Oleh Siti Masyitah*

Kring … Kring ….

Bel tanda istirahat di sekolah putri berbunyi. Kedua sahabat, Putri dan Ainun baru saja kembali dari kantin. Putri lantas mengajak Ainun duduk di kelas atas di lantai dua. 

Sekolah mereka digabung antara SMP dengan SMA. Ruang kelas SMP terdapat di lantai bawah, sedangkan SMA lantai atas. Mereka duduk di kelas tiga.

Putri dan Ainun baru kelas dua SMP. Tiba-tiba saat mereka sedang menikmati jajanan terdengar suara gesekan kursi, padahal pada jam istirahat semua siswa SMA tidak ada di lantai atas.

Ainun penuh curiga mendengar suara gesekan kursi tersebut dan nekat untuk melihatnya di ruang kelas satu. Ainun melihat seorang anak perempuan sedang duduk sendiri. Ainun merasa takut dan memberi tahu Putri. Putri pun merasa takut dan mengira kalau Ainun sedang bercanda, sehingga ia diminta untuk melihat sendiri oleh Ainun. Akhirnya Putri pergi melihat dan benar saja, ia melihat seseorang sedang duduk membelakanginya.

“Ainun, aku takut. Kamu tahu itu siapa?” suara Putri bergetar karena ketakutan.

“Enggak. Siapa sih? Oh, kayaknya itu Kak Dila, deh.” Ainun jadi bingung dan curiga.

“Bukan, Kak Dila sedang di perpustakaan,” jawab Putri lagi sambil menyantap bakso bakar.

Ainun kembali diliputi rasa penasaran dan ingin tahu, serta mengapa ada orang di sana saat jam istirahat. Ainun pun pergi melihat sekali lagi dan ternyata yang duduk itu adalah adik kelasnya, Dina. Ainun terkejut dan segera berlari menemui Putri.

“Put … Put …. sini deh! Benar itu bukan Kak Dila, tapi itu si Dina. Dia serem kali seperti orang kerasukan, aku takut, Put.”

Ainun lari ngos-ngosan sambil menunjuk ke kelas satu. Putri memeluk Ainun.

“Serius, Nun? Nun … dia keluar … a… a…” Putri melihat Dina keluar kelas.

Ainun dan Putri berpelukan erat, sementara Dina semakin dekat dengan mereka. Putri menarik tangan Ainun dan segera berlari turun ke bawah.

Di pintu kelas Dina, mereka berpapasan dengan temannya Dina yang bernama Risa.

“Eh, Risa, Dina ada masalah atau apa gitu?” tanya Putri pada Risa.

“Enggak, Kak. Memangnya kenapa?” Risa malah bertanya balik.

“Enggak ada apa-apa,” jawab Putri, sambil melanjutkan omongannya pada Ainun, “Nun, Dia enggak ada masalah. Jangan-jangan dia kesurupan lagi? Soalnya kemarin dia kan pernah kesurupan,” kata Putri pada Ainun. 

“Oh ya, Put, itu dia turun, lari, yuk!” Ainun baru ingat dan dia melihat Dina turun, lalu keduanya berlari menjauh.

Pada siang hari, Ainun dan Putri pergi mengaji ke rumah Ustaz Ahmad. Tiba-tiba terdengar suara Dina berteriak-teriak di depan rumah Ustaz Ahmad, lalu muncul Ustazah Kemala dan berlari mengejar Dina yang sedang mengamuk. Saat Ustazah Kemala sedang mengeluarkan jin dari tubuh Dina, terlihat dia melotot ke arah Ainun.

“Istirahatlah sana. Dia tidak akan mengganggumu lagi,” ujar Ustaz Ahmad sambil menekan kepala Dina.

Pengajian mereka hari ini diliburkan selama dua hari. Ainun akan menceritakan kisahnya.

“Nabil, kita dalam dua hari ini enggak ada ngaji, ya. Diliburkan oleh ustaz,” ujarku pada Nabil yang tadi tidak pergi mengaji.

“Iya. Nun, apa ustaz menanyakan aku?”

