SUBULUSSALAM – Di sela – sela agenda dan kesibukannya di beberapa kemeterian, Wali Kota Subulussalam Haji Rasyid Bancin (HRB) menyempatkan diri berkunjung ke Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayutullah Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2026.
Kenjungan orang nomor satu di Kota Subulussalam ke Universitas Islam tersebut, untuk berdiskusi dan bersilaturahmi dengan Prof. Oman Fathurrahman, seorang pakar filologi, yang selama ini konsen meneliti karya-karya ulama besar Aceh khususnya Syekh Abdurrauf As-Singkil dan Syekh Hamzah Fansuri.
HRB mengatakan, pertemuan ini membuka kembali ingatan petapa besarnya posisi Aceh dalam sejarah peradaban Islam Nusantara. Pada masanya, Aceh menjadi salah satu pusat keilmuan Islam menjadi rujukan para ulama dari berbagai wilayah.
Dengan pengaruhnya menjangkau patani (Wilayah melayu di Thailand Selatan yang meliputi Provinsi Pattani, Yala, Narathiwat, dan sebagian Songkhlai). Kemudian wilayah jawa, kalimantan, Sulawesi hingga di Filipina.
Disebutkan HRB, Syekh Abdurrauf As-Singkili menjadi salah satu mata rantai penting dalam jaringan keilmuan tersebut. Demikian pula Syekh Hamzah Fansuri, ulama sekaligus pujangga besar yang pemikiran dan karya-karyanya hingga hari ini masih menjadi objek penelitian para ilmuwan dari dalam maupun luar negeri.
Yang menjadi perhatian adalah kekayaan manuskrip Nusantara yang luar biasa. Puluhan ribu manuskrip tersimpan di berbagai tempat, termasuk di Leiden, Belanda, sementara sebagian manuskrip Aceh juga masih tersimpan di tanah kelahirannya. Ini merupakan warisan intelektual yang harus kita jaga, teliti, digitalisasi, dan perkenalkan kepada generasi muda.
Sebagai Wali Kota Subulussalam, HRB memiliki tekad untuk menjadikan Hamzah Fansuri sebagai ikon intelektual dan kebudayaan Kota Subulussalam. “Kita ingin Subulussalam tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena warisan pemikiran, sastra, tasawuf dan peradaban yang lahir dari tanah ini,” ucap HRB.
Karena itu, Penerintah Kota Subulussalam terus mendorong upaya pengusulan Syekh Hamzah Fansuri sebagai Pahlawan Nasional, sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi penelitian dan pengkajian karya-karyanya.
“Ke depan, saya juga berkeinginan menghadirkn Kongres Internasional Hamzah Fansuri di Subulussalam, dengan mempertemukan para akademisi, filolog, sastrawan, sejarawan dan peneliti tasawuf dari dalam maupun luar negeri,” pungkasnya.[]



