali Hasjmy kembali menjadi salah satu pusat budaya dan intelektual Aceh. “Literatur di sana lumayan lengkap, dan tentu saja sangat Aceh minded. Ini akan sangat membantu memformulasi ulang khazanah intelektual Aceh baru.” 

“Jangan sampai kekayaan ini malah jadi sumber daya kebudayaan orang lain, karena kita lupa merawatnya,” tegas Alkaf.[]