Pemerintah Aceh telah mengambil sikap meliburkan aktivitas belajar mengajar untuk mengantisipasi  penularan virus corona baru atau Covid-19. Terhitung 16-29 Maret.

Langkah sama diikuti Pemerintah Kota Banda Aceh yang turut menutup tempat-tempat wisata dari kunjungan publik. Antara lain PLTD Apung, Kapal di Atas Rumah di Lampulo, Museum Tsunami, kawasan wisata bahari, serta taman-taman yang sering dikunjungi publik di kota madya tersebut.

Sebagai tempat di mana banyak orang sering berkumpul dan berinteraksi, mungkinkah otoritas terkait akan memberlakukan hal yang sama dengan menginstruksikan pemilik warung kopi atau kafe di Aceh untuk libur sementara waktu?

Kasi Penyakit Menular Dinas Kesehatan Aceh, dr. Irman punya jawaban atas pertanyaan tersebut.

Kendati tidak menampik jika tempat-tempat keramaian seperti warung kopi berpotensi mempermudah sebaran wabah Covid-19, namun pihaknya belum membahas kemungkinan penutupan warung kopi untuk sementara waktu.

“Belum ke situ, pembicaraan untuk sementara masih meliburkan sekolah-sekolah, itu yang sudah ditetapkan untuk sementara,” jawab dr. Irman, kepada portalsatu.com, Senin.

Sementara itu, pasca-pemberitaan sejumlah orang suspect Covid-19 dirawat di RSUZA Banda Aceh yang belakangan dilaporkan negatif corona, aktivitas warung kopi di Kota Banda Aceh terpantau tidak banyak mengalami perubahan. Pengunjung salah satu warung di Kecamatan Kuta Alam bahkan masih membludak seperti biasa, kendati ada satu pengunjung terlihat menggantungkan masker di lehernya.[]