ACEH UTARA – Center for Information of Sumatra Pasai Heritage (Cisah) menggelar acara buka puasa bersama dan menyantuni 60 anak yatim saat memperingati Haul ke-747 tahun wafatnya Sultan Al-Malik Ash-Shalih (Ramadan 696-1443 Hijriah), di Kompleks Makam Sultan Malikussaleh (Al-Malik Ash-Shalih) di Desa Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, Ahad, 17 April 2022, sore.

Dalam kegiatan tersebut, Cisah juga memberikan penghargaan kepada Kepala Perhubungan Kodam Iskandar Muda (Kahubdam IM), Kolonel Chb. Jun Hisatur Mastra. Penghargaan itu sebagai bentuk apresiasi kepada Kahubdam IM bersama pasukannya yang selama tahun 2021-2022 mengadakan kegiatan “Jumat Bersih” secara rutin untuk membersihkan dan menata kembali cukup banyak batu nisan yang sudah terbenam dalam tanah di kompleks-kompleks pemakaman tinggalan sejarah di Aceh.

“Batu nisan adalah bukti sejarah otentik (sehingga perlu dirawat dan dilestarikan/dipugar dengan baik). Nisan menunjukkan kedudukan orang yang dimakamkan. Kalau kitab, uang, gampang dibuat palsu, tapi nisan tidak bisa dipalsukan,” kata Kahubdam IM saat menyampaikan sambutan dengan tema “Sekelumit perjalanan aksi penyelamatan situs cagar budaya di Aceh dan pesan singkat kepada stakeholder di Kabupaten Aceh Utara” pada peringatan Haul Sultan Al-Malik Ash-Shalih tersebut.

Kegiatan tersebut diawali salat Ashar berjemaah, dilanjutkan samadiyah dan doa bersama dipimpin Tgk. Taufikur Rahmi Nurdin. Setelah itu, Wakil Ketua Cisah, Sukarna Putra, memaparkan tentang kepribadian dan sifat ketokohan Sultan Al-Malik Ash-Shalih.

Seusai penyerahan santunan kepada 60 anak yatim dan buka puasa bersama, lalu salat Magrib berjemaah. Kegiatan itu dihadiri berbagai kalangan termasuk unsur Muspika Samudera, pihak Baitul Mal Aceh Utara, sejumlah kepala sekolah, dan masyarakat sekitar.

Ketua Cisah, Abdul Hamid, mengatakan pihaknya memperingati Haul Sultan Al-Malik Ash-Shalih secara rutin sejak tahun 2018. Dia menyebut kegiatan ini salah satu bentuk edukasi kepada masyarakat termasuk generasi muda Aceh tentang sosok Sultan Al-Malik sebagai peletak fondasi Kerajaan Islam Samudra (Sumatra) Pasai. Sang Sultan merupakan orang pertama yang menyebarkan agama Islam di Nusantara hingga Asia Tenggara.

“Mungkin sebagian masyarakat belum tahu di mana makam Sultan Al-Malik Ash-Shalih, atau belum mengetahui tentang kiprah beliau pada masa lampau. Dalam kegiatan ini kita memaparkan sosok dan kepribadian sang sultan agar menjadi contoh teladan kepada masyarakat terutama generasi penerus bangsa,” kata Abdul Hamid akrab disapa Abel Pasai kepada wartawan.

Wakil Ketua Cisah, Sukarna Putra, mengatakan Sultan Malik Ash-Shalih merupakan pemimpin pertama dalam perpolitikan Islam tertinggi untuk kawasan Asia Tenggara yang bergelar sultan. Sultan Al-Malik Ash-Shalih memiliki beberapa keistimewaan dalam masa kepemimpinannya sebagai founding father, peletak fondasi dasar dalam memangku dakwah untuk kawasan Asia Tenggara yang luas, dengan kepribadiaannya tersebut dan terus diikuti penerusnya.

Sukarna Putra memaparkan beberapa sifat yang melekat pada sosok Sultan Al-Malik Ash-Shalih yang terekam pada batu nisan bagian selatan pusaranya. Yakni, At-Taqiy (yang bertakwa), An-Nashih (pemberi nasihat), Al-Hasib (yang berasal dari keturunan terhormat), An-Nasib (yang terkenal), Al-‘Abid (ahli ibadah), dan Al-Fatih (sang pembebas).

Menurut Sukarna Putra, pembebasan yang dilakukan Al-Malik Ash-Shalih, dan realita dari perjuangan beliau berabad silam dapat disaksikan sekarang adalah berdirinya negara-negara baru di kawasan Asia Tenggara. Salah satunya Indonesia hari ini sebagai negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia, dan mazhab Syafi’i merupakan fikih yang menjadi acuan hukumnya.[]