Betapa ruginya mereka yang hidup satu zaman dan daerah dengan Rasulullah SAW, tetapi justru memusuhi agama Islam. Hal itulah yang terjadi pada diri Abu Jahal.

Saat sedang sujud, Rasulullah SAW dilempari kotoran oleh Abu Jahal dan komplotannya. Setelah Fathimah binti Muhammad SAW menyingkirkan benda najis itu dari kepala ayahandanya, beliau SAW berdoa, “Ya Allah, kepada Engkaulah aku menyerahkan Abu Jahal bin Hisyam, Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Walid bin Utbah, Uqbah bin Abi Mua’ith, Umayyah bin Khalaf, dan Amarah bin Walid.”

Semua orang yang disebut dalam doa itu akhirnya menemui ajal di Perang Badar. Perang itu terjadi sesudah hijrahnya Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari Makkah ke Madinah.

Cerita matinya Abu Jahal dapat dilihat dari riwayat salah seorang sahabat Nabi SAW, Abdurrahman bin Auf. Seperti dirangkum dalam Ringkasan Shahih Muslim tulisan M Nashiruddin al-Albani, waktu itu Abdurrahman sedang berhenti di tengah barisan pasukan Muslimin. Tiba-tiba, dia dihampiri seorang pemuda dari kalangan Anshar (penduduk asli Madinah). Namanya, Mu’adz bin Afra.

“Wahai paman, apakah paman mengenal Abu Jahal?” tanya pemuda usia 16 tahun itu.

“Ya, kenal. Tetapi, ada keperluan apa kamu dengannya?”

“Saya mendengar Abu Jahal selalu memaki-maki Rasulullah SAW selama di Makkah. Demi Allah Yang menguasai diriku. Kalau saya melihatnya (Abu Jahal), tidak akan berpisah sebelum salah satu dari kami mati terlebih dahulu!” tegas Mu’adz.

Abdurrahman bin Auf terkesan dengan kata-kata pemuda itu. Tidak lama berselang, datang pemuda lainnya yang juga dari Anshar. Dia merupakan adik dari Mu’adz, yakni Mu’awwidz bin Afra.

“Wahai paman, apakah paman tahu Abu Jahal?” tanya Mu’awwidz kepada Abdurrahman.

“Ya, dan apa keperluanmu dengannya?”

“Saya mendengar Abu Jahal selalu bersikap keras terhadap Rasulullah SAW di Makkah. Demi Allah, saya ingin membunuhnya,” jawab sang adik usia 15 tahun itu.

Sekonyong-konyong, Abdurrahman melihat sosok Abu Jahal di kejauhan. Dia dapat memastikan itulah sang musuh Allah, walaupun Abu Jahal saat itu tampil dengan balutan baju besi di seluruh tubuhnya kecuali mata dan sebagian wajah.

“Itu Abu Jahal!” seru Abdurrahman bin Auf sambil menunjuk orang yang dimaksud.

Seketika, dua pemuda tadi melesat maju, bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya. Padahal, Abu Jahal sedang di atas kuda dan di depannya ada 10 lapis pasukan dengan persenjataan lengkap.

Dengan cekatan, Mu’awwidz menerjang pasukan musyrikin itu untuk dapat menebas Abu Jahal. Sebelum akhirnya gugur, dia dapat melukai paha Abu Jahal dengan sayatan yang dalam dan parah.

Abu Jahal secara ironis digelari Abul Hakam oleh musyrikin Quraisy

Profil Abu Jahal

Adapun kakaknya, Mu’adz bin Afra, juga berhasil menyayat dalam paha Abu Jahal. Namun, tebasan pedang ‘Ikrimah bin Abu Jahal (waktu itu belum masuk Islam) nyaris memutus tangan kiri Mu’adz. Untuk sementara, dia pun keluar dari deru pertempuran.

Pemuda itu lalu menginjak sisa tangan kirinya dan membuangnya, karena merasa tangan itu mengganggu konsentrasinya mengejar Abu Jahal. Akhirnya, Mu’adz syahid di medan pertempuran, mengikuti adiknya yang lebih dahulu gugur.

Bagaimanapun, keduanya amat berjasa. Abu Jahal tidak bisa bertahan lama akibat luka parah pada pahanya; luka yang ditinggalkan kakak-beradik yang telah syahid itu.

Meski di ambang maut, Abu Jahal tetap saja menghina kaum Muslimin. Menjelang akhir Perang Badar, Abdullah bin Mas’ud berhasil melumpuhkan Abu Jahal dan memenggal kepala pemuka Quraisy itu.

