Malam nisfu Syakban, kita dianjurkan untuk mengisinya dengan bermacam amal ibadah yang berorientasi dan  berinvestasi untuk akhirat, dibingkai dalam mencari keridhaan Ilahi. Di antara amalan tersebut yaitu:

Berzikir

Realisasi zikir itu dilakukan dengan banyak cara. Ada dengan lidah, mengingati Allah SWT dengan hati, dengan ucapan atau ingatan yang mempersucikan Allah dan membersihkan-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak untuk-Nya.

Anjuran berzikir ini disebutkan oleh Allah dengan firman-Nya: “Wahai orang yang beriman, sebutlah akan Allah dengan sebutan yang banyak”.

Firman-Nya lagi: “Sebutlah (zikir) akan Allah dengan sebutan yang banyak semoga kamu mendapat kemenangan”.

Rasulullah SAW menjelaskan zikir mengingati Allah SWT termasuk dalam amalan mulia dan berkedudukan tinggi. Sabda Baginda SAW: “Hendakkah aku khabarkan kepada kamu amalan yang paling baik dan paling suci di sisi Pemilik kamu dan yang paling tinggi pada darjat kamu dan lebih baik daripada emas dan perak dan lebih baik daripada kamu membunuh musuh kamu atau dia membunuh kamu di medan jihad?”

Sahabat bertanya: “Apakah dia wahai Rasulullah?”

Baginda SAW menyatakan: “Zikrullah”.

Fadhilah dan kelebihan zikir itu sangat banyak. Seseorang dengan berzikir mengingat Allah sebanyak-banyaknya akan menghasilkan hati mutmainnah (tenang dan tenteram). Penejelsan ini sebagaimana terungkap dalam firman-Nya, “Orang yang beriman dan tetap hati mereka dengan menyebut akan Allah, ketahuilah bahawasanya dengan menyebut akan Allah itu menenangkan hati”.

Bertaubat (beristigfar)

Dalam bulan Syakban terutama malam nisfu Syakban juga digalakkan untuk bertaubat dan memohon keampunan atas dosa dan keterlanjuran kita, baik dosa yang berkaitan dengan Allah maupun anak Adam.

Esensi taubat itu merupakan sebagai bentuk pembersihan rohani karena dengan taubat itu menjadi suatu anjuran dan tuntutan dalam agama supaya setiap diri individu bukanlah sosok yang ma‘shum seperti hal Rasulullah.

Maka sangat layak dan patut untuk terus melakukan taubat dan istigfar pada setiap waktu dan kesempatan. Dalam hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW: “Sya’aban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan umatku. Sya’aban ialah mengkifaratkan (menghapuskan) dosa dan Ramadhan ialah mensucikan dosa (jasmani dan rohani)”. Sementara itu dari Ibn ‘Abbas, Rasulullah SAW bersabda: “Sesiapa yang selalu memohon ampun (membanyakkan istighfar), niscaya Allah menjadikan untuknya setiap kesusahan itu ada kesenangan, setiap kesempitan ada jalan keluar dan dia diberi rezeki yang tidak disangka”.(HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibn Majah)

Berselawat

Ibadah lainnya berselawat kepada Nabi Muhammad SAW adalah salah satu bukti kecintaan seseorang itu kepada Allah SWT, dan Rasulullah selain mengerjakan segala perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.

Firman Allah berbunyi: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu kepadanya dan ucaplah salam penghormatan kepadanya”. (Surah Al-Ahzab: 56)

Memperkuat argumen di atas, dikutip dari kitab al-Fawaaidul Mukhtaarah Diceritakan bahwa Ibnu Abiy as-Shoif al-Yamaniy berkata, “Sesungguhnya bulan Sya’ban adalah bulan shalawat kepada Nabi SAW, karena ayat Innallaaha wa malaaikatahuu yushalluuna ‘alan Nabiy… diturunkan pada bulan itu”. (Ma Dza Fiy Sya’bann)

Berdoa

Salah satu ibadah yang tidak kalah pentingnya berdoa. Doa diibaratkan kita sebagai tanda makhluk yang lemah dan menyadari diri manusia tidak mampu untuk menunaikan segala keperluan hidup. Penegasan ini diungkap dalam firman-Nya, berbunyi: “Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu mengenai Aku, maka (jawablah), bahawasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia memohon kepadaku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. al-Baqarah, 186)

Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda: “Lima waktu tidak ditolak sesuatu doa itu yaitu pada malam Jumat, malam 10 Muharam, malam Nisfu Sya’aban, malam Aidilfitri dan malam Aidiladha.” (Riwayat Bukhari, Muslim dan Abdullah Umar.)

Memperkuat pernyataan di atas, Baginda Rasulullah bersabda: “Pada tiap malam, Rabb kita turun ke langit dunia ketika bersisa sepertiga malam yang akhir. Maka Allah berfirman: Sesiapa yang berdoa kepada-Ku, pasti akan Kukabulkan, dan siapa yang memohon kepada-Ku, pasti akan Kuberi, dan siapa yang mohon ampun kepada-Ku pasti akan Aku ampuni.” (Riwayat Malik, Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

Menghidupkan malam (berqiamullail)

Menghidupkan malam (berqiamullail), sunah menghidupkan malam 15 Syakban dengan membaca zikir dan Alquran, kerana malam tersebut adalah malam yang amat mustajab dan penuh rahmat.

Disebutkan dari Muaz bin Jabal dan Abu Musa Al-Asy’ari r.a., bahwa Rasulullah telah bersabda: “Sesungguhnya Allah pada malam nishfu Sya’ban memerhati (mengawasi) seluruh mahluk-Nya dan mengampuni semuanya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan”. (Riwayat Ibnu Majah, Ibn Habban, Al-Baihaqi dan At-Thabarani)

Dalam hadis lain juga diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib bahwa Rasulullah bersabda: “Jika malam nishfu Sya’ban tiba, maka shalatlah di malam hari, dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah matahari terbenam, Allah turun ke langit dunia dan berkata, ‘Adakah yang beristighfar kepada-Ku, lalu Aku mengampuninya, adakah yang memohon rezeki, lalu Aku memberinya rezeki , adakah yang tertimpa bala’, lalu Aku menyelamatkannya, demikian seterusnya hingga terbitnya fajar”. (Riwayat Ibnu Majah).

Masih banyak lagi ibadah yang dianjurkan termasuk puasa, shalat sunah, baik tasbih dan lainnya. Intinya kita pergunakan waktu dan kesempatan di bulan ini baik malam dan hari nisfu Syakban serta hari lainnya dengan memperbanyak amal ibadah dan terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dan tetap menjalin serta menjaga ukhuwah sesama dalam menggapai mardatillah.

Wallahu muwaffiq wa musta'an.[]