Tiada persiapan terbaik bagi suatu generasi atau bangsa kecuali lewat pendidikan. Pendidikan merangkum semua nilai dan komponen urgen bagi perbaikan dan kelanjutan masyarakatnya. Bila kontaminasi nilai dalam struktur masyarakat semakin akut dan menjalar, maka sangat sulit mengharapkan kemajuan dalam kehidupan masyarakat tersebut. Kontaminasi yang penulis maksud adalah, pergeseran nilai di tengah masyarakat, menjamurnya budaya pop (instan) dan rendahnya kontrol sosial dalam strukruk masyarakat kita yang terbuka tapi abai.
Bila kita percaya pada poin di atas, dengan menjadikan pendidikan sebagai lokomotif pembangunan masyarakat yang vital, maka sejatinya setiap elemen masyarakat itu pun memperhatikan dampak yang mungkin timbul bagi kemajuan pendidikan. Baik dampak dari perilaku cuek kita, lewat kebiasaan membuang sampah di jalan raya, intrik dan kepentingan politik atau kesenjangan antarpranata pendidikan (rumah- lembaga sekolah-lingkungan sekitar).
Usaha pemerintah yang berusaha mensejajarkan pendidikan kita dengan pola negara maju, dengan segala perangkat dan instrumen kurikuler serta falsafahnya, hanya menjadi bahan prosedural belaka (atau bahkan beban) bila iklim kultural kita belum melirik pada perlunya kolaborasi pendidikan dan perlunya integrasi bagi tercapainya tujuan pendidikan.
Maka di poin ini, kita perlu melakukan ” Hijrah Pendidikan” dengan, misalnya, memperbaiki kesenjangan antarpranata pendidikan. Menitik-beratkan pengembangan potensi siswa secara riil daripada memaksakannya berhasil/kompeten dalam satu masa tertentu. Bahkan pendidikan kita mesti bisa mengantisipasi berkembangnya orientasi materialisme bagi setiap lulusan (khususnya) perguruan tinggi.
Sejalan dengan itu, kita juga perlu memperkuat kontrol sosial bagi program pendidikan, artinya setiap komponen masyarakat mengambil peran dalam mendorong iklim pendidikan, baik dari segi pergaulan dan interaksi, dukungan dan kerjasama yang melibatkan banyak pihak, baik personal ataupun lembaga pemerintah dan perusahaan.[]
Taufik Sentana
Praktisi pendidikan Islam
Bergiat sejak 1996. Mengembangkan program seminar untuk personal dan komunitas. Kini menetap di Aceh Barat.