“Enggak sih. Emm… aku pulang dulu, ya,” kataku lagi pada Nabil sambil pamit pulang. Aku dan Putri memikirkan keadaan Dina.

Beberapa minggu kemudian. Putri mengajakku ikut lomba puisi di balai kota, tapi mentalku kurang untuk ikut tampil. Kemudian ada Salma juga yang ikut lomba balas pantun, jadi Putri bersedia ikut lomba baca puisi.

Saat pertandingan itu, aku pun ikut lomba drama. Dalam penampilan ini malah dramaku yang memperoleh piala juara terbaik, sedangkan Salma dan Putri mendapatkan piala sebagai juara favorit.

“Ih… Ainun, dramamu tadi serem, ya? Ada penculikan gadis lagi,” ujar Nabil.

“Iya sih. Eh, Nabil enggak ikut?” tanyaku.

“Enggak. Nabil sedang ikut final bola di kampung sebelah dua hari lagi, jadi kami akan latihan terus. Doakan ya semoga menang.”

“Amin.”

Nabil tampak bersemangat.

Tiga minggu kemudian aku dan Putri tidur di rumah Salma. Memang rumah ini sudah dua tahun tidak dihuni dan sejak beberapa bulan lalu Salma mulai tinggal di sini.

Tut…. ponsel Putri berbunyi. Rupanya Nabil yang menelepon.

“Halo, ada apa Nabil?”

“Kamu di mana sekarang?”

“Aku dan Ainun tidur di rumah Salma, kenapa Bil?”

“Enggak takut?”

“Kenapa harus takut,” Putri jadi bingung dengan pertanyaan Nabil.

“Rumah itu sudah lama ditinggal jadi saran aku kamu sekarang pulang. Cari alasan yang dapat dipercaya,” kata Nabil lagi.

“Enggak mungkin, Bil. Ini sudah pukul 23.35 WIB, mana mungkin kami berani pulang.”

“Kamu suruh jemput sama ayahmu gimana?” Nabil berusaha memberikan solusi.

“Enggak, ayahku capek dan pasti sudah tidur. Sudah dulu, ya. Kami tidur dulu, assalamualaikum.”

“Tapi…” kata-kata Nabil terputus karena Putri sudah duluan menutup teleponnya.

Saat pukul 00.00 WIB, Putri terbangun karena mendengar suara orang berjalan. Suara yang aneh, hingga bunyi tetesan air di kamar mandi.

“Putri …” terdengar suara yang sangat halus. Teringat pada Nabil, Putri pun mengirimkan pesan ke Nabil.

“Nabil, tolong aku, aku takut.”

“Belum tidur? Minta tolong apa?”

“Bil, aku dengar suara yang aneh dan aku lihat ada darah berceceran di lantai dari cermin Salma. Jemput aku sekarang Nabil, aku mohon,” Putri sangat ketakutan.

“Kan, sudah aku bilang tadi tapi enggak percaya. Enggak mungkin lagi aku jemput kamu, aku enggak diizinkan keuar rumah. Kamu kan tahu Put, batas aku di luar sampai pukul sepuluh malam.” Nabil jadi pusing sendiri.

“Terus aku gimana?” wajah Putri pucat dan hampir menangis.

“Sudah, bangunkan saja Ainun dan Salma.”

Tangis Putri pun meledak. Ia merasa menyesal.

“Aduh, jangan menangis. Sekarang kamu baca semua surah yang kamu hafal dan tidur nyenyak ok. Semua itu akan hilang sampai matahari terbit.

Putri pun menuruti kata Nabil.

Pagi harinya Putri dan Ainun pulang. Mata Putri tampak sembab, tapi ia berdalih karena bergadang sampai malam.

Putri lantas menceritakan yang sebenarnya terjadi dan dia alami semalam pada Ainun. Mereka berjanji pada diri sendiri tidak akan main-main lagi ke rumah Salma.[]

* Penulis adalah santri kelas II MTs Dayah Baitul Arqam, Sibreh, Aceh Besar