Profil Abu Jahal

Nama aslinya adalah Amr bin Hisyam bin Mughirah. Asalnya dari suku Makhzum. Awal mula dia disebut sebagai “biang kebodohan” (Abu Jahal) merujuk pada beberapa riwayat.

Sebelum masyhur dengan gelar “Abu Jahal”, sebutannya adalah Abul Hakam yang bermakna “sosok bijaksana.” Di antara riwayat tentangnya yang sering dikutip di sirah nabawiyah sebagai berikut.

Nabi Muhammad SAW memiliki kebiasaan untuk mengadakan majelis pada malam hari di rumahnya atau salah seorang sahabat.Suatu malam, Rasulullah SAW sedang membaca Alquran di rumah beliau SAW. Diam-diam, Amr bin Hisyam datang mendekati rumah tersebut untuk mendengarkan apa-apa yang dibaca Nabi Muhammad SAW. Dia tahan melakukan perbuatan itu sampai menjelang subuh.

Ternyata, hal yang sama juga dilakukan dua sahabat karibnya, yakni Abu Sufyan dan al-Akhnas bin Syuraiq. Mereka tentu saja kaget berjumpa satu sama lain di dekat rumah Nabi SAW, yang adalah musuh bersama. Mereka malu, sehingga memutuskan untuk beranjak pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Namun, kejadian yang sama terjadi tiga malam berturut-turut. Ketiganya merasa masing-masing harus menjelaskan alasannya menguping Rasulullah SAW yang membaca Alquran setiap malam di rumah.

Keesokan paginya, al-Akhnas mendatangi Abu Sufyan di kediamannya.“Wahai Abu Hanzhalah (panggilan untuk Abu Sufyan), katakan kepadaku bagaimana pendapatmu tentang apa-apa yang telah engkau dengan dari Muhammad?” tanya dia.

Kejamnya Abu Jahal

“Wahai Abu Tsa’labah (panggilan untuk al-Akhnas), demi Allah sesungguhnya aku telah mendengar perkataan yang pernah aku dengar serta aku pahami maksudnya. Di samping itu, aku telah mendengar perkataan yang aku sendiri belum pernah mendengarnya serta tidak paham maksudnya,” jawab Abu Sufyan.

Maksudnya, ada beberapa dari ayat Alquran yang dibacakan Nabi SAW yang dipahaminya, tetapi sebagian yang lain kurang dipahaminya.

“Demi Tuhan, saya juga begitu,” timpal al-Akhnas.

Si tamu lalu pamit, untuk kemudian mendatangi rumah Abu Jahal.

“Wahai Abul Hakam, bagaimana pendapat engkau tentang apa yang engkau dengar dari perkataan-perkataan Muhammad?” tanya dia.

“Kami Bani Umayyah dan Bani Abdul Manaf saling berebut kehormatan. Kalau mereka mampu memberi makan orang-orang fakir, maka kami juga mampu melakukannya. Kalau mereka mampu memikul beban, maka kami juga mampu. Kalau mereka mampu menyantuni orang-orang miskin, maka kami juga mampu. Bahkan, kami sama-sama duduk di atas kuda tunggangan untuk berperang, sehingga antara kami dan mereka setara dalam kemuliaan,” jawab Abu Jahal dengan nada ketus.

“Tetapi sekarang dari mereka terdapat seorang nabi! Kapan dari kabilahku akan menyamai kedudukan mulia itu!?” serunya lagi.

Nyatalah bahwa Amr bin Hisyam bin Mughirah tahu betul bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Namun, fanatisme kesukuan telah membutakan mata hatinya.

Sejak mengetahui hal itu, Rasulullah SAW menyebutnya sebagai Abu Jahal. Sebab, pemuka musyrikin itu telah menukar keimanan dengan kesombongan duniawi yang semu.

Riwayat lainnya menyebut, Amr bin Hisyam digelari Abu Jahal lantaran kekejamannya terhadap kaum Muslimin Makkah, terutama dari golongan anak-anak, perempuan, dan budak.

Sebagai contoh, dia menusuk Sumaiyyah binti Khabbat pada kemaluannya dengan tombak. Sebelumnya, perempuan pemberani itu disiksa dengan cara dijemur di atas padang pasir yang terik. Penyiksanya tidak lain Abu Jahal dan komplotannya.

Kekejian itu terjadi sebelum masa hijrah ke Madinah. Ibunda Ammar bin Yasir tercatat sebagai salah satu syahid pada masa permulaan Islam.[]Sumber:republika