Minggu, Juli 14, 2024

Tanggapan Ketua DPRK Aceh...

ACEH UTARA - Mendagri Tito Karnavian memperpanjang masa jabatan Pj. Bupati Aceh Utara...

Selamat! 2 Siswa Kota...

SUBULUSSALAM - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Balai Pengembangan Talenta...

Besok, Mahyuzar akan Terima...

ACEH UTARA - Dr. Mahyuzar, M.Si., akan menerima Surat Keputusan (SK) Mendagri tentang...

Jabatan Pj Bupati Aceh...

ACEH UTARA - Masa jabatan Penjabat Bupati Aceh Utara, Dr. Mahyuzar, genap satu...
BerandaHukum Aqiqah

Hukum Aqiqah

Salah satu anjuran kepada orang tua atau wali adalah melakukan akikah untuk anak. Para ulama meyebutkan, akikah menurut bahasa berarti rambut di kepala bayi yang baru lahir. Dalam arti yang lain, akikah adalah memotong. Adapun menurut istilah syara’, akikah adalah hewan yang disembelih pada hari pencukuran rambut bayi yang baru lahir.

Ada pula yang mendefinisikan sebagai penyembelihan kambing karena kelahiran seorang bayi. Dan, masih banyak lagi definisi lain, yang pada intinya semua definisi itu mencakup dua unsur pokok, yaitu penyembelihan hewan dan dilakukan karena kelahiran seorang bayi. (Wahbah Zuhaili, Fiqih Imam Syafi’i (terjemah), jilid 1, hlm. 575, Jakarta: almahira, 2010; Fiqih Islam wa Adillatuhu (terjemah), Jilid 4, hlm. 295, Jakarta: Gema Insani, 2011)

Hukum Akikah

Mayoritas ulama ahli fikih menyimpulkan hukum akikah adalah: pertama, sunah, bukan wajib. Bahkan menurut ulama Syafi’iyah, seandainya bayi itu meninggal sebelum berusia tujuh hari, akikah tetap sunah dilakukan. Kedua, menurut ulama Hanafiyah, hukumnya adalah mubah (dilaksanakan tidak dapat pahala, ditinggal pun tidak berdosa). Ketiga, ada juga yang mengatakan wajib, yakni pendapat Imam Hasan Al-Bashri dan Imam al-Laitsy.

Dasar Hukum Akikah

Ada banyak dalil yang bisa dijadikan pijakan disunahkannya akikah, di antaranya adalah beberapa hadis berikut: Setiap anak digadaikan dengan aqiqahnya, yang disembelih untuknya pada hari ke-7 dari kelahirannya, dicukur rambutnya, dan diberi nama” (H.R. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah; dishahihkan oleh Tirmidzi).

Dalam hadis yang lain juga disebutkan berbunyi: Dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW memerintahkan mereka agar beraqiqah dua ekor kambing yang sepadan (cukup umur) untuk bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan.(Hadis shahih riwayat Tirmidzi.)

Berapa ekor yang harus dilakukan untuk anak laki-laki dan perempuan itu dijelaskan dalam hadis berikut dengan bunyinya: Barangsiapa di antara kalian ingin beribadah tentang anaknya, hendaklah dilakukannya; untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sama umurnya dan untuk anak perempuan seekor kambing.” (H.R. Ahmad, Abu Daud, dan Nasai).[]

Baca juga: