SUATU hari, Si Lamsyah, anak cerdas yang sering telat makan karena sibuk bermain atau berkreasi. Makanan bukan sesuatu yang menarik baginya. Karenanya ia menderita penyakit lambung.
Pada suatu ketika ia sakit lambungnya parah, dan harus dibawa ke dokter. Sampai di rumah sakit, ia pingsan. Dokter menyuntiknya dan menginfus. Begitu terjaga, Lamsyah santai saja. Ia tidak takut pada jarum suntik, bukan seperti kebanyakan anak lain.
Lamsyah: Saya sakit apa dan mengapa?
Dokter: Kamu sakit mag atau lambung karena jarang makan atau tidak selalu makan di waktu yang seharusnya dia makan makanan pokok.
Setelah satu kantung infus habis, setelah hari berlalu, Lamsyah diizinkan pulang.
Dokter: (menyerahkan sekantung obat-obatan pada Lamsyah).
Lamsyah: (Ketakutan, mulai menangis) Bu dokter, untuk apa ini?
Dokter: Ini obat. Untuk mengobati lambungmu yang sakit karena kamu kurang makan.
Lamsyah: BU dokter, apakah obat perlu, apa bisa menyembuhkan?
Dokter: Obat ini untuk mengurangi sakit dan menyembuhkan perutmu jika kamu makan tepat waktu.
Lamsyah: BU doker, apakah obat ini hanya mampu menyembuhkan jika saya makan tepat waktu?
Dokter: Ya benar, nak.
Lamsyah: Bu dokter, apakah kalau saya makan tepat waktu tidak akan sakit perut.
Dokter: ya, benar.
Lamsyah: Bu dokter, kalau begitu, jika saya makan tepat waktu, bukankah obat ini tidak diperlukan?
Dokter: (Berpikir. Bingung, merasa ada yang aneh)
Lamsyah: (merebut kantung obat dan melemparkannya ke dinding)
Seketika itu dokter dan ibu si Lamsyah terkejut.
Ibu Lamsyah: (menggigit gerahang dan berbicara halus tapi berat kepada anaknya).
Lamsyah: (masih ketakutan): Bu, dokter ini menipu kita.
Ibu Lamsyah: Kamu harus hati-hati bicara, dokter ini baru saja menolongmu.
Lamsyah: (berlari ke pintu raungan, dan berteriak): Bu, dokter ini menipu kita tentang obat. Tapi benar tentang makan tepat waktu.
Lamsyah: (Menangis, menarik lengan ibunya, mengajak pulang seraya melihat dokter) Saya tidak mau obat itu, saya akan makan tepat waktu!
Lamsyah takut meminum obat-obatan berbentuk pil dan kapsul. Phobia itu deritanya setelah pada suatu hari beberapa tahun lalu, ia menelan dua genggam permen berbentuk pil dan kapsul sekaligus. Ia tersedak, hampir pingsan, lalu muntah sampai mengeluarkan cairan hijau dan kuning.
Humor ini karangan Thayeb Loh Angen

