Ikatan Masyarakat Aceh Turki (Ikamat) wilayah Trabzon bekerja sama dengan Trabzon Üniversite Gençlik Grubu (TÜGG), mengenalkan Aceh kepada mahasiswa internasional di Turki.
Ini adalah program pertama yang diselenggarakan oleh Ikamat di Propinsi Trabzon, Turki.
Seorang pembicara, mahasiswa asal Aceh yang sedang menimba ilmu di Fakultas Ilahiyat Trabzon Üniversitesi, Teuku Bustanul Firdaus, dalam materinya, mengenalkan Aceh dan Indonesia kepada masyarakat dan mahasiswa-mahasiswa international di provinsi Trabzon, Turki.
Acara yang bertemakan ‘Bütün müminler ancak kardestir (seluruh mukmin adalah saudara)’ ini dihadiri oleh ratusan masyarakat dan pelajar-pelajar international mewakili 19 negara. Sambutan hangat dan rasa antusiasme para hadirin membuat acara berjalan sukses.
Dalam memperkenal Aceh dan Indonesia, pria kelahiran Aceh Besar ini menceritakan tentang sejarah kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia, masa-masa penjajahan oleh bangsa Eropa hingga sejarah terbentuknya negara Indonesia.
Firdaus atau yang akrab disapa ‘Dek Poen’ ini juga menceritakan tentang hubungan erat antara Kesultanan Aceh Darussalam dan Turki Usmaniyah di masa dulu, di mana pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah Kesultanan Aceh pernah mengirim utusan ke Istanbul dan meminta bantuan kepada KedulKesul Usmaniyah untuk melawan bangsa Portugis, kemudian Sultan Salim II mengirim pasukan perang ke Aceh dan membantu rakyat Aceh melawan bangsa Portugis. Hal ini dibuktikan dengan adanya makam-makam pahlawan Turki yang telah syahid di Aceh.
Di masa sultan Abdul Hamid II, Aceh dan Kesultanan Turki Usmani juga bekerja sama melawan Belanda, masa itu kolonial Belanda melarang rakyat Aceh pergi haji dan memaksa rakyat Aceh menghapus lambang bulan bintang di bendera serta melarang rakyat Aceh mengucapkan kata penghormatan kepada sultan-sultan Turki Usmani disetiap penyampaian khutbah.
Selain itu Dek Poen juga menceritakan tentang peristiwa utsnami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 silam dan kebaikan masyarakat Turki yang tidak pernah melupakan saudara-saudaranya di Aceh. Sebagai salah satu korban tsunami, Dek Poen merasakan betul kebaikan dan keikhlasan masyarakat Turki dalam membantu rakyat-rakyat Aceh pasca tsunami hingga dirinya dapat melanjutkan studi ke Turki sekarang.
“Semua kebaikan orang Turki didasari iman, Turki menganggap kita rakyat Aceh sebagai saudaranya karena kita ini mukmin dan orang-orang Turki pun mukmin. Dalam Alquran Allah berfirman ‘setiap mukmin adalah saudara’. Inilah pondasi utama antara Aceh dan Turki dalam membangun hubungan yang baik,” kata anggota Ikamat tersebut.
Salah satu pelajar dari Turki bernama Mesud mengatakan bahwa ia sangat bahagia mengetahui sejarah kedekatan Turki dan Aceh dimasa dulu. Ia juga bersyukur karena pasukan Turki Usmani dan masyarakat Turki dapat membantu rakyat Aceh.
“Insya Allah rakyat Turki tidak akan melupakan saudara-saudaranya seiman, baik di Aceh dan juga di negara-negara lain. Acara perkenalan Aceh dan Indonesia ini sangat bagus, banyak ilmu sejarah yang aku dapatkan, Aceh dan Indonesia adalah saudara kami,” lanjut Mesud.
Salah satu pelajar dari Rusia juga mengutarakan rasa bahagianya setelah mengikuti acara tersebut.
“Aacara yang super, aku senang dengan orang-orang Indonesia, mereka sangat ramah. Aku harap Rusia juga dapat membangun hubungan diplomatik lebih erat lagi dengan Indonesia seperti hubungan Aceh dan Turki,” ujarnya. Terakhir, ia juga mengutarakan keinginannya berkunjung ke Indonesia.
Firdaus juga menjelaskan tentang budaya dan makanan khas Indonesia, salah satu pelajar dari Türkmenistan merasa penasaran ingin mencicipi makanan Indonesia.
Setelah mengikuti acara ini ia baru tahu ternyata di Indonesia sangat banyak pisang dan harganya murah-murah, ia juga terkejut di Indonesia pisang digoreng, di negaranya pisang sangat mahal jadi tidak ada yang digoreng.
“Aku ingin makan pisang goreng,” katanya sambil ketawa, di acara yang dilaksanakan pada Sabtu 16 Maret 2019 tersebut.
Selesai acara, Dek Poen memberikan hadiah kupiah (peci) khas Aceh kepada salah satu pelajar dari negara Kazakistan karena berhasil menjawab pertanyaan dan menjelaskan makna Bhinneka Tunggal Ika.
“Sebagai mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri, kita tidak hanya dapat meneguk ilmu-ilmu yang diajari di kampus saja, di samping itu kita juga dapat mempelajari bahasa dan budaya daerah tersebut. Dan satu hal yang sangat penting adalah kita juga dapat menjadi duta bangsa untuk memperkenalkan Aceh dan Indonesia kepada masyarakat dan mahasiswa-mahasiswa International di kota ini,” katanya.
Koordinator IKAMAT wilayah Trabzon, Rizky Fauzan, mengatakan, dengan menyelenggarakan acara begini, diharapkan dapat menjalin hubungan lebih erat lagi dengan masyarakat dan pemerintah daerah. Terlebih Aceh di mata orang-orang Turki ibarat saudara kandung, sejarah pun mencatat dari dulu masa kerajaan Usmaniyah Turki sudah menjalin hubungan diplomatik yang sangat erat dengan Aceh.
“Jadi kita sebagai mahasiswa disini juga memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga dan melanjutkan hubungan baik yang sudah terjalin ini. AAlhamdulillah acaranya berjalan sukses, para peserta pun terlihat sangat semangat dan senang. Semoga kedepan acara ini bisa terus diadakan di kota Trabzon,” ujar Rizky.[] Rilis







