Oleh: Taufik Sentana*

Menjadi miskin tentu bukan cita cita setiap orang. Pun, miskin dalam pandangan manusia belum tentu miskin dalam pandangan Allah SWT. Miskin bisa saja sebagai “mata rantai” sosial yang dengannya mesti terjalin hubungan saling memberi dan berbagi. Bisa pula ia bagian dari akumulasi sistemik dari pranata yang buruk, ketidakadilan dan distribusi kesejahteraan yang tidak merata.
Namun setiap keadaan memuat hikmahnya sendiri. Sebagaimana kekayaan yang tidak menjamin kebahagiaan dan ketaatan, kemiskinan juga berpeluang memperoleh bahagia dan taat dengan cara yang berbeda.
Seakan mensinayalir tentang rapuhnya kelompok ini, Nabi Mulia ingin dimasukkan ke dalam kelompok orang miskin: agar kita tidak abai dan agar kita selalu rendah hati.

Adapun dalam beramal salih, hendaknya seorang yang dipandang miskin, tetap bisa beramal dengan nilai yang “lebih” dibanding dengan si kaya. Terutama dalam hal sedekah dalam keadaan sempit dan kesusahan. Oleh karena sifat si miskin yang mendahulukan orang lain ini pula diturunkan sepotong ayat kepada Baginda, saat sang sahabat yang miskin bersedia menjamu tamu di rumahnya, padahal ia sendiri kekurangan dan hanya tersedia menu untuk anak kecilnya (yang kemudian dia tidurkan). Dengan sikap ini Allah menurunkan ayat tentangnya, begitulah nilai sedekahnya di mata Allah.

Demikian pula dengan keadaan kita sekarang, seorang yang hanya memiliki dua ekor ayam  akan lebih mudah memberikan seekornya untuk guru atau kiyainya. Itu berarti 50% dari harta (ayamnya tadi). Tentu akan sulit posisinya bila ia memiliki dua ekor lembu Limosin, apakah ia sanggup memberikan seekornya untuk sang guru?.
Atau dalam kasus lain, seorang yang meminjamkan uangnya Rp 50ribu untuk keperluan temannya yang mendesak, sementara ia sendiri membutuhkan uang itu untuk  keperluan hariannya. Ini sangat dramatis.Disinilah nilainya di sisi Allah.
Halnya berbeda dengan orang kaya yang bersedekah 500 ribu, sementara dalam pandangannya itu adalah hal yang kecil dan tak ada pengaruhnya dengan kebutuhan hariannya. Dalam kasus ini, tentu lebih hebat sedekahnya orang miskin di atas tadi.

Maka kita selalu dianjurkan untuk beramal/bersedekah, baik dalam sempit atau lapang. Keduanya akan dinilai secara adil oleh Allah dengan kualitas niat dan pengharapan kita masing masing.[]

*Peminat literasi sosial dan dakwah.
Sebagian isi tulisan dikutip bebas dari kanal Gus Baha